Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Permintaan Alan



Enjoy reading 😎⚘


_______


"Kak, aku harus ijin dulu kak."


Alan tidak menggubris ucapan Una, ia membawa Una menuju mobilnya dan mengemudi menuju ke suatu tempat.


"Kak, aku mau pulang." Una tidak keluar dari mobil saat Alan memarkirkan mobilnya pada carport.


Alan turun lalu membuka pintu mobil dari luar, melepaskan seatbelt Una, "Kak, antar aku pulang." Una paham bukan hanya dia saja yang nanti akan menjadi sasaran kemarahan Ben tapi Firda dan Leo.


"Turun dulu, kita harus bicara."


"Tapi Kak_"


"Turun Aruna!"


Una pun perlahan menurunkan kakinya, Alan memperhatikan langkah Una. Menatap wajah Una yang menunjukan kekhawatiran dengan pipi chubby dan perut yang membola terlihat menggemaskan.


Alan membayangkan jika Clara akan seperti Una, dengan perut buncit dan mulut yang ceriwis. Sepintas Alan tersenyum, wajahnya kembali datar manakala iya menyadari dihadapannya adalah Una.


Berada di pekarangan sebuah rumah sederhana, "Ayo masuk."


"Disini saja Kak," jawab Una.


Alan tersenyum sinis, "Kamu enggak usah khawatir, aku tidak akan macam-macam."


"Dengan Kak Alan bawa aku kemari tanpa ijin itu sudah macam-macam. Mau bicara apa, segera Kak!" Una duduk pada kursi yang ada di halaman rumah itu.


Akhirnya Alan mengalah, ia ikut duduk pada kursi yang ada.


Una melihat ke arah gerbang pagar, ia khawatir jika Leo atau orang suruhan Ben akan datang dan mereka akan ribut.


"Aruna," panggil Alan. Una pun menoleh pada Alan. "Apa kamu benar-benar bahagia dengan Ben?"


Una menghela nafas, "Kak, aku sedang hamil anak suamiku, mana mungkin aku tidak bahagia." Alan kembali ingat Clara, ia akan menanyakan hal yang sama pada Clara.


"Kalaupun aku tidak bahagia, itu urusan aku." Alan terkekeh, "Tentu saja itu juga urusan aku, karena kalau bukan karena si bang_sat Ben enggak mungkin kamu ninggalin aku."


"Aku pergi dari Kakak, karena kamu selingkuh dengan Clara bukan karena Ben dan ini sudah lewat enggak perlu dibahas lagi."


"Karena kalau kamu tidak bahagia aku akan merebutmu kembali."


"Aku bukan barang yang bisa diperebutkan."


"Apa kamu tau bagaimana kelakuan suamimu di luar?" tanya Alan. "Bagaimana jika dia masih bertemu Clara di luar, aku tidak akan buang waktu dengan mengejarmu kalau Clara juga mengakhirinya dengan Ben."


"Ini salah Kak, salah. Aku percaya suamiku."


Alan terbahak, "Sebaiknya kau tanya pada suamimu, ketika di Surabaya apa mereka bertemu?"


Una menggelangkan kepalanya, "Kemungkinan itu bisa saja Kak."


"Tapi kamu tidak tau apa yang terjadi kan ?" Una berdiri sambil memegang perutnya, "Kak, aku harus pulang."


"Come on, Na. Kalau di lain waktu kenyataannya suamimu tidak sepolos itu bagaimana? Apa kamu akan membiarkan?"


Di tempat lain, Bian dan Ben sedang berada dalam rapat perusahaan, Ben membuka berkas yang sedang dipresentasikan.


Ilham masuk ke ruang rapat, ia menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Ben yang sedang duduk. Ilham membisikkan sesuatu yang membuat Ben terkejut.


Ben refleks berdiri, peserta rapat yang sedang presentasi dan yang sedang menyimak menoleh pada Ben. Pria itu segera berjalan ke luar ruangan, namun sebelum sampai di pintu ia berbalik, "Rapat kita lanjutkan besok." Bian yang tidak tau alasan Ben menunda rapat segera mengikuti Ben. "Ada apa?"


"Aku harus mencari Una."


Flashback On


Setelah Firda memastikan tiada Una di toilet, Leo mengecek cctv dan memastikan bahwa ada pria yang memaksa dan membawa Una menuju mobilnya.


Leo kembali mengemudi, Firda diduk disebelahnya. "Bang, kita mau cari ke mana?"


