
Enjoy Reading 😊
____________
Una baru selesai memoles make up di wajahnya, lalu mengenakan dress panjang berwarna putih yang pas dan nyaman di tubuhnya dengan kondisi perut membola.
Mengenakan alas kaki yang nyaman pula di tubuhnya, karena kehamilan membuat beberapa bagian tubuh Una ukurannya berubah termasuk kakinya.
"Abang," panggil Una saat keluar dari kamarnya.
"Hmm." Ben yang duduk di sofa masih fokus pada tabletnya. "Kita berangkat sekarang atau gimana?" tanya Una lalu duduk disisi Ben.
"Sekarang." Ben masih fokus dengan tabletnya.
5 detik
10 detik
20 detik
..
2 menit
"Ini kita jadi berangkat enggak sih?"
"Oke, kita berangkat." Meletakan tabletnya lalu berdiri. Ia mengulurkan tangan pada Una, untuk membantu istrinya berdiri.
"Kenapa?" tanya Una saat melihat wajah Ben yang terlihat aneh menatap ke arahnya.
Ben berdecak, "Make up aku berantakan ? Atau rambut aku?" Una menyentuh rambutnya.
"Kamu cantik sayang, cantik banget. Tapi aku enggak rela ajak kamu keluar."
Una mengernyitkan dahinya, "Abang gimana sih, katanya kita harus datang ke pernikahan Alan dan Clara karena Ayah Clara itu masih kerabat Abang dan rekan bisnis," ujar Una.
"Enggak rela kalau kamu ditatap laki-laki di luar sana. Cukup aku saja yang menatap kamu."
"Lebay," ucap Una sambil memukul pelan dada Ben. "Ayo, nanti kemalaman malah kena macet."
Ben dan Aruna akan menghadiri resepsi pernikahan Alan dan Clara. Dikawal oleh Leo dan Firda, mereka tiba di sebuah hotel tempat berlangsungnya acara.
Saat memasuki lobby Ben menoleh pada Una yang melingkarkan tangannya di lengan Ben, "Kalau kamu berubah pikiran tentang resepsi pernikahan kita, aku masih siap."
"Hm, enggak usah Bang. Yang penting itu rumah tangga kita ke depan mau bagaimana, kalau resepsi mah cuma pesta sehari bahkan kadang hanya hitungan jam."
Memasuki ball room, tampak di panggung pelaminan pasangan yang terlihat sangat berbahagia. Dengan orangtua mendampingi mereka, memyambut para tamu yang datang untuk memberikan doa dsn ucapan selamat.
Ben bertemu dengan kenalan dan rekan bisnisnya, sekedar menyapa juga mengenalkan Una sebagai istrinya pada beberapa rekan yang mengajaknya bicara.
"Wah Pak Ben, tidak disangka ternyata sudah ada pendampingnya. Masih muda pula," ucap salah satu rekan bisnis Ben. Jelas saja Una terlihat lebih muda, karena perbedaan umur mereka kurang lebih sembilan tahun. Una masih kuliah saat bertemu Ben, yang sudah menjadi CEO pada BCP One.
Una hanya senyum terpaksa mendengar kalimat tadi, kalimat yang memiliki dua makna. Ben yang beruntung mendapatkan istri lebih muda usianya atau seakan mengatakan secara halus bahwa Una seperti sugar baby dari Ben.
Arghhh, ingin sekali Una menjenggut rambut dari laki-laki yang sedang berbicara dengan Ben. Una menarik lengan jas Ben seakan memberi tau bahwa ia tidak nyaman.
Ben dan Una berjalan ke arah pelaminan, "Abang jangan kebanyakan bergaul dengan Bapak-bapak tadi."
"Kenapa?"
"Lihat aja dari gerak geriknya sama cara bicaranya, genit. Apalagi itu tadi mulutnya, sindir-sindir begitu." Ben hanya tersenyum, "Enggak usah mancing-mancing pake cemberut segala," canda Ben.
Leo dan Firda yang berjalan di belakang pasangan yang terlihat semakin mesra itu dapat mendengar apa yang diucapkan oleh Ben dan Una.
"Bucin," ucap Leo lirih namun dapat didengar oleh Firda.
"Bukan bucin tapi romantis, itu namanya kemesraan," sahut Firda.
"Halah," ejek Leo. "Kamu mana tau sama romantis, punya pasangan juga enggak."
