
Enjoy Reading 😊
____________
Una berbaring di ranjang pasien, dokter mengarahkan alat USG pada perut Una, menggesernya hingga tampil di layar keadaan dua janin dalam perut Una.
"Say hai, ada ayah dan bunda nih jenguk kalian," ucap dokter.
Ben fokus menatap pada layar, mengagumi kuasa Tuhan bahwa calon keturunan Ben Chandra akan lahir beberapa waktu ke depan.
"Hm, berat janinnya masih normal untuk ukuran bayi kembar."
Una bangun dibantu oleh Ben, mereka duduk di depan meja dokter, "Ada keluhan Bu?"
"Rasanya semakin sesak ya Dok," ujar Una.
"Betul Bu, karena berat yang semakin bertambah membuat ibu hamil mudah lelah, sakit punggung bahkan ada juga yang tidurnya tidak nyenyak. Jangan kaget juga kalau mulai terasa kencang atau kontraksi palsu karena itu proses menjelang persalinan."
Una menoleh pada Ben, yang dibalas dengan usapan pada punggung tangan Una yang sedang di genggam oleh Ben. Ben aktif bertanya segala hal untuk diketahui oleh mereka menjelang persalinan Una.
"Mau di operasi boleh normal juga tidak apa-apa, karena sampai saat ini masih aman untuk persiapan melahirkan normal."
Una masih terdiam saat mereka akan pulang setelah mengantri obat dan vitamin. Ben menyadari perubahan pada Una.
Sampai di rumah Una langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri, mengganti pakaiannya lalu merebahkan diri di ranjang.
Ben menyentuh telapak kaki Una memijatnya pelan, kaki Una terlihat sedikit bengkak. Una yang sedang berbaring miring terkejut karena sentuhan Ben.
"Abang."
"Hmm," sahut Ben. "Kenapa sayang?"
"Kok aku takut ya Bang," kata Una.
Ben ikut berbaring di belakang tubuh Una, lalu memeluk wanita dengan tubuh yang semakin terlihat berisi. "Takut kenapa?"
Una lalu berbalik, kini mereka berbaring saling berhadapan. "Semakin dekat waktu persalinan aku semakin takut," ujar Una.
"Bukan kah itu wajar, setiap ibu hamil akan mengkhawatirkan hal itu. Namun jangan kuatir aku akan selalu mendampingimu," jawab Ben sambil mengelus pipi Una. "Kamu mau melahirkan normal atau operasi aku akan selalu mendukung, yang penting kalian semua selamat."
"Justru itu Bang, aku takut membayangkan perut aku dibedah untuk mengeluarkan anak-anakmu tapi kalau normal katanya sakit banget, terus gimana kalau mereka rebutan mau keluar. Tadi aku mau tanya dokter tapi malu, enggak bisa ngebayangin nanti ..." Una menghentikan ucapannya karena Ben tiba-tiba terbahak
"Abang ngetawain aku?"
"Jadi ini yang buat kamu tadi tiba-tiba berubah, kamu aneh sayang. Mana ada bayi lahir berebutan, mau dia kembar 2 atau lebih mereka akan keluar satu persatu," jelas Ben namun ia kembali terkekeh.
"Abang, ihhh." Una memukul dada Ben pelan.
"Coba kamu diskusi dengan yang sudah pernah melahirkan, mungkin bisa dapat masukan atau paling tidak kamu tidak akan malu untuk bertanya dibanding dengan dokter."
"Hmm, tanya siapa ya?"
"Sahabat kamu, istrinya Vino atau kakak iparmu."
"Owh iya Meisya, Kak Rena juga. Aku sempatkan tanya mereka deh."
"Sayang, kamu belum makan loh," seru Ben.
"Malas makan, perasaan perut aku rasanya begah terus."
"Ya harus dipaksakan, kurangi karbo."
"Suapi," rengek Una. "Oke, ayo," ajak Ben.
Mereka duduk di halaman samping yang menghadap kolam renang, Ben memegang piring berisi makan siang untuk Una lalu dengan sabar menyuapi Una.
