Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Ancaman Ben



"Lalu, apalagi? Mana lagi yang sudah ia sentuh."


Una menggelengkan kepalanya, tapi tatapan matanya tersirat kebohongan.


"Jangan bohong padaku," sahut Ben.


"Pe-peluk, waktu aku akan jatuh dia peluk aku Bang." Wajah Ben semakin tidak bersahabat. "Aku mau bilang tapi takut," sahut Una.


"Takut apa? Apa kamu sudah tidak percaya suamimu ini bisa menyelesaikan masalah."


Una menghela nafas, "Aku takut kalau Abang marah lalu membalas dengan kekerasan," jawab Una. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Ben.


"Karena hal itu pantas ia dapatkan, tidak ada yang boleh mengganggu atau mengusik milikku. Kau tau, Aruna?"


"Apa," jawab Una.


"Terkadang pria itu lebih menyukai wanita milik orang lain, ia merasa tertantang dengan hal itu. Wanita yang tidak dengan sengaja menggoda pria atau wanita yang memperlihatkan ketidaksukaan semakin membuat pria penasaran," tutur Ben.


"Dulu, aku dengan mudah mendapatkan wanita yang rela membuka kedua kakinya tanpa diminta, tapi untuk memiliki kamu sangat sulit dan penuh perjuangan. Aku tidak ingin kehilangan kamu, sayang. Apapun yang terjadi dan membuatmu tidak nyaman, sampaikan."


"Kamu paham dengan yang aku katakan?"


"Iya," jawab Una.


Mata mereka saling menatap, "Apapun nanti yang aku lakukan pada orang itu adalah urusanku dan karena kamu tidak jujur maka harus dihukum."


Una melepaskan tangannya dari leher Ben dan bermaksud beranjak dari pangkuan Ben. Namun Ben menahan tubuh Una. Menarik tali wrap dress yang ada di pinggang dan menyingkap dress itu hingga terpangpang tubuh Una dengan pakaian dalamnya.


"Abang," ucap Una.


Ben menyambar bibir dihadapannya, dan memagutnya dengan sedikit kasar. Seperti orang yang kelaparan ia melahap bibir Una dengan melummat dan menye*sapnya.


Una terengah saat Ben melepaskan pagutannya, Ben melepaskan satu persatu penutup tubuh Una dan membaringkan tubuh itu di ranjang.


Menyapu, mencium dan menghi_sap bagian tubuh Una, menjelajahinya seakan ingin meninggalkan jejaknya diseluruh tubuh yang membuat candu. Lama bermain di dua bukit kembar Una, membuat si pemilik tubuh mendessah dan kedua tangannya meremas rambut Ben.


Lenguuhan keluar dari mulut Una saat ia mendapatkan pelepasan ketika Ben bermain di bawah tubuh Una sangat lama sampai kakinya terasa kram.


Ben kini melepas semua penutup tubuhnya lalu mengungkung tubuh Una.


"Bang, A-Bang... akhhhh," Una meracau disela-sela desa_han Ben yang bergerak cepat di atas tubuh Una. Seakan ingin menunjukan betapa liarnya Ben, dan mampu membuatnya terbang melayang-layang dan mabuk kepayang.


Setelah bermain lagi dan lagi hingga lebih dari dua jam, Una terkulai lelah dan terlelap di bawah selimut.


"Halo Bos."


"Leo, selidiki seseorang, data sudah aku kirim."


"Oke."


"Besok aku akan bertindak, pastikan semua terkendali."


"Siap."


Ben yang sudah membersihkan dirinya setelah menghubungi Leo, duduk pada sofa hanya menggunakan boxer menatap Aruna.


Kini Ben sudah berbaring menghadap Una, tangannya merapihkan rambut Una yang sedikit berantakan.


"Aku mencintaimu, sayang."


...~ *** ~...


"Abang, ini jam berapa? Kenapa kita masih di sini?" ucap Una sambil bergegas duduk saat ia membuka mata dan menyadari masih berada di kamar hotel.


Ben hanya bergumam, lalu menarik tubuh Una agar kembali rebah dalam pelukannya. "Jangan berisik, tidur atau aku tiduri."


Una memukul lengan Ben, "Badanku rasanya udah remuk." Ben tertawa dengan mata terpejam, "Makanya tidur," ucap Ben.


