
Akhirnya pintu ruangan diketuk lalu masuklah seorang wanita dan Pria yang sosoknya sangat Una kenal.
Una mengalihkan pandangan saat pria itu menatap lekat pada Una.
"Loh, Kak Alan ya." Ucap Meisya.
Alan tersenyum, "Sebentar gengs, gue ada perlu dulu nih sama mereka," kata Bira.
"Boleh kami duduk," ucap Alan.
"Silahkan kak," jawab Meisya.
Una merasa hari ini tidak berpihak padanya, secara kebetulan ruangan yang mereka tempati menggunakan meja persegi dengan 6 kursi saling berhadapan. Mario duduk bersisian dengan Bira sedangkan Meisya dengan Una.
Dua orang yang baru saja datang, sudah jelas akan duduk di kursi kosong. Pasangan yang membuat Una emosi jiwa, ditambah Alan yang mengambil duduk disebelah Una dan Clara di sebelah Bira.
"Hai Aruna," ujar Clara sambil menopang dagu.
Una hanya tersenyum terpaksa. Bira menyerahkan map entah berisi berkas apa yang tadi ia baca lembar demi lembar.
"Kau tau Aruna, kami sedang bekerjasama urusan bisnis. Maaf kalau mengganggu waktu kalian. Setelah ini aku akan menemui Ben, aku dan dia janji makan siang bersama sekaligus membicarakan bisnis juga." Clara berbicara dengan nada genit dan manja.
"Sudah sana, urusan kita sudah beres," ucap Bira pada Clara.
"Owh iya, kapan kamu mengadakan resepsi pernikahan? Keburu perutmu semakin besar loh, upss," ucap Clara pada Una.
"Uhukkk," Una yang sedang minum saat Clara bicarapun tersedak karena kalimat yang diucapkan wanita itu.
Alan yang berada disampingnya, mengelus punggung Una. "Pelan-pelan minumnya." Una menggerakan tubuhnya karena tidak nyaman dengan sentuhan Alan.
"Oke, aku permisi dulu." Clara menyibakan rambutnya lalu berdiri dan berjalan menuju pintu.
Mereka melanjutkan obrolan yang terjeda, menyebutkan pesanan pada pelayan setelah mengecek buku menu.
"Kak Alan, wanita tadi itu calon istrinya ya?" tanya Meisya sambil kakinya menyenggol kaki Una. Secara Meisya tau Clara adalah wanita yang menyebabkan hubungan Una dan Alan berakhir.
"Hm, Clara? Bukan kami hanya rekan kerja."
"Rekan di ranjang juga," sahut Una lirih namun bisa didengar.
"Kalau itu, sepertinya suamimu yang lebih tau," ucap Alan pelan.
Una menoleh pada Alan dengan sorot mata tajam, "Ehemmm," seru Bira.
"Na, masih suka nyanyi enggak?" tanya Bira mencairkan suasana.
"Enggak, tapi kadang aku kangen saat-saat kuliah dulu. Aku nyanyi itu bagiku hiburan tapi dibayar, seru aja jadinya."
"Ada keinginan untuk jadi penyanyi profesional?" tanya Mario.
"Jauh itu mah, aku nyanyi asal bunyi doang gak tau ilmunya" jawab Una sambil tertawa.
Obrolan mereka terhenti karena pelayan datang mengantarkan pesanan.
"Eh, nanti kita kumpul lagi di tempatnya Mario. Yang agak jauh," usul Meisya.
"Nah, good idea nih," sahut Bira.
Una sudah tidak antusias dengan pertemuan tersebut, pernyataan Clara membuat hatinya berfikir macam-macam. Ia hanya menanggapi obrolan dengan senyum dan sesekali ikut tertawa menanggapi candaan teman-temannya.
"Aku permisi ke belakang ya." Una yang mulai badmood karena ada Alan, keluar dengan alasan ingin ke toilet.
Ia sengaja tidak terburu-buru saat di toilet, berharap saat ia kembali teman-temannya akan mengakhiri pertemuan.
"Huftt," Una mencuci tangannya lalu kembali ke ruangan, namun saat berada di lorong arah toilet terlihat Alan berjalan menuju arahnya.
Una tetap pada langkah tidak menoleh atau menyapa, tapi saat melewati Una tiba-tiba Alan menarik lengan Una hingga tubuh Una berada dipelukan Alan.
"Lepas Kak," Una mencoba melepaskan cengkraman Alan.
"Kenapa? Kamu enggak usah munafik Na."
"Aku enggak ngerti maksud Kak Alan, lepasin Kak."
