Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Ke manakah Aruna ?



Ben hanya bisa terpaku sambil menyugar rambutnya, sungguh ia tidak bisa mengelak dengan apa yang diucapkan Clara. Apa yang dikhawatirkan menjadi kenyataan, bahwa masa lalunya dengan Clara akan menjadi persoalan bagi hubungannya dengan Una.


Pola pikir Aruna belum bisa menerima gaya hidup seperti yang Ben dan Clara lakukan. Saling memuaskan tanpa rasa cinta. Meskipun sebelumnya Una permah menjalani One Night Stand dengan Ben itu dilakukan karena terpaksa.


Setelah kejadian malam itu Una menghindari Ben, kontaknya pun sudah diblokir. Berbeda dengan Ben yang berusaha menjelaskan dan tetap mendekati Una. Untuk menghindari Ben menjemputnya, Una berangkat lebih pagi dari biasanya. Pulang tepat waktu dan selalu menghindari lembur agar tidak ada alasan bagi Ben untuk menemani atau mengantarnya.


"Loe ada masalah ya sama Pak Ben?" tanya Abil saat mereka sedang di ruang meeting baru saja selesai rapat divisi yang dipimpin Bara.


"Hm, dari awal masalah aku sama dia cuma satu, enggak selevel. Mau dari umur, status sosial, jabatan, kehidupan dan lain-lain."


"Masalahnya di mana kalau kalian bisa menerima? Loe tau gue kayak gini, selengean, enggak ada alim-alimnya tapi cewek gue itu anak pemilik Madrasah. Kebayang enggak sama loe ? Mereka mau menerima gue, entah terpaksa atau memang tutup mata. Intinya tujuan kita menjalani, hari gini masih mainan level dipikir ikut MLM."


"Tawaran sebelumnya masih berlaku enggak ?" tanya Una.


"Tawaran yang mana ?"


"Pura-pura jadi pacar aku."


Abil menggaruk tengkuknya, "Untuk nunjukin ke siapa ?"


"Ya siapa lagi," ucap Una.


"Kalau ke beliau enggak berani, tidak baik untuk kelanjutan masa depan gue. Kalau nanti gue dipecat gimana ?"


***


"Aruna," panggil Ben saat Una sedang menunggu lift sambil memainkan ponselnya. Menoleh ke arah suara, entah sejak kapan Ben sudah berada di lantai itu menunggu Una.


Ting


Pintu lift terbuka, Una masuk begitupun Ben. Bukan hanya mereka berdua yang ada dalam lift, membuat Ben tidak dapat mengatakan apapun pada Una.


Keluar dari lift, Ben menggenggam tangan Una dan berjalan menuju basement. Una yang menolak ingin berteriak namun diurungkan menghargai Ben selaku CEO di sana.


Membuka pintu mobil, "Masuk!"perintah Ben pada Una. Una berdecak, membuang pandangan ke arah lain dengan tubuh masih tidak bergerak.


"Aruna, masuk" ucap Ben dengan nada sudah lebih tinggi dari sebelumnya. Kini mereka sudah di dalam mobil, Ben fokus pada kemudi sambil sesekali menoleh pada Una.


Una memandang ke luar jendela. Saat mobil berhenti di lampu merah, Ben meraih tangan kanan Una dan mengecup punggung tangan itu.


"Aku enggak mau turun, aku mau pulang," ucap Una saat mobil yang dikemudikan Ben berhenti di basement apartementnya.


"Hm," ucap Ben lalu melepas seat belt. "Mau jalan sendiri atau aku gendong."


"Pulang, antar aku pulang atau aku teriak."


"Teriaklah, silahkan." Ben menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Ishhhh," Una melepas seat belt dan ke luar dari mobil. Ben tersenyum lalu berjalan menuju lift menggenggam tangan Una dengan sedikit menyeret gadis itu karena sesekali Una berhenti dan tidak mau melangkah seperti anak kecil yang ngambek karena keinginannya tidak dipenuhi.


"Duduklah." Ben menoleh karena Una masih berdiri saat mereka sudah masuk ke apartement Ben.


Menghampiri Una, "Kita perlu bicara, maka kamu harus duduk."


"Enggak perlu, bicara aja sekarang," ujar Una.