"Tapi, anak-anak gimana?"


Esok paginya, Una sedang berada di kamar mandi mencuci muka sambil menatap cermin yang ada di wastafel. Banyak jejak cinta yang ditinggalkan oleh Ben, Una hanya menggelengkan kepala memandangnya.


"Ya ampun Bang, kamu kenapa sih ganas banget," ujar Una sambil berdecak.


"Kita mau ke mana?" tanya Una saat Ben memgendarai mobilnya bukan menuju arah pulang. "Kita belum ganti pakaian dari kemarin," ujar Una menolah pada Ben yang sedang menyetir. Melihat wajah datar yang fokus pada jalan, Una akhirnya memilih diam.


Di jalan yang cukup sepi, Ben tiba-tiba, menepikan mobilnya di belakang dua mobil yang berhenti di pinggir Jalan. Terlihat Leo dan Ilham bersama empat orang lainnya.


"Tunggu di sini," pinta Ben pada Una. Ia keluar dari mobil tanpa mematikan mesin agar penyejuk udara tetap berfungsi.


Ben menghampir Leo dengan kedua tangan berada di saku. Entah apa yang ja bicarakan dengan Leo yang sedang merokok sambil bersandar pada mobil.


"Mereka merencanakan apa sih?"


Tidak lama kemudian Ben menghampiri pintu disebelah Una duduk.


"Pindah ke belakang," ajak Ben. Sebelum Una masuk kembali ke mobil Ben mencium bibir Una. "Kamu pulang diantar Reza."


"Abang enggak ikut pulang?" Una bertanya kembali.


"Ada hal yang harus aku selesaikan dulu.


Ben menutup pintu mobil dari luar, lalu Reza yang duduk di belakang kemudi mulai menjalankan mobil meninggalkan tempat itu.


"Za, mereka mau ke mana?" Una bertanya lagi karena belum mendapat jawaban yang jelas. Reza tidak berani menyebut tujuan mereka kalau Bosnya saja tidak memberi tahu tujuan mereka.


"Entahlah, Bu. Saya belum dapat info."


Dua mobil tadi juga meninggalkan tempat, bergerak menuju alamat tujuan.


Berhenti di sebuah rumah yang lumayan mewah. Salah satu orang turun dan minta agar security rumah itu membukakan gerbang.


Ilham, Leo dan tiga orang lainnya sudah berada di pekarangan rumah itu. Salah satu pria yang datang bersama Ben, menuju pos security. Memaksa dan memerintahkan untuk menghapus tampilan cctv.


"Maaf bapak-bapak ini mau bertemu siapa dan keperluan apa?" tabya salah satu penjaga rumah itu.


"Panggilkan Gema, suruh cepat keluar." Titah Ilham.


Cukup lama, akhirnya Gema keluar. "Maaf, ada keperluan apa? sepertinya saya tidak mengenal kalian."


"Membuat perhitungan," jawab Ben keluar dari mobil.


"Owh, Pak Ben, sungguh kejutan bisa kedatangan seorang Ben Chadra."


"Halah, banyak bacot," Leo langsung melayangkan bogem mentah ke perut Gema membuatnya langsung tersungkur.


"Bangs*t, apa-apaan ini, kalian bisa aku laporkan," ucap Gema saat ia mencoba berdiri. Ben menghampiri Gema lalu melayangkan tinjunya ke wajah Gema membuat pria itu terhuyung.


Ben menarik kerah kemeja Gema, kembali memukul wajah yang sebelumnya pernah menatap mesum pada istrinya.


"Pak, sebenarnya ini masalah apa?" tanya Gema.


"Masalah, karena kamu menggoda istriku. Istri seorang Ben Chandra. Jangan berani macam-macam denganku." Leo dan satu orang lainnya menghampiri Gema lalu memukulinya.


"Cukup," titah Ben.


"Jangan pernah main-main denganku," ujar Ben lalu kembali ke mobilnya diikuti dengan yang lain.


"Shittt," ujar Gema, "Dilarang makin gue penasaran. Auwww," pekiknya sambil menyentuh wajah yang sudah memar dan sekujur tubuh yang sakit karena dipukuli.


to be continue


lanjut silaturahmi \=\=>ig : dtyas_dtyas


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