
Enjoy reading 😎⚘
_________
Suara bel apartemen Alan berbunyi, ia pun bergegas menuju pintu untuk membukanya. Betapa terkejutnya Alan melihat ketiga orang yang berada di depan pintu apartemennya.
"Siapa sayang?" tanya Clara lalu menghampiri Alan.
"Ayah, Bunda," ucap Alan.
"Papih," ujar Clara.
"Clara ikut Papih pulang."
"Kamu juga, ikut Ayah dan Bunda pulang ke rumah. Kalian tidak boleh bertemu sampai nanti pernikahan."
"Loh kok gitu Yah, kita kan harus siapkan segala sesuatu," jawab Alan.
"Semua bisa diurus WO, dasar kamunya aja yang enggak msu pisah," ucap Bunda Alan.
"Tapi Pih, biasanya juga aku tinggal sendiri Papih oke-oke aja."
"Justru itu, karena papih kasih kamu kebebasan, hidup kamu juga ngaco begini. Kalian mau menikah sabar sedikit bukan malah terus-terusan tinggal bareng begini. Ayo ikut Papih."
Alan dan Clara dibawa pulang oleh orangtua masing-masing, seperti anak SMA yang kepergok sedang berbuat mesum dan dijemput oleh orangtua.
Saat akan berpisah di depan Lobby, Alan dan Clara saling menyampaikan pesan ancaman.
"Awas kamu ya kalau sampai menghubungi Aruna di belakangku!"
"Kamu jangan macam-macam, apalagi sampai menemui Ben."
***
Aruna dan Ben sedang mempersiapkan kepindahannya ke rumah baru. Karena sebentar lagi akan hadir anak diantara mereka, jadi tidak mungkin jika tetap tinggal di apartemen.
"Abang, terus nanti apartemen ini mau diapakan?" tanya Una yang sedang bersandar di sofa.
"Bisa disewakan atau dijual," jawab Ben yang merebahkan kepalanya di pangkuan Una sambil mengelus dan mencium perut Una.
"Sayang, tadi siang ada yang mengantarkan undangan untuk kita."
"Undangan apa?" tanya Una sambil memainkan remote tv mencari channel yang menarik.
"Undangan pernikahan Alan dan Clara," jawab Ben masih dengan bibir yang menempel pada perut Una.
"Kak Alan sama Clara ? Serius Bang?"
"Ya serius kali, buktinya nyebar undangan," ujar Ben yang langsung bangun dan duduk saat tangannya merasakan tendangan di perut Una.
"Sayang, mereka bergerak," Ben meletakan kedua tangannya di perut Una. "Ada gerakan di sini, eh di sini juga. Wow kalian aktif juga," Ben menundukkan kepalanya untuk menciumi perut Una.
Sedangkan Una malah fokus ke layar tv yang menyiarkan drama cinta. "Jadi, kita mau hadir atau enggak?" Ben sudah memposisikan tubuhnya bersandar di sofa dengan wajah menoleh pada Una.
"Aku terserah Abang aja," jawab Una.
"Sepertinya kita harus hadir, Ayahnya Clara itu rekan bisnis Ayahku, dan kita masih ada kerjasama untuk perusahaan di Singapur. Jadi, untuk menghargai beliau kita harus datang."
"Hmm, oke."
"Pestanya pasti akan ramai dengan orang-orang terkenal di bisnis, sekalian mengenalkan istriku yang cantik ini pada dunia." Ben lalu mencium pipi Una.
"Tapi aku malu Bang," tukas Una. "Malu?"
Una mengangguk, "Rekan-rekan Abang itu istri-istrinya pasti pintar, cantik, berpendidikan, keluarga terpandang bahkan juga ahli berbisnis. Enggak seperti aku, yang kalau ada yang bicara soal bisnis cuma bisa cengo," ungkap Una.
"Kamu kenapa insecure begini sih?"
"Yah memang kenyataannya begitu." Una memasang wajah cemberut.
"Bukan begitu konsepnya, Aruna." Ben merangkul bahu Una. "Aku memilih kamu sebagai istri bukan seperti membuka lowongan pekerjaan banyak persyaratannya. Semua orang punya kelebihan masing-masing. Kalau yang seperti kamu sebutkan tadi namanya Paket Menuju Lengkap. Tidak ada yang sempurna."
