
Ponsel Ben bergetar, sebuah notifikasi pesan masuk, ia mengerutkan keningnya saat membaca pesan tersebut.
Clara mengirimkan pesan, usaha lain setelah beberapa kali panggilannya diabaikan oleh Ben.
Isi pesannya sama dengan yang Bian sampaikan, ingin bertemu Ben untuk membicarakan masalah perubahan kontrak kerjasama. Ben merasa ini hanya alasan bagi Clara untuk dapat menemuinya.
"Mau pulang atau tunggu aku?"
"Hmm, aku boleh ke ruangan Abil dan Rahmi?"
"Mau apa, mereka kan harus kerja."
"Please Bang!"
"Ikut aku aja."
"Ke mana?"
"Balik ke ruanganlah."
Ben menggenggam jemari Una selama mereka berjalan kembali ke ruangan Ben, tanpa ia sadari mata Una sudah berkaca-kaca.
Kadar estrogen dan progesteron yang lebih tinggi saat hamil membuat Una merasakan perubahan suasana hati. Kadang ia mudah marah atau sedih. Seperti saat ini, hanya karena Ben melarangnya ke divisi keuangan Una sudah meneteskan air mata.
Saat di lift, Ben melihat pantulan wajah Una. 'Astaga,' Ben mengumpat dalam hati. Ternyata ia sedang menghadapi lebih dari sekedar anak kecil yang cengeng.
Ben merangkul bahu Una saat keluar dari lift, "Sudah, jangan nangis dong. Nambah gemesh lihatnya." Lain di mulut lain dihati, 'Sabar-sabar,' batin Ben.
Saat masuk ke ruangan Una menghempaskan rangkulan tangan Ben, lalu mendudukan dirinya di sofa.
Ben menyugar rambutnya, "Jangan ngambek sayang, kasihan dedek bayi kalau kamu emosi."
"Berisik, udah sana kerja." Una berjalan menujur kamar rahasia Ben.
Hufttt, mengusap kasar wajahnya. Mengikuti Una menuju kamar, "Ya udah kamu istirahat dulu, nanti sore aku temani ke mana pun kamu mau," ujar Ben sambil merebahkan diri memeluk Una yang membelakanginya.
Una berbalik, "Beneran ya ?"
"Iya, apa sih yang enggak buat kamu."
"Ya udah Abang kerja lagi, aku disini aja ya."
"Just wait, i'll be back."
Berbanding terbalik dengan Ben dan Una, di tempat berbeda Clara yang sedang berada di ruang kerja Alan tampak geram karena diabaikan oleh Ben.
"Damn it."
Alan yang sedang membaca berkas di mejanya menoleh pada Clara. Menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa, "Ben mulai mengabaikan aku, dia udah enggak respon telpon atau pesan aku. Urusan kerjasama aku diminta ketemu Bian, padahal kerjasama ini kan alasan doang untuk aku bisa dekat lagi sama dia."
Alan menghentikan aktifitasnya, menyadari bahwa rencananya saat ini tidak berjalan mulus. Sedangkan keinginan untuk memiliki Una sangat menggebu. Dia tidak ingin menunggu lama, bahkan mendengar Una yang sedang hamil pun ia tidak peduli. Misinya adalah memisahkan Ben dan Una agar Una kembali padanya.
Alan mengenal Una cukup lama, sulit untuk menjadikannya kekasih. Ada rasa menyesal karena ia tergoda dengan Clara saat ia sudah menjalin hubungan dengan Una.
Terbayang wajah cantik Una, tubuh mungilnya, bahkan wangi parfumnya, 'Oh, Shittt. Kenapa ngebayangin Una malah bangun sih,' batin Alan.
Mengendurkan dasi yang terasa terikat kencang dilehernya. Mengatur nafas berharap bagian bawah tubuhnya kembali normal, dahinya berkeringat.
Brukk.
"Eh, mau ngapain sih?" tanya Clara karena Alan tiba-tiba mendekat langsung merebahkan tubuh Clara dan mengukungnya.
"Bantuin."
"Bantu apaan?"
"Gue mikirin Una, eh malah tegang yang bawah."
"Enak aja, hasrat sama perempuan lain tapi melampiaskan ke aku. Awass," Clara mendorong tubuh Alan.
"Halahh, berisik. Biasanya juga kamu nikmatin." Alan sudah membuka blouse Clara dan menyingkap rok wanita itu.
"Gila kamu, kalau ada yang masuk hmppp..." Alan melakukan pagutan pada bibir Clara dengan kasar dan menuntut. Lalu keduanya melakukan pergulatan yang membuat suasana ruangan menjadi lebih panas bagi mereka berdua, erangan dan dessahan didominasi oleh Clara karena petualangan Alan pada seluruh bagian tubuh Clara yang sudah polos.