Ilham menuju ruang rapat, menghampiri Ben dan membisikan informasi perihal Una.


Flashback off


Leo sudah tiba di titik lokasi Una berada, ia dan Firda keluar dari mobil.


"Aku tidak bisa memprediksi hal yang belum terjadi." Una melangkahkan kaki meninggalkan Alan namun Alan menghentikan Una dengan mencekal tangan kiri Una.


Leo mendorong gerbang hingga menimbulkan suara berdecit, segera ia berlari ke arah Alan. Ketika turun dari mobil Leo sudah mendengar suara Aruna dari luar.


Una dan Alan menoleh pada Leo. Bughhhh, Leo melepaskan pukulan ke wajah Alan. Dari sudut bibir Alan keluar darah karena luka sobek.


Brakkkk, Leo meraih kerah Alan dan mendorong tubuh Alan hingga menempel ke dinding rumah, "Punya nyali juga loe, sampe bawa majikan gue." Alan terkekeh. Plakk, Leo menampar pipi Alan.


Firda merangkul Una yang terkejut, apa yang dikhawatirkan oleh Una terjadi. Mereka akan baku hantam, apalagi jika Ben datang. Ia tidak bisa membayangkan akan semarah apa suaminya.


Menghampiri Leo dan Alan, "Bang, sudah. Baiknya kita segera pergi," ucap Una.


"Manusia macam dia harus diberi pelajaran baru kapok, aku sudah peringatkan sebelumnya untuk tidak mengganggu orang yang sedang aku jaga."


Alan kembali tergelak, "Seharusnya aku tadi melakukan hal lebih dari merangkul dan menggenggam tangan Una. Kalian akan lakukan hal apa padaku Hah?" teriak Alan.


"Aku akan membunuhmu."


Una, Firda dan Alan menoleh ke arah suara. Leo masih menghimpit Alan ke dinding, ia sudah mengira jika Ben akan datang karena dirinya sudah menghubungi Ilham.


Ben berjalan cepat menghampiri Una, "Kamu tidak apa-apa sayang?" Menyentuh kedua sisi wajah Una dengan tangannya.


"Ben, apa kau belum menceritakan tentang pertemuanmu dengan Clara di Surabaya? Apa yang kalian berdua lakukan."


Ben menghampiri Alan. Bughhhh, wajah Alan kembali mendapatkan bogem mentah, tapi kali ini dilayangkan oleh Ben.


Alan terkekeh, "Sepertinya kamu takut Una mengetahuinya."


Ben hendak melayangkan pukulannya kembali, "Abang." Una memeluk Ben dari belakang membuat Ben menghentikan geraknya.


"Aku tidak perduli Abang lakukan apa dengan Clara, itu bisa kita bicarakan nanti. Jangan kotori tangan Abang." Una terisak masih dengan memeluk Ben.


Ben berbalik dan merengkuh Una ke dalam pelukannya, Leo melepaskan Alan.


"Kali ini loe gue lepasin," ucap Leo.


"Ben."


Ben yang melangkah hendak meninggalkan lokasi terhenti karena panggilan Alan.


"Gue pengen akhiri semua ini, Aruna udah milik loe sepenuhnya. Gak ada tempat lagi di hati Una untuk gue. Buktikan kalau kejadian kemarin itu enggak benar, gue tunggu langkah loe untuk hentikan Clara."


Una menoleh, "Kak Alan," ucap Una.


"Gue pengen Clara berhenti ngejar Ben dan kembali ke gue Na."


Una menatap Ben, "Tunggu saat yang tepat," ucap Ben.


Ben keluar dari kamar setelah menemani Una hingga tertidur, duduk lalu bersandar pada sandaran sofa. Ilham, Firda dan Leo masih menunggu di ruang tamu.


"Aku tidak ingin ini terulang lagi, ini kedua kalinya kau lalai." Ben melirik Leo.


"Siap Bos, tau sendiri perempuan suka ngeyel. Enggak paham sama bahaya."


"Enggak semua perempuan kali, aku enggak gitu loh."


"Bedalah, loe yang nyariin paling tukang kredit panci kalau Nona Aruna kelas kakap musuhnya."


Ben berdecak, "Perketat pengawasan Clara dan Alan," titah Ben pada Ilham.


_____


Tinggalkan jejak dengan like, komentar, favorit, bintang 5 dan vote. Salam sayang dari author ❤💝