"Kayak sendirinya punya aja," tukas Leo pada Firda. "Ya jelas dong, aku pernah pacaran, daripada LDR ya aku putusin aja."
"Laki-laki enggak perlu cinta, cukup ada untuk pelampiasan," ucap Leo.
"Dasar gila," ujar Firda.
Berada di pelaminan, Ibunda Alan yang mendapati Una dihadapannya terkejut, "Kamu bukannya__"
"Saya Aruna tante," sahut Una sambil tersenyum. Aruna dipindai dari ujung rambut sampai kaki, "Kamu sedang hamil? Sudah menikah ?"
Una tersenyum dan hendak bersalaman dengan Alan, "Eh, Salaman dengan aku aja." Clara menarik tangan Alan yang hendak bersalaman dengan Una, alhasil Clara yang menyalami Una.
Ben mengucapkan selamat pada Alan, saat hendak bersalaman dengan Clara, Una menarik tangan Ben, "Enggak usah salaman, sudah diwakilkan aku tadi," ujar Una. Ben menggelengkan kepa mendengar ucapan Una dan Clara.
Ben menyapa ayah Clara yang memang masih kerabat dengannya, mengenalkan Una kemudian turun dari pelaminan.
"Abang, aku haus." Ben mengajak Una duduk, lalu mengambilkan air minum untuk Una.
"Sayang, mau makan ?" tanya Ben. Una menggeleng. "Kamu tunggu di sini, ada yang harus aku temui."
"Iya," jawab Una. Ben mengusap kepala Una yang dibalas dengan senyum. Firda duduk di sebelah Una, "Mau saya ambilkan makanan bu?"
"Tidak usah, sebenarnya aku mau pulang. Pusing lihat banyak orang begini."
"Ibu senangnya di tempat sepi bareng Pak Ben ya," ujar Firda sambil terkekeh.
"Hm, sok tau kamu."
Ben yang sedang berbicara dengan beberapa orang pria, sesekali menoleh pada Una.
"Emang dasar bucin," ucap Leo. "Emang dasar syirik," sahut Firda.
"Kalian ini kenapa sih? Adu mulut terus."
"Lebih enak adu bibir," ujar Leo. Una hanya melirik mendengar ucapan Leo. "Emang udah error otaknya, dari tadi ngaco terus," ledek Firda.
"Kurang kasih sayang," ucap Una. Leo berdecak sedangkan Firda tertawa.
"Ben, Ben Chandra kan ?" tanya seorang wanita.
"Hay, Nela."
"Apa kabar kamu Ben?"
"Aku baik," jawab Ben singkat.
"Enggak nyangka bisa ketemu kamu di sini, bukannya kamu di Singapura ya?"
"Mau reunian Nel?" tanya salah satu rekan Ben.
Nela hanya mencibir, lalu kembali menatap Ben. "Sudah lebih dari satu tahun, aku pulang ke Jakarta."
"Awas CLBK istrinya Ben lagi hamidun tuh."
"Istri? kamu sudah menikah?"
"Iya, itu istriku," Ben menoleh kembali ke arah Una. Una memperhatikan wanita yang berada di samping Ben yang sedang menoleh pula kearahnya.
"Sepertinya ada aroma ulat bulu di sini," canda Leo. "Masih kalau jauh sama Ibu Bos," jawab Firda.
"Tapi dia jadi pusat perhatian," kata Una. "Ya iyalah Bu, lihat aja pakaiannya menggoda begitu wajar jadi perhatian orang."
"Leo, kamu laki-laki kan, lebih senang lihat yang terbuka begitu atau yang tertutup?"
"Tergantung wajahnya lah, biar kata naked kalau enggak cantik apalagi ganteng ya gak enak dilihat."
Una tertawa mendengar ucapan Leo. "Kalau Firda yang naked gimana? Seneng enggak lihatnya?" tanya Una sambil terkikik.
Firda dan Leo saling menatap lalu mengalihkan pandangan mereka.
Kini mereka sudah berada di mobil arah pulang, Ben merasa aneh sebab Una sejak tadi hanya diam.
"Sayang," panggil Ben. "Kenapa sih diam aja?"
"Perempuan tadi siapa Bang?"
Ben menghela nafas, "Nela, namanya Nela."
"Salah satu mantan Abang Ya?" Ben terdiam, "Romannya nanti malam bakal tidur di luar lagi nih," gumam Ben.
Yuhuuuuuu, gimana-gimana? masih penasaran ya, Sabar Bos ☺
__________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