"Kalau yang ahli berbisnis bukan kriteria aku dalam cari pendamping, carinya yang ahli di ranjang dan bisa bikin enak, " tutur Ben sambil tertawa.
"Apan sih Abang, emangnya aku ahli di ranjang?"
"Banget, ahli melenguh tanpa mengeluh juga pandai mendessah tanpa lelah," bisik Ben ditelinga Una membuat tubuhnya bergidik.
"Abang mesum ihh," balas Una. Ben hanya terkekeh geli, "Ayo," ia mengulurkan tangannya. "Mau ke mana?"
"Istirahat," jawab Ben, lalu Una menerima uluran tangan Ben.
Ben dan Una sudah berada di ranjang mereka, berbaring dengan lengan Ben sebagai bantal kepala Una dan jari Una yang bergerak di dada Ben yang tanpa penutup seperti menuliskan sesuatu.
"Abang," ucap Una. "Hmm." Ben dengan mata terpejam tapi belum terlelap.
"Boleh tanya sesuatu?"
"Tanyalah."
"Mantan Abang, ada berapa ?" tanya Una dengan suara pelan. Ben langsung membuka matanya mendengar pertanyaan Una. "Kalau aku jawab kamu bakal marah, jadi skip aja."
"Emangnya lagi main kuis, Abang jawab ih," sahut Una manja.
Ben menghela nafas sebelum ia menjawab, "Hmm, lumayan."
"Pasti banyak, enggak kehitung bahkan lupa juga atau __"
"Sudah, aku kan sudah jujur."
"Yang paling berkesan siapa? Yang daleemmm banget perasaannya sampai sekarang pun suka terbayang."
"Ini bisa jadi petaka buat aku kalau dijawab," cetus Ben yang rasa kantuknya sudah menguap berganti khawatir karena Una akan meledak-ledak. 'Enggak ada yang dalem Na, kecuali lagi nyelup,' batin Ben.
"Aku cuma tanya biar lebih kenal Abang luar dalam."
"Loh, kamu belum kenal luar dalam aku. Padahal kan sudah __" Kalimat Ben terpotong dengan cubitan di perut Ben. "Auwww, sakit sayang." Ben mengelus perutnya yang dicubit Una.
"Jawab dulu," paksa Una.
"Tidak ada yang berkesan apalagi sampai mendalam perasaannya bahkan terbayang-bayang sampai sekarang. Karena kalau berkesan dia tidak akan jadi mantan tetapi masa depan."
"Aku masa depan Abang?"
"Absolutely Yes," jawab Ben.
"Tapi aku bukan mantan Abang."
"Karena kita tidak pernah pacaran. Tapi one night stand kita sangat berkesan dan daleeeem bikin aku susah move on," tutur Ben.
Una bangun dari posisinya dan duduk menghadap Ben, "Nyebelin banget, kenapa yang diingat malam itu doang." Una memukul lengan Ben dan wajahnya berubah sangar.
Ben juga merubah posisinya menjadi duduk, "Aku kan sudah jujur."
"Iya, tapi saat itu Abang cuma manfaatkan aku doang."
"Ya enggaklah, aku tau kamu bukan perempuan yang mudah diajak pacaran dan situasinya malah memungkinkan kita melewati malam panas dan setelah itu aku enggak bisa lupain kamu Na, malah makin cinta. Aku sampai minta Bian buat rekrut orang untuk mencari tau dan mencari kamu Na."
"Panjang perjuangan aku Na dan pas ketemu lagi aku malah harus ke Singapur ber tahun-tahun dan enggak nyangka bisa bertemu kembali."
Una masih mendengarkan ucapan Ben. "Jadi, kamu adalah orang yang membuat rasaku sangat dalam sampai sekarang, bahkan selalu terbayang jika sedang tidak bersama. Yang pasti kamu bukan mantan aku tapi masa depan aku."
"Sepertinya kita sudahi dulu pembicaraan ekstrim ini, bisa-bisa aku disuruh tidur di luar."
"Betul, Abang tidur di sofa depan. Aku mau bobo udah ngantuk."
"Hahhhh, Aruna!"
__________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