Ben menghela nafas, "Aruna, aku sudah bilang aku serius sama kamu, aku mencintaimu Aruna."


"Enggak, cukup sampai di sini. Hubungan kita hanya urusan pekerjaan. Bapak atasan dan saya bawahan."


"Tidak, hubungan kita masih lanjut. Aku akan temui orangtuamu dan kita segera menikah."


"Egois."


"Hmm."


"Dasar CEO gila."


"Aku benci Om Ben."


"Aku sangat mencintaimu."


Una lalu memukul dada Ben, hanya dibalas dengan Ben yang terkekeh. Kemudian merengkuh gadis itu dalam pelukan. Una menangis di dada bidang Ben.


"Aku harus pulang."


"Setelah kamu tidak marah."


"Aku enggak mau jadi perusak hubungan Om Ben dan Clara. Dia toxic bagi aku dan kak Alan, jadi aku enggak mau jadi toxic bagi kalian berdua."


"Diantara kami hanya teman, tidak ada perasaan apapun. Clara hanya terobsesi merasa dirinya dikalahkan karena aku bisa mencintaimu tapi tak bisa menerima dia."


"Teman, teman apa? Teman mendesah."


Ben menghela nafas, "Aruna," ucap Ben sambil merangkul kedua bahu Una.


"Na, jujur sebagai lelaki dewasa aku butuh pelampiasan. Namanya kucing dikasih ikan asin enggak bakal nolak, tapi aku main aman kok. Hati aku cuma untuk kamu Aruna."


"Kamu mau bilang aku brengsek pun aku terima. Kamu perlu waktu aku akan tunggu." Ben kembali merengkuh Una.


"Aku antar pulang, tapi jangan buat hal ini menggangu hidupmu. Jangan terluka karena aku Na."


"Aku enggak akan menemuimu, sampai kamu siap kita melanjutkan kembali hubungan ini."


Ben mengantarkan Una, dalam perjalanan Una masih enggan membuka suara. Ben mengantarkan Una sampai ke gerbang pagar, ia juga sempat mencium kening Una sebelum pergi. Gadis itu tidak menolak hanya diam, namun kediamannya membuat Ben gelisah.


Sesuai dengan ucapannya, Ben akan memberikan Aruna waktu. Pria itu tidak menghubungi atau dengan sengaja menemui Una di kantor.


Tanpa sepengetahuan Una, Ben tetap mengawasi Aruna melalui orang kepercayaannya. Hal ini Ben lakukan dengan tujuan melindungi Aruna karena dia khawatir Clara akan nekat berbuat sesuatu yang akan merugikan Aruna.


Saat makan siang di Kantin, "Bil, nanti sore temenin aku dong, ngajak Rahmi enggak bisa dia."


"Ke mana ?" tanya Abil.


"Capadocia."


"Ngapain kak ?" tanya Rahmi.


"Main layangan," seru Una.


"Cie yang diduain."


"Rese ihh," ucap Una sambil melempar tisue ke arah Abil.


"Ke mana dulu nih?"


"Glow Cafe."


"Ngapain?" tanya Abil.


"Nostalgia," seru Una sambil terkekeh.


Una, sedang menunggu Abil sambil memainkan ponsel di samping motornya yang berada di basement saat sebuah mobil berhenti tidak jauh dari Una.


Dua orang laki-laki turun, salah satunya mendekap mulut Una, membuat gadis itu berontak namun tidak lama tak sadarkan diri lalu dibawa masuk ke dalam mobil. Situasi di basement cukup sepi, karena sudah lewat satu jam dari jam pulang. Tidak ada yang menyaksikan kejadian tersebut, sampai mobil itu keluar dari area gedung.


Abil baru tiba di basement, melihat sekitar mencari Una, "Katanya nunggu di parkiran basement, ke mana kali tuh bocah," ucap Abil bermonolog.


Menghubungi ponsel Una, lama tidak diangkat namun Abil sayup-sayup mendengar nada dering ponsel milik Una. Mendekat ke arah motor milik Una, Abil berjongkok meraih ponsel yang berada di bawah motor Una.


__________


Yuhuuuu, jangan lupa like, komen, dan lain-lain. 🥰