
Enjoy reading 😎
_______________
"Sepertinya kalau kondusif kita tidak perlu menjalankan rencana balas dendam." Ilham mengangguk dengan keputusan Ben.
Una yang hendak ke luar kamar, menghentikan langkahnya mendengar pembicaraan Ben dan Ilham.
"Rencana balas dendam!" lirih Una. Una mengurungkan niatnya ke luar kamar, duduk disofa kamar membuka ponselnya.
Hati yang sedang tidak tenang ternyata membuat hal yang biasa menyenangkan jadi membosankan. Biasanya Una bisa betah berlama-lama berselancar di dunia maya, tapi kali ini seakan tidak menarik untuk ditelusuri. Semua itu karena penasaran akan pernyataan Ben tentang rencana balas dendam.
Karena Una tidak kunjung keluar dari kamar, akhirnya Ben menyusul kembali ke kamar khawatir jika terjadi sesuatu dengan Una.
"Aku tunggu di luar malah melamun di sini." Una menoleh pada Ben yang duduk disampingnya.
"Abang," panggil Una.
"Hmm," jawab Ben yang sedang membungkuk dihadapan perut Una, mengelus lembut dan mencium perut buncit yang masih tertutup dress.
"Aku terganggu dengan beberapa pernyataan Kak Alan kemarin."
Ben seketika diam, lalu menegakkan tubuhnya menghadap Una, "Pernyataan yang mana?"
"Ada apa di Surabaya?" tanya Una sambil menatap Ben. Menghela nafas, Ben lalu mendekatkan kembali tubuhnya ke arah Una. Merengkuh Una, "Tenang saja, bukan persoalan dan sudah selesai."
Una melepaskan diri, "Aku ingin Abang cerita. Detail," ucap Una.
"Tidak usah Na, yang penting sudah clear. Kalau aku cerita, enggak baik untuk emosi kamu."
"Ini tentang Clara kan ?"
Ben berdecak, "Jangan sebut nama perempuan ular itu," Una tertawa. "Kalau dia ular, kamu apa? Buaya."
"Aruna!"
"Sebenarnya apa yang dulu abang janjikan sama Clara sampai dia mati-matian ngejar abang?"
"Sekarang sudah aman, dia sudah bersama Alan. Tidak akan mengganggu kamu dan aku lagi."
"Tapi masih mengganjal bagi aku, ada apa dengan kalian sampai harus merencanakan balas dendam." Una berdiri dan berjalan menuju pintu. "Aruna," panggil Ben lalu memegang tangan Una yang menyentuh handle pintu.
"Aku ingin setelah kamu ke luar dari kamar ini tudak usah membahas hal tadi, karena semua sudah clear."
Una mengedikkan bahu, "Aku serius Aruna."
"Clear menurut Abang, bagaimana aku biaa menyimpulkan clear kalau tau juga enggak masalahnya apa?"
"Inilah yang membuat aku tidak ingin banyak cerita, karena malah membuat kita bertengkar," ucap Ben.
"Aku bukan ajak Abang bertengkar, cuma minta abang jujur sama aku."
Ben menghampiri Una, "Aku tidak mau kamu terluka atau kecewa, yang jelas hanya kamu dihati aku dan aku enggak akan menghianati kamu."
Masih dengan posisi mereka berdiri, Una membuka ponselnya mencari sebuah gambar yang tadi ia buka, "Lalu ini apa, yang Abang bilang sudah clear tuh ini."
Ben menyugar rambutnya, "Aruna," lalu hendak menyentuh lengan Una. Una mundur satu langkah agar lengannya tidak tersentuh.
"Tidak penting Na, kamu sedang hamil aku enggak ingin kamu kepikiran."
"Gimana aku enggak kepikiran Bang, aku lihat foto suami aku dalam selimut yang sama dari gambarnya jelas keduanya telanj*ng. Ini Clara kan ? Yang dimaksud Kak Alan di Surabaya itu ini? Abang merasa dijebak? Hal sebesar ini aku enggak dikasih tau, Aku ini istri Abang. Sekarang kita balik, kalau abang lihat foto aku seperti ini dengan laki-laki lain, bagaimana perasaan Abang?"
