
"Bela, Bela tunggu," panggil Dean sambil mengejar Arabela.
"Apaan sih, ngapain ngikutin aku."
"Ck, Bela bantu aku."
"Aku sibuk," ucap Arabela lalu masuk ke mobilnya. Dean pun membuka pintu mobil sisi lainya dari Arabela.
"Kamu ..."
Dean tidak menggubris Arabela, malah mengenakan seat belt lalu melipat kedua tangannya di dada.
Arabela menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melaju, "Kita mau kemana?" tanya Dean.
"Aku bukan kita. Dean kamu mending turun deh, dan jangan ganggu aku atau aku adukan perbuatanmu pada Kak Ben."
Dean terkekeh, "Perbuatanku? Tepatnya perbuatan kita, khawatir kamu lupa tapi aku masih ingat bagaimana kamu mendessah menikmati sentuhan dariku."
"Kita mabuk, kalau tidak mabuk aku tidak akan sudi melakukan itu apalagi dengan kamu."
"Sudahlah Bela, itu sudah terjadi. Ini kita mau kemana?" Arabela tidak menjawab, ia fokus pada kemudinya. Tidak ingin terganggu dengan keberadaan pria disampingnya.
.
.
.
Aruna sudah dipindahkan ke ruang rawat. Bahagia melihat anak kembarnya yang sehat dan sangat lucu.
"Jadi kamu yang menang waktu rebutan mau keluar ya," ucap Una. Bayi perempuannya sedang diletakan di atas dadanya agar tetap hangat. Sedangkan baby boy berada di gendongan Ben.
"Na, setelah ini kamu harus konsultasi dengan dokter, jangan sampai nanti hamil lagi."
"Loh, memang kenapa kalau aku hamil lagi? Yang penting hamil anak Abang."
Ben berdecak, lalu meletakan baby yang digendongnya pada box bayi. Begitupun yang berada didada Una, diambilnya dengan hati-hati dan diletakan pada box bayi.
"Aku enggak tega lihat kamu kesakitan seperti kemarin. Sampai jambak-jambak rambut aku, enggak tahan pula dengan darah yang keluar. Macam ditebas pake samurai, berdarah-darah," ucap Ben sambil menggelengkan kepalanya.
"Masa sih, aku jambak rambut Abang," ujar Una sambil tertawa. Tapi kalau si kembar sudah siap aku mau kok hamil lagi."
"Sudahlah, rawat yang ada didepan mata dulu. Sekarang ada tiga manusia yang butuh kasih sayang kamu. Jangan sampai tidak adil, karena aku tidak ingin bersaing dengan mereka." Lalu Ben mencium kening Una.
Una menoleh pada box bayi yang tidak jauh dari ranjangnya, "Kok keduanya mirip banget sama Abang sih?"
"Aku yang bercocok tanam, ya wajar kalau mirip aku."
"Abang, sudah telpon ke ayah dan ibu di Bandung?"
"Sudah, kemarin," jawab Elang.
.
.
Esok harinya, masih berada di Rumah sakit, Ilham dan Bian baru saja pergi. Selain menengok baby twin sekaligus ada diskusi dengan Ben.
Kini Ben masih berada di sofa, sambil memperhatikan tablet digenggamannya.
"Ih, lucu banget sih Bu," ucap Firda gemas pada baby twin. "Jadi pengen deh."
"Pengen apa?" tanya Una dan mengernyitkan dahi.
"Pengen punya bayi juga," jawab Firda malu-malu.
"Bikin dulu baru bisa punya," ucap Leo lalu keluar dari ruangan.
Tidak lama kemudian Kak Huda datang, "Nambah dua deh keponakan aku," ucap Huda sambil memandang kedua bayi Una.
"Ayah tau kamu sudah melahirkan"? tanya Huda sambil duduk di kursi samping ranjang Una.
"Sudah, Abang yang hubungi kemarin," jawab Una. "Mungkin mereka masih marah sama aku Kak."
"Na, yang berhak marah disini seharusnya kamu. Dari dulu keluarga sangat menyusahkan kamu. Bahkan sekarang mereka ikut merasakan kemewahan yang kamu miliki. Tapi bukannya mikir malah cari perkara. Aku sebagai laki-laki malu sama kamu Na, apalagi dengar kejadian Pak Ben menitipkan kamu di Bandung malah kalian bertengkar."
"Terkait permintaan Devi jangan digubris, nanti akan menyusahkanmu Na."
Una menatap Huda, "Aku cuma akan menyampaikan ke Abang, masalah ada peluang atau enggak aku tidak ikut campur."
