
"Aku mau pulang, tidak akan ganggu kerja Abang."
"Hey, jangan begitu, anak-anak nanti kecewa.
Una terdiam, "Tapi aku sudah tidak berselera untuk makan, kepala aku pusing," jawab Una.
"Kita ke ....Aruna," ucap Ben sambil merengkuh Una yang tiba-tiba semaput.
"Mamihhh," teriak Nessa.
Ben berada di depan UGD menunggu dokter memeriksa Una, sedangkan Leo berada diantara Nessa dan Nevan yang tadi sempat ikut panik saat melihat Una tidak sadar.
Ilham datang bersama Devi, Leo minta Devi mengurus si kembar. "Berantem gue ahli deh, tapi jadi baby sitter gue enggak bisa," ucap Leo.
"Kalian sudah makan ?" tanya Devi pada si kembar yang di jawab dengan gelengan kepala.
Devi mengajak Nevan dan Nessa untuk makan di kantin rumah sakit, diikuti oleh Leo.
"Cari tau kenapa Una bisa seemosi itu pada Nia," titah Ben pada Ilham. "Baik, Pak."
"Sebenarnya hasil kerja Nia baik, dia bisa ikuti arahan dan mengikuti ritme kerja kita. Tapi kalau menyebalkan apalagi membuat tidak nyaman keluarga ku lebih baik hentikan saja, atau pindah bagian saja," ungkap Ben.
"Oke," jawab Ilham.
"Keluarga pasien Aruna," panggil perawat. "Saya suaminya," sahut Ben. "Silahkan masuk Pak, Dokter akan menjelaskan hasil pemeriksaan."
Dokter sedang mencatat di catatan medis pasien saat Ben menghampirinya. Berdiri di sebelah brankar tempat Una terbaring, terlihat Una dengan wajah pucat dan mata yang terpejam dan selimut menutupi sampai dengan pinggangnya.
"Ada apa dengan istri saya Dok?" tanya Ben.
"Tidak terlalu mengkhawatirkan, kandungan gula darahnya rendah sepertinya belum ada asupan makanan sejak pagi."
"Jadi, istri saya pingsan karena belum makan?"
"Bukan hanya itu, kalau saya lihat dari rekam medis Ibu Aruna pernah keguguran," ungkap Dokter. "Mohon dijaga kondisi Ibu Aruna bukan hanya fisik tapi juga psikis, Ibu Aruna sedang hamil. Untuk lebih jelas saya rujuk untuk konsul ke Obgyn." Dokter berlalu sambil menepuk lengan Ben.
"Ha-hamil," ucap Ben lirih lalu duduk disebelah brankar Una sambil memandang lekat wajah wanita yang sangat dicintainya.
Ben mengusap punggung tangan Una, lalu menempelkan pada pipinya. "Sayang, bangun. Kamu harus makan," ucap Ben sambil mencium kening Una.
Una beringsut, kedua matanya perlahan mengerjap. Ia menatap Ben, "Apa yang kamu rasakan sayang? Mau makan sesuatu?"
"Aku kenapa? Anak-anak dimana?" Una perlahan bangun dibantu oleh Ben. "Anak-anak ada bersama Leo dan Devi, kamu tadi pingsan."
"Aku mau pulang, istirahat di rumah aja."
.
.
.
"Aku mau lihat Mamih," ucap Nessa, "aku juga," ujar Nevan.
"Mamih kalian sedang istirahat, lagian ini sudah malam, ayo kita tidur. Dewa, ibu tidur sama kamu ya," ujar Devi.
"Sebenarnya, kata dokter aku sakit apa sih? Ini obat dan vitaminnya banyak bener," ucap Una pada Ben yang baru saja meminumkan obat dan vitamin yang disarankan dokter.
"Sudah, sini rebahan lagi," ajak Ben. Una menurut lalu berbaring dengan tangan Ben sebagai sandaran kepalanya.
"Memang kenapa? Bukannya Abang suka aku tidur pakai baju tidur yang seksih, malah diminta enggak pakai baju," ledek Una.
Ben terkekeh, "Iya, tapi sementara jangan. Sampai tubuh kamu kuat."
Una bangun duduk, "Aku sakit apa sih Bang? Separah itukah, sampai pakaian aja pengaruh." Ben pun akhirnya ikut beranjang bangun dan duduk berhadapan dengan Una. "Bukan begitu sayang, tapi menjaga agar kamu tidak aku terkam. Karena kondisi kandungan kamu belum kuat," jelas Ben.
"Maksudnya?"
Ben mencium singkat bibir Una, lalu mengelus perut yang masih datar. "Kamu hamil sayang."
"A-apa, hamil? Aku hamil lagi? Abang pasti bercanda, cuma mau buat aku senang aja kan?"
"Aku serius, obat yang kamu minum tadi penguat kandungan dan vitamin. Mulai besok jangan aktivitas berat, banyak istirahat dan makan yang teratur," nasihat Ben.
Pagi ini, Una sudah berada di meja makan mengatur menu sarapan yang sudah disiapkan oleh para asisten rumah tangga.
"Mamih udah sehat?" tanya Nevan.
"Sehat, Mamih sehat kok."
"Tapi kemarin Mamih jatuh, terus di peluk Papih," ucap Nessa.
"Itu namanya pingsan," jelas Dewa.
"Aku juga mau pingsan, tapi dipeluk Arka," seru Nessa sambil tertawa.
"Sudah, habiskan sarapan kalian, Mamih enggak apa-apa kok.
"Enggak apa-apa tapi koleps," ledek Devi. Semalam ia menginap menemani anak-anak yang rewel ingin bersama Una.
"Aku berangkat," pamit Ben yang mengusap puncak kepala Una. "Abang enggak sarapan dulu."
"Enggak, aku ada janji temu pagi ini, kalian sekolah yang rajin," titahnya pada anak-anak.
Di kantor, Ilham sudah menunggu kedatangan Nia.
"Pagi Pak," sapa Nia memenuhi panggilan Ilham.
"Duduk."
Nia duduk di depan meja Ilham, saat ini belum mulai jam kerja. Bahkan Devi pun belum terlihat di ruangan itu.
"Sebenarnya ada hal apa sampai kamu berseteru dengan Ibu Aruna?" tanya Ilham pada Nia. ia sudah mengecek CCTV terlihat disitu Una seakan terprovokasi oleh Nia.
"Enggak ada Pak, dia siram wajah saya. Harusnya saya yang marah dong," jawab Nia.
"Kamu tidak usah berkilah, saya lebih percaya Ibu Aruna daripada kamu."
"Terserah Bapak deh, mau percaya atau enggak. Lagian enggak ada cocoknya dia jadi istri CEO, penampilan biasa-biasa aja," tutur Nia dengan gaya bicara sombong.
"Kamu bereskan meja kerja kamu, mulai hari ini kamu saya pindahkan ke bagian HRD, silahkan temui Pak Dimas."
"Hahh, enggak bisa begitu dong Pak. Ibu Aruna yang salah menyiram wajah saya kenapa saya malah dipindah tugaskan."
Yuhuuuuu, jejakkkkks nya Ya.
jangan lupa follow IG author yes,,