Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Hasutan Alan (2)



"Oohh," ucap Alan, padahal Clara sudah menceritakan kalau Una menangis dan terkejut melihat dirinya memeluk Ben. "Kalau di luar kantor, kira-kira mereka ngapain ya? Misalnya ke luar kota atau perjalanan bisnis, apa mereka tetap profesional?"


Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Alan sangat memprovokasi, namun Una masih dengan kepala dingin menanggapinya. Tetap berjalan menuju kasir diikuti Alan.


"Baiknya hati-hati kalau Ben melakukan perjalanan bisnis, kamu enggak tau di sana dia ketemu siapa dan melakukan apa."


Una terlihat tidak nyaman, sepertinya dia terganggu dengan hasutan Alan. Leo berjalan mendekat pada Una dan Alan, telapak tangan kanannya mendorong dada Alan. "Minggir, anda sudah mengganggu, nyonya Aruna sudah tidak nyaman dengan anda."


"Woy, santai dong." Alan balas mendorong Leo. Mereka mulai menjadi perhatian orang-orang disekeliling mereka.


"Kak Alan sebaiknya pergi, atau aku panggil security."


"Fine," Alan mengakat kedua tangannya. "Tapi sebaiknya kamu dengarkan aku Na. Ben dan Clara itu tidak bisa dipercaya, yang satu buaya dan yang lain ular."


"Aku juga enggak mungkin harus percaya dengan serigala," jawab Una.


Alan terbahak, "Aku bukan serigala, tapi pangeran dengan kuda putih yang siap menjemput sang putri. Jangan sungkan Aruna, aku akan selalu terima kamu kapan pun, apalagi saat kamu terluka oleh pasangan fenomenal itu," ungkap Alan sambil membuka kedua lengannya seakan menerima pelukan Una.


"Dasar gila," Una berjalan melewati Alan. Leo menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Alan.


Selama perjalanan pulang, Una melamun dengan pandangannya pada jendela mobil. Sebenarnya ia cukup terusik dengan pernyataan Alan yang masuk akal, dia tidak tau Ben akan bertemu dengan siapa dan membicarakan apa atau sampai melakukan apa saja.


Tapi Una harus percaya pada suaminya, Ben sudah meyakinkan Una bahwa hanya ia wanita yang dicintainya.


Drt drt, ponsel Una bergetar.


"Halo, Kak."


"Na, anak aku sudah lahir."


"Kapan Kak?"


"Tadi pagi, semalam masuk rumah sakit."


"Kok enggak ngabari aku sih."


"Mau ke sini? Ada ayah sama ibu baru datang dari Bandung."


"Iya aku otw."


"Bang Leo, kita ke rumah sakit ya!" 


"Oke."


Sesampainya di rumah sakit Leo diminta ke apartement untuk membawa semua belanjaannya dan kembali ke rumah sakit untuk jemput Una.


Berjalan sepanjang koridor rumah sakit menuju kamar rawat Rena yang sudah diinfokan oleh Huda lewat pesan. 


Langkah Una terhenti melihat sosok yang ia kenal sedang mengecek plastik berisi obat. Tidak seperti biasanya yang selalu tampak extraordinary, sosok itu saat ini terlihat agak muram. 


"Aruna," ucap Clara lalu menjejalkan plastik obat pada tasnya.


"Hm, siapa yang sakit?"


"Bukan sakit, cuma medical check up biasa." 


"Owh." Jelas-jelas dari raut wajah wanita itu tampak tidak sehat, 'Drama queen,' batin Una.


"Duluan ya, aku harus ke luar kota," ucap Clara sambil senyum sinis. 


Una menghela nafas, "Enggak serigala, si ular juga nyebelin." 


"Eh, ke luar kota. Nope, Abang setia enggak mungkin tergoda sama ulat bulu macam Clara," Una bermonolog.


Una mengucapkan salam saat masuk ruang perawatan Rena, lalu mencium tangan kedua orangtuanya.


"Suamimu mana Na?" tanya Syamsul.


"Baru tadi aku antar ke bandara Yah." 


Una mendekati ibu Fatma yang sedang memandang bayi mungil yang terlelap di box bayi. "Ih lucu banget sih," ucap Una.


"Sebentar lagi juga kamu punya sendiri, dijaga, jangan capek-capek. Ingat, ada dua calon manusia di perut kamu," Fatma menasehati Una. 


"Ganteng apa cantik Kak?" Una menoleh pada Rena yang terbaring di bed. 