Esok hari, Aruna sudah boleh pulang ke rumah. Meletakan bayi mereka dalam box bayi, walaupun kamar bayi dan kamar mereka hanya terkoneksi dengan sebuah pintu, terdapat box bayi juga di samping bed Una dan Ben. Dengan alasan memudahkan Una merawat kedua bayinya.
Una baru saja terlelap, menjadi seorang Ibu baru cukup merubah hidupnya terutama jam istirahatnya. Karena kedua bayinya terkadang menangis tidak dalam waktu yang bersamaan merubah pola tidur dan istirahatnya.
Tanpa diduga, Syamsul, Fatma dan Devi datang berkunjung disambut oleh Ben. Devi yang melihat rumah yang sekarang mereka datangi lebih besar dibandingkan rumah milik Una yang kini keluarga Syamsul tempati hanya bisa mencibir.
"Aruna baru saja tidur, kami baru pulang dari Rumah Sakit" ungkap Ben.
"Kak Ben," panggil Devi, "aku mau bekerja di Jakarta, kalau di perusahaan Kakak ada lowongan untuk aku enggak?"
"Nanti aku tanya dulu ke bagian HRD, karena sudah tidak ikut campur hal teknis."
Saat makan malam, Una tidak ikut bergabung di ruang makan ia sedang kerepotan menyu_sui kedua bayinya.
"Kalian sudah kasih nama?" tanya Fatma
"Sudah, Abang yang siapkan nama. Nevan Chandra dan Nessa Chandra," jawab Una.
"Kak, jangan lupa ingatkan Kak Ben. Lowongan kerja untuk aku," ucap Devi.
Una menghela nafasnya, "Iya."
Una disibukan dengan kedua bayinya, seperti pagi ini dia berjemur bersama kedua bayinya. Kemudian memandikan, baby twin akan tidur nyenyak setelah menyelesaikan aktifitas paginya.
"Sayang, aku akan siapkan baby sitter untuk bantu kamu mengurus Nevan dan Nessa," ucap Ben saat ia keluar dari walk in closet.
"Terserah, Abang aja," sahut Una sambil memakaikan dasi di kerah kemeja Ben. "Devi mendesakku supaya kamu berikan dia posisi di kantor, gimana Bang? Aku bingung!"
"Bingung, kenapa?"
"Takutnya dia nanti bekerja seenaknya dan bikin malu Abang," jawab Una.
"Hmm, biar itu jadi urusan aku. Kamu tidak usah pikirkan hal yang tidak penting." Ben mengecup bibir dan dahi Una sebelum berangkat.
Sore harinya tidak lama Syamsul dan keluarganya kembali pulang ke Bandung, rekan-rekan Una datang menengok baby twin.
"Na, enggak ada miripnya sama lo deh. Ini sih wajah Pak Ben semua," ejek Abil.
"Iya Pak Manager, memang mereka anak Pak Ben jadi enggak apa-apa dong kalau mirip bapaknya. Bahaya kalau anak-anak aku mirip kamu," canda Una, "kalau aku masih bekerja mungkin sekarang jadi bawahan kamu ya Bil."
"Iyalah, terus gue nanti enak tinggal nyuruh-nyuruh lo doang."
"Untung aja udah enggak. Rahmi pasti kamu menderita ya punya manager model begini?"
"Iya, Kak Abil sekarang galak," ucap Rahmi.
Abil dan Rahmi sudah berada di atas motor masing-masing, saat sebuah mobil masuk melwati pintu gerbang.
Ternyata Meisya dan suaminya.
"Haiii, gimana rasanya jadi Ibu. Pasti ngantuk, waktu dulu gue gitu. Ngantuk banget, apalagi lo Na ada dua bayi."
"Chika kemana ?" tanya Una.
"Ada di rumah, ada orangtua gue jadi betah dia. dirumah."
Vino tidak ikut bergabung dengan Una dan Meisya, lebih memilih di luar menunggu Meisya sambil ngobrol dengan Leo.
Una sedang menyu_sui saat, Ben baru saja pulang dan menyusul ke kamar baby. Mencium kening Una, juga pipi bayi yang sedang asyik minum asi.
"Hmm, bisa aja modusnya. Cari kesempatan dalam kesempitan," ucap Una ketika Ben berpindah dari mencium pipi bayi ke bagian yang terekspos.
"Sekarang aku enggak kebagian, didominasi sama anak-anak kamu, sayang." Una tertawa mendengar keluhan Ben. "Ditambah, harus puasa dulu." Ben menyugar rambutnya.
_______________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