"Aku bisa membu nuhnya, karena sudah main-main dengan Ben Chandra." Ben bicara dengan nada tinggi.
"Sayang, aku enggak bentak kamu. Itu adalah penekanan kalau aku tidak main-main jika ada yang macam-macam dengan kita."
Ben ingin melangkah mendekat namun lengan kanan Una maju ke depan seakan mengisyaratkan untuk Ben tidak mendekat.
Una merasakan kram pada perutnya, ia menggigit bibir menahan sakit. Kedua tangannya memegang perut. "ARUNA!" teriak Ben sambil meraih tubuh Una yang lunglai.
"FIRDA," teriak Ben. Tidak lama Firda membuka pintu. "Siapkan mobil!"
"Baik Pak."
"Una, sayang." Ben menepuk pelan pipi Una, kedua mata Una terpejam.
"Shiiitt," lalu Ben menggendong Una.
Saat keluar dari lift, Firda mengatakan mobil sudah siap dan benar saja melewati pintu lobby, security sudah membukakan pintu mobil untuk Ben.
Leo berada di belakang kemudi, Firda disebelahnya. Kepala Una berada di pangkuan Ben.
"Rumah sakit terdekat."
"Siap bos." Leo membawa mobil dengan lumayan cepat
Kurang lebih 10 menit, Leo sudah memarkirkan mobil di depan UGD Rumah sakit tempat Una memeriksakan diri, Firda membukakan pintu mobil untuk Ben.
Ben menunggu di luar ruangan saat Una sedang diobservasi.
"Keluarga Ibu Aruna!"
"Saya sus," jawab Ben. "Ikut saya dulu pak, dokter akan menyampaikan hasil pemeriksaan."
"Ibu Aruna masuk ruang perawatan ya Pak, kita akan lanjutkan observasi. Karena tadi detak jantung bayinya agak lemah. Karena kehamilan anak kembar, segala sesuatu lebih beresiko. Jangan terlalu aktifitas berlebih apalagi stres. Kram perut termasuk bebahaya untuk ibu hamil jika terjadi lebih sering."
Aruna sudah dipindakan ke ruang perawatan, Ben meminta Firda mengambilkan beberapa kebutuhan Una dari rumah.
"Sayang,"ucap Ben pada Una yang membuka kedua matanya. Refleks Una menyentuh perutnya.
"Anakku, anakku baik-baik aja Bang?" tanya Una.
"Stt, tidak usah panik. Mereka aman," ujar Ben sambil mengelus perut Una. "Kamu tidak boleh banyak pikiran, nanti berpengaruh pada kehamilan kamu."
"Bagaimana mau tenang kalau_"
"Sudah, nanti setelah pulang aku akan ceritakan. Inilah yang membuat aku enggan bercerita khawatir dengan emosi kamu Na."
"Tau ah, aku kesal sama Abang," Una mulai merajuk.
"Hmm," Ben yang duduk di kursi sebelah ranjang Una mengelus punggung tangan Una. "Untuk kebaikan kamu dan calon anak-anak kita, aku mohon kamu nurut sama aku Na."
Dua hari dirawat di rumah sakit akhirnya Una diperbolehkan pulang. Ilham menyelidiki foto yang diterima Una, ternyata dikirim Clara tidak lama setelah Ben pulang dari Surabaya namun tidak direspon oleh Una dan baru dibuka dihari yang sama sebelum ia semaput.
"Firda akan temani kamu, jangan ke mana-mana. Ingat kamu masih harus bedrest,"
"Hmmpppp," Una yang ingin menjawab namun bibirnya dibungkam oleh pagutan yang dilakukan oleh Ben.
Saat membuka mulut hendak menjawab, Ben kembali menyatukan bibir mereka. "Abang ihhh," rajuk Una sambil memukul dada Ben.
Ben hanya terkekeh dan mengusap pucuk kepala Una. Saat di mobil menuju kantor, Ben meminta Ilham menghubungi Clara, memutuskan bertemu dengan perempuan itu untuk menyelesaikan masalah.
__________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