"Sepertinya kita harus mengganti strategi," ujar Alan saat dirinya dan Clara telah mengkondisikan diri masing-masing.
"Tidak usah lagi mendekati Ben," ucap Alan.
"Kayaknya loe udah gila ya, tadi tiba-tiba tegang mikirin Aruna, sekarang gue loe suruh jangan dekati Ben, padahal tujuan kita itu gue dapetin Ben dan loe ambil si Aruna yang kampungan itu."
Alan berdecak, "Kalau orang ngomong itu didengerin dulu yang lengkap."
"Ya terus gimana?"
"Pokoknya loe jauhin Ben, sampai kondisi aman untuk loe mendekat. Biar sekarang gue yang handle, it's show time."
Ben dan Aruna telah berada di dalam mobil menuju tempat yang disebutkan Una. Terjebak dalam jalanan yang padat, hingga memakan waktu untuk tiba.
"Abang, kita putar balik aja."
"Mau kemana?"
"Pulang."
"Ini sudah dekat Na."
"Kita pulang aja, aku ngantuk Bang."
Ben menghela nafasnya, 'Oke, sabar Ben itu pengaruh hormon kehamilan,' batin Ben.
Akhirnya mereka tiba di unit apartement, setelah bolak balik tidak jelas bahkan terjebak kemacetan.
"Sayang, jangan tidur dong." Ujar Ben saat Una merebahkan diri di bed king sizenya setelah membersihkan diri.
"Aku capek bang, kakiku pada sakit nih."
"Nanti aku pijit ya, tapi kita olahraga dulu." Ben ikut naik ke ranjang dan mengukung Una. "Olahraga yang bikin kamu merem melek."
Una membuka matanya, seluruh tubuhnya terasa linu karena olahraga yang Ben lakukan dengannya. Sudah pasti bukan olahraga dalam arti sesungguhnya, tapi penelusuran ke seluruh tubuh Una dengan arus puncak kenikmatan. Meskipun dilakukan dengan lembut karena Una sedang hamil. Seperti biasa Ben akan bergerilya dan berpetualang di sekujur tubuh Una, bermain di area sensitif Una dan membucahkan kenikmatan yang bukan hanya sekali. Kalau Una sedang tidak mengandung pasti Ben akan melakukannya berkali-kali membuat mereka melambung mereguk nikmat surga dunia. Bahkan ucapan Ben yang akan memijat Una pun tidak terealisasi, karena setelah asyik berolahraga Ben pun terlelao.
***
Hari ini adalah keberangkatan Ben ke luar kota, Una menolak ikut saat Ben menawarkannya untuk mendampingi sekaligus liburan. Lagipula Una sedang hamil jadi ia enggan melakukan perjalanan jauh.
Berbeda dengan perjalanan bisnis sebelum-sebelumnya, biasanya Una tidak pernah ikut mengantar tapi kali ini Una mengantarkan Ben ke bandara.
"Ya udah kamu pulang ya, aku harus masuk," ucap Ben yang sedang memeluk Una.
"Hmm." Serasa tidak ingin melepaskan pelukannya, Una malah mengeratkan pelukannya sebelum akhirnya ia lepaskan.
Ben mengelus pucuk kepala Una, "Dari sini aku langsung ke mall ya Bang, mau maksi sekalian belanja."
Ben mengangguk dan tersenyum, "Hati-hati, jangan jauh dari Leo."
Una sedang berbelanja kebutuhan dapur setelah ia mencari kado untuk bayi kak Huda, sebentar lagi Rena akan melahirkan.
Trolley di dorong oleh Leo, Una sibuk memasukkan bahan makanan ke dalam trolley. Saat hendak mengantri di kasir Una menyenggol bahu seseorang saat menghindari keramaian.
"Maaf pak."
"Aruna," ucap Alan.
Una menghela nafas, Leo memperhatikan pria yang sedang berhadapan dengan Una.
"Permisi Kak, aku harus ke kasir."
"Bagaimana waktu itu, kamu menyaksikan Clara sedang ngapain sama Ben?"
Una menghentikan langkahnya dan menoleh pada Alan, "Memang kakak mengharapkan adegan apa?Tidak ada apa-apa karena itu kantor mereka membicarakan bisnis."
"Oohh," ucap Alan, padahal Clara sudah menceritakan kalau Una menangis dan terkejut melihat dirinya memeluk Ben. "Kalau di luar kantor, kira-kira mereka ngapain ya? Misalnya ke luar kota atau perjalanan bisnis, apa mereka tetap profesional?"
________
Hayyyyy, jgn lupa salam cinta tekan like dll.
Love you seabreg abreg buat para pembaca.