
"Dean fix dia ada di Jakarta," lapor Leo.
Ben menunggu penjelasan detail dari Leo.
"Saya belum tau apalagi yang Dean dan Arabela rencanakan, yang jelas saya mengikuti Arabela sampai ke Bandara. Dia kembali ke Jakarta," tutur Leo.
Ben memijat dahinya, kepalanya terasa pening. Persoalan perusahaan belum aman untuk ditinggalkan, Una yang tanpa ijin pulang ke Jakarta ditambah Dean dan Arabela yang belum diketahui rimbanya.
"Gerry," panggil Ben.
"Enggak bisa Ben, harus ada lo di sini sampai keadaan stabil lagi," ujar Gerry seakan tau apa rencana dari Ben.
Ben berdecak, bersandar pada sofa dan memejamkan matanya. Terdengar dering ponselnya, dengan nama Bian tertera di layar.
"Pak, telpon dari Pak Bian," ujar Ilham.
Ben meraih ponselnya.
"Hmm."
"Halo Pak, ada Nona Aruna ke kantor."
Ben refleks menegakkan tubuhnya.
"Lalu?"
"Dia tanya masalah apa sampai Bapak harus ke Singapur. Juga alamat perusahan dan tempat tinggal Bapak selama disana."
"Dan kamu berikan."
"Saya enggak mungkin bohong Pak, kalau benar Nona Una ke sana terus nyasar. Gimana ?"
"Bian, sekarang keadaan tidak kondusif, pastikan BCP One stabil termasuk cabang Surabaya."
"Oke, siap. Kalau itu bisa saya handle, tapi kalau nona Aruna saya angkat tangan Pak."
Ben mengakhiri panggilan telpon dari Bian, "Leo, kamu kembali ke Jakarta. Sekarang!"
"Oke," jawab Leo dengan wajah bahagia. "Romannya bahagia bener suruh pulang," ejek Gerry.
"Jelas dong, bisa ketemu lagi sama si rese Firda," ungkap Leo. "Bucin, mampus lo," ledek Gerry.
Ben menarik nafas panjang, "Ilham, pastikan orang-orangmu bisa menahan Una agar tidak keluar rumah sampai Leo datang apalagi ke Bandara."
"Bandara?" tanya Ilham. "Una menayakan alamat di sini pada Bian, bilang sama pacar kamu untuk jaga Una dengan benar. Bukan malah mengijinkan semua keinginan Una tanpa bicara dengan saya," cetus Ben pada Leo.
Gerry tergelak, "Urusin pacar loe ya, biar enggak nambah masalah."
Leo hanya berdecak, kemudian meninggalkan ruang kerja Ben menuju tempat tinggal sementara mereka guna persiapan kembali ke Jakarta.
.
.
"Bu, kita langsung pulang ya." Firda yang baru saja mendapatkan telpon dari Ilham agar mengajak Una Pulang.
"Kita ke rumah sakit dulu ya," jawab Una. "Mau ngapain Bu?" tanya Firda.
"Tidur Fir, tidur. Memang orang kalau ke Rumah sakit
ngapain aja."
"Kan belum waktunya Ibu kontrol kehamilan," sahut Firda.
"Surat rekomendasi apa ?"
"Rekomendasi kalau aku boleh naik pesawat," jawab Una. Mereka sudah berada dalam mobil dan Reza mulai melaju.
"Owh," seru Firda. "Eh, naik pesawat? Naik pesawat mau kemana? Enggak ada ya Bu, Za puter balik langsung pulang. Enggak jadi ke Rumah Sakit."
"Loh, kenapa putar balik, aku butuh suratnya Fir. bisr besok kita bisa langsung berangkat."
"Enggak Bu, kalau sampai Ibu naik pesawat untuk susul Bos ke negara sebelah, bisa-bisa saya saya dipulangkan sama Kak Ilham. Mending kalau pulangnya naik bus atau kereta, yang ada saya dikirim pake kotak macam belanja online." sahut Firda.
Una memasang wajah cemberut, namun akhirnya mengikuti apa yang Firda katakan. Sampai di rumah, Una membuka ponselnya berharap ada pesan masuk dari Ben, ternyata tidak ada satu pun pesan atau panggilan tak terjawab dari Ben.