"Pokoknya jagoan Na," sahut Huda yang sedang duduk di sofa.


"Duduk dulu Na," ajak Syamsul pada putrinya.


"Kalau ada waktu, ajak suamimu pulang ke Bandung. Rumah yang dibangun sudah hampir rampung. Kalian belum cek apa bangunannya sudah sesuai atau belum."


Ben membeli lahan kosong disebelah rumah Syamsul lalu membangun rumah dua lantai yang cukup luas. Untuk ditempati keluarga Una juga untuk kenyamanan kalau Ben dan Una pulang ke Bandung.


"Iya, nanti aku sampaikan. Nanti kalau sudah rapih juga akan ada yang urus untuk melengkapi isinya Yah." 


"Sultan mah bebas, pengen apa-apa tinggal nyuruh," seru Huda.


"Bukan perintah aku Kak, tapi Abang." 


"Kamu harus bisa bawa diri, jangan karena suamimu punya segalanya kamu malah lupa diri." 


"Iya Yah."


Una sudah berada di apartement, sore tadi bu Fatma minta Una pulang untuk istirahat. Setelah mandi dan memakai piyamanya, Una berada di meja makan menikmati makan malamnya.


Sambil menghubungi Ben yang sejak ia antarkan ke bandara belum menghubunginya lagi. Namun panggilannya tidak direspon, Una mengedikkan bahu, "Mungkin masih sibuk." 


Meluangkan waktu sebelum tidur dengan menonton TV sambil membuka media sosialnya, cukup lama sampai ia menguap karena mengantuk. 


Ketika Una telah berbaring bahkan sudah memiringkan tubuhnya ke kiri, ponselnya berdering ternyata Ben yang melakukan video call.


Ben hanya tersenyum atau sesekali menyahut ketika Una asyik bicara dan saat Una mengatakan dirinya sudah mengantuk, Ben pun mengakhiri panggilannya.


Una pun perlahan terbuai mimpi, sedang Ben di tempat yang berbeda sedang resah. Kepalanya sudah berada di atas bantal, ia resah hingga sulit memejamkan mata.


Sore tadi setelah ia bertemu dengan klien bersama Ilham, di lobby ia bertemu dengan Clara. "Awasi wanita itu!" perintah Ben pada Ilham. Ilham menelpon seseorang untuk menindaklanjuti perintah bosnya.


"Halo"


"Di mana Ra?"


"Aku di Surabaya, pokoknya kali ini pasti berhasil. Kamu tinggal handle Aruna."


"Awas aja kalau gagal, loe udah ngacak-ngacak rencana gue."


"Just wait and see."


"Apa rencana loe?"


"Hm, kejutan dong. Pokoknya tunggu kabar aku saat balik ke Jakarta."


"Seyakin itu."


"100% iya."


"Oke."


Setelah mengakhiri panggilan dengan Clara, Alan menghubungi Aruna namun tidak kunjung dijawab. Akhirnya Alan mengirimkan pesan kepada Aruna.


Alan tersenyum, "Tunggu Aruna, aku akan datang padamu atau kau sendiri yang akan mendatangiku."


Alan mengemudikan mobilnya menuju salah satu Club yang biasa ia datangi.


"Woy, kirain enggak jadi ke sini," ucap Bira."


Alan mengambil gelas berisi minuman keras milik Bira lalu menenggak habis, "Pasti datanglah. Ra, Aruna tinggal dimana?"


"Mau ngapain? Jangan macem-macem, gue udah bilang dia itu sahabat gue."


Alan berdecak, "Slow Man, gue mau buat dia bahagia."


"Loe pikir dia menderita."


"Sebentar lagi. Sebentar lagi cuma gue yang bisa buat dia bahagia."


Una mengerjapkan matanya, silau dengan sinar matahari yang masuk ke kamarnya lewat hordeng yang tidak tertutup rapat. Meregangkan tubuhnya, lalu melakukan aktifitas rutin yang dilakukan setiap pagi.


Membuka ponsel hendak menghubungi Ben, namun ada beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan dari nomor yang tidak dikenal. Membuka dan membaca pesan tersebut membuat Una menghela nafas kasar lalu meletakan ponselnya, niatnya menghubungi Ben gagal karena pesan yang ia baca merusak suasana hati.


__________


Haiiiii, ☺, Jangan lupa jejak cintanya ya


Selamat bermalam minggu bagi yang merayakan, love you seabrek abrek untuk para pembaca setia kisah Aruna


lanjut silaturahmi \=\=>ig : dtyas_dtyas