"Aku pegang tanganmu aja kamu berontak, tapi Ben macem-macem sampai kamu hamil kamu diam aja hah."
"Lepasss!" Jerit Una.
"Ahhh, apa kamu mau coba sentuhanku juga?" Pertanyaan Alan lebih kepada mengejek.
Una merasa terhina dengan ucapan kalimat-kalimat Alan, matanya sudah mulai berembun, bibirnya bergetar menahan tangis.
"Yang kamu lihat saat itu adalah pelampiasan karena hubungan kita, tapi aku enggak ngerti kamu itu polos atau emang beg* Na."
Sudut mata Una sudah menitikan air mata, "Ben dan Clara sudah dekat lebih dari 3 tahun, udah kayak gimana hubungan mereka masa kamu enggak tau." Alan tertawa, Una menghempas keras tangannya hingga terlepas dari cengkraman Alan.
Brukk
Una menabrak seseorang, "Maaf, saya enggak__" kalimat Una terhenti ketika ia menatap orang yang ditabraknya adalah Leo.
"Anda baik-baik saja ?" tanya Leo.
Una menggeleng lalu menoleh pada Alan di belakangnya.
"Maaf, sepertinya majikan saya tidak nyaman anda berada disekitarnya."
Alan tertawa mendengar ucapan Leo, "Aruna, jadi kamu memilih Ben karena ingin jadi nyonya besar, pake bodyguard segala, tidak sangka ternyata seorang Aruna benar-benar munafik. Aku pikir kamu beda dengan perempuan lainnya, taunya sama aja. Matre," Alan terkekeh.
Una mengepalkan tangannya, saat ini mereka menjadi pusat atensi pengunjung resto yang ingin ke toilet.
"Antar saya pulang," ajak Una pada Leo.
Leo terdiam, menatap datar pada Alan, "Kamu jangan pulang Na, emang enggak penasaran Clara mau ngapain ke kantor Ben. Dia itu pintar merayu, aku aja bisa kemakan rayuannya apalagi Ben yang sudah ketagihan sama bodynya Clara. Mendingan__"
"Cukup! Cukup Kak Alan."
"Aku serius Na, sebaiknya kamu segera menyusul Clara," ujar Alan dengan wajah datar lalu berjalan menjauhi Una dan Leo.
Una sudah berada di mobil, Leo yang sedang fokus pada kemudi sesekali melihat ke arah Una yang masih basah pipinya.
Sebelum pergi Una sempat mengirimkan pesan pada Meisya bahwa ia langsung pulang karena tiba-tiba tidak sehat.
"Kita putar balik,"
"Ke kantor?"
"Iya."
Leo memutar mobilnya lalu menuju ke kantor Ben
Flashback On
"Aku permisi ke belakang ya."
Tidak lama Alan juga pamit ke toilet, "Bira ngapain ngajak Kak Alan gabung sih," ucap Meisya.
"Siapa yang ngajak, kebetulan aja. Enggak enak gue ngusir, walaupun masih saudara tapi yang namanya kerjasama bisnis ya enggak kenal saudara."
"Loe tau kenapa Kak Alan dan Una putus?"
"Enggak."
"Una menyaksikan adegan live Kak Alan sama si Clara."
"Hahh, Clara yang tadi. Yang bener ? Gue cuma tau mereka udahan ya udah."
"Clara itu juga masa lalunya Ben suami Una, loe enggak lihat itu dia manas-manasin Una?"
"Parah bener si Clara."
"Cinta oh cinta, rumit," seru Mario.
Cukup lama namun Una belum kembali juga, "Gue mau susul Una, lama bener dia di toilet."
Drt drt
Ada pesan masuk di ponsel Meisya, "Hmm, Una pamit duluan. Gue curiga ini ada sebabnya sama Kak Alan, kemana coba itu orang."
"Iya dari tadi juga belum balik lagi."
Flashback off.
Una telah sampai di depan ruang kerja Ben, "Maaf Bu, Bapak sedang ada tamu." Nora mencegah Una masuk.
"Siapa tamunya ?"
Nora belum menjawab, Una mendengar suara percakapan dari ruang kerja Ben karena ternyata pintu tidak ditutup rapat. Terdengar suara wanita sedang tertawa dan Una yakin itu suara Clara.
Una bergegas masuk tanpa mengetuk pintu.
"Abang!" panggil Una pada Ben dengan tangan meremas dress yang ia kenakan
_________
Hayyyyy,, good morning gaes.
jangan lupa jarinya ya ☺