Firda yang duduk agak jauh dari posisi Una, melihat interaksi antara Ben dan Una. "So sweet banget sih mereka," ucap Firda sambil memukul-mukul lengan Leo sangking gemasnya.
"Apaan sih, kalau mau megang bilang aja. Nih pegang sepuasnya." Leo sengaja mendekatkan tubuhnya pada Firda.
"Ogah banget," cibir Firda.
"Gue juga bisa sweet kayak Bos, Fir."
"Enggak usah di bayangin, gue buktiin aja ya." Firda diam tidak menjawab sedangkan Leo tertawa, "Jangan baper Fir."
"Tau ah, sebel," lalu Firda duduk menjauh dari Leo.
"Besok-besok, kalau tugas enggak bareng gue jangan kangen ya," ujar Leo lalu berjalan meninggalkan Firda menghampiri Ben.
Entah apa yang dibicarakan Ben dan Leo, karena kemudian datang Ilham, Firda menghampiri Una lalu mengajak majikannya tersebut masuk ke dalam membiarkan para lelaki yang terlihat serius sedang berdiskusi.
"Bu, kayaknya diskusinya serius ya?"
"Iya, nanti malam ada beberapa orang lagi yang datang mau ada pembahasan apa gitu, aku enggak ngerti," jawab Una.
Malam harinya, Firda menuju kamarnya setelah menemani Una merapihkan kamar untuk calon bayinya. Tiba-tiba tangannya ada yang menarik, refleks Firda akan melepaskan pukulannya namun terhenti saat tubuhnya sudah berada dihadapan Leo. "Kenapa, mau mukul gue."
"Apaan sih, ngapain juga bikin kaget. Lepasin tangan aku," pinta Firda.
"Ingat ya pesan gue tadi siang, jangan kangen." Leo meninggalkan Firda sambil terkekeh.
"Dasar enggak jelas," ujar Firda.
Menjelang tengah malam, Ben masuk ke kamarnya. Tampak Una yang sudah bergelung di bawah selimutnya. Melepas kaosnya, Ben ikut masuk ke dalam selimut yang dipakai Una.
Sentuhan-sentuhan nakal Ben mengusik tidur Una. "Abang," ucap Una masih dengan mata yang terpejam.
Ben bermain di ceruk leher Una dan juga bahunya. Meninggalkan jejak merah di sana, Una sepertinya mulai terjaga.
"Sayang, sudah bangun?"
"Hmm, gimana enggak bangun, ada mulut yang iseng sama tangan nakal."
"Aruna, lusa aku harus ke Singapur. Perusahaan Ayah bermasalah lagi."
Una berbalik menghadap Ben, "Berapa lama? Terakhir abang ke sana empat tahun baru balik ke Jakarta."
"Kali ini enggak selama itu."
"Tapi aku sebentar lagi melahirkan Bang, aku enggak mau melahirkan kalau enggak ada Abang." Una sudah mulai terisak.
"Hey hey, jangan nangis sayang, kasihan si kembar nanti ikutan sedih. Aku akan cepat kembali, paling cepat satu minggu sudah di Jakarta."
"Aku ikut ya Bang," rengek Una.
"Kalau kamu tidak hamil pasti aku bawa Na," jawab Ben.
"Besok aku antar ke Bandung ya, kamu tinggal di sana selama aku pergi."
"Enggak mau, disini aja sampai Abang pulang," rajuk Una.
"Sayang, kamu sedang hamil besar, harus ada yang mendampingi. Aku enggak tenang kalau kamu disini."
"Kan ada Firda, Leo, si bibik sama yang lain."
"Besok aku antar ke Bandung, tidak usah debat."
Kalimat terakhir Ben sukses membuat Una gundah, ia berbalik dan menarik selimut menyelimuti tubuhnya sampai dagu dan menangis.
"Sayang, aku ___"
"Pindah, aku mau tidur sendiri. Abang pakai kamar lain."
"Enggak bisa Na, aku bakalan kangen banget sama kamu Sayang. Aku tidur di sini ya," bujuk Ben.
"Aku bilang enggak ya enggak," ucap Una masih saja menangis.
Ben menghela nafas dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung memikirkan cara membujuk Una yang sedang menangis.
__________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