Dahinya berkerut, berfikir kapan terakhir ia komunikasi dengan Ben, pagi hari sebelum...... Una memastikan dengan membuka kembali ponselnya, dan ternyata benar itu dua hari yang lalu.
Kini bukan saja kesal karena Ben mengabaikannya tapi berbagai pikiran negatif bermunculan di kepala Una. Menghela nafas dan menyingkirkan ego dengan mengirimkan pesan pada suaminya.
Menit berubah menjadi jam bahkan sampai malam hari pesan itu sudah dibaca tapi Una belum mendapatkan balasannya.
Esok hari, Una berada di meja makan. Makanannya hanya diaduk dengan tatapan kosong karena melamun. Wajahnya terlihat pucat karena semalaman ia kurang tidur.
"Non Aruna, itu ada yang mencari Bapak. Katanya saudara Bapak, saya minta tunggu di ruang tamu," ucap bi Neneng salah satu asisten rumah tangga.
Una beranjak menuju ruang tamu, saat ini ia mengenakan daster hamil berbahan katun lengan pendek dengan panjang selutut. Rambut yang dicepol asal memperlihatkan leher jenjang Una.
"Mas siapa ya?" tanya Una saat melihat seorang pria duduk pada ruang tamu. Orang itu menoleh pada Una dan mengerutkan dahinya. Una pun sama, ia sedikit berfikir di mana bertemua pria dihadapannya.
"Ahhh, Mas Dean ya?" Dean mendengar panggilan untuknya dari bibir wanita dihadapannya membuat ia tersenyum. Dean berdiri, "Iya saya Dean, kok Mbak ada di sini ya?" Dean penasaran dengan wanita dengan wajah menggemaskan dihadapannya.
"Harusnya saya yang tanya, Mas Dean ini mau ketemu siapa?"
"Ben Chandra, saya mau bertemu Ben Chandra sepupu saya," jawab Dean.
"Owh, sepupunya Abang. Tapi beliau sedang tidak ada," ucap Una.
"Abang? Mbak siapanya Ben?" tanya Dean dengan wajah penasaran. "Saya Aruna, istri dari sepupu Mas Dean."
Dean terdiam, ia membuka ponselnya memandang foto wajah Aruna yang ada diponselnya dengan wajah asli Aruna. "Pantas, aku tidak asing dengan wajahnya ternyata kakak iparku, tapi aslinya lebih cantik dan imut," batin Dean sambil menatap penuh damba melihat ceruk leher Una.
Bi Neneng datang mengantarkan minum. "Mas Dean tinggal dimana?"
"Hmm, sebelumnya saya tinggal di Singapore, tapi sekarang sudah pindah ke Jakarta. Makanya saya datang berkunjung," jawab Dean.
"Suami saya saat ini sedang di Singapur," jawab Una.
"Owh, ya," ucap Dean dusta. Secara ia telah mengetahui di mana keberadaan Ben. "Hmm, apa boleh saya menginap di sini?"
Una baru saja akan menjawab, namun seseorang sudah menjawabnya lebih dulu. "Tidak, anda tidak bisa tinggal kecuali Pak Ben yang memberikan ijin," ucap Leo.
"Oke, kalau begitu saya pamit. Mungkin lain kali saat Ben sudah tiba, " jawab Dean sambil senyum sinis pada Leo. "Ah, mbak bisa hubungi saya ini kartu nama saya ya. Saya siap kok, terima curhat dan lain-lain," ujar Dean pada Una. Lalu pria itu pamit dan meninggalkan rumah milik Ben.
Una memukul lengan Leo, "Kamu sih galak, jadi pergi tuh."
Leo menerima panggilan telpon dari Ben sambil menoleh pada Una. "Baik pak, nona diminta Pak Ben menghidupkan ponsel," ujar Leo masih dalam panggilan dengan Ben.
"Ponselnya sudah aku buang, bilang sama bos kamu enggak usah hubungi aku lagi." Ben disebrang panggilan mendengar dengan jelas apa yang Una sampaikan. Lalu Una meninggalkan ruangan dan Leo dengan raut wajah bingung.
"Mau pulang, mau tinggal selamanya disana terserah. Kemarin-kemarin aku diabaikan terus sekarang minta aku hidupkan ponsel, malas banget," batin Una.
_______
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