Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Tespek



Senin pagi, kalimat 'I DON'T LIKE MONDAY' menjadi jargon baru untuk Una. Karena sangat kebetulan sejak ia membuka mata banyak kejadian yang membuatnya emosi.


Dimulai dari kegaduhan di rumah kost karena matinya aliran listrik, ia harus bersiap ke kantor dengan gelap-gelapan. Ben yang kemarin saat mengantarkan pulang mengatakan hari ini akan menjemputnya, tapi ternyata sudah 15 menit menunggu belum kelihatan dan saat dihubungi kontaknya tidak aktif. Bahkan sampai jam makan siang Una belum mendengar kalimat permintaan maaf karena Ben lupa dengan janjinya. Pak Bara yang mengadakan briefing secara tiba-tiba saat mood Una kocar-kacir. Lalu terselipnya bukti pembayaran pajak bulan lalu yang membuat Rahmi heboh membongkar mejanya juga tumpukan Map. Mau tidak mau Una membantunya juga.


"Enaknya makan apa ya ?"


"Makan orang," ucap Abil saat mereka tiba di kantin.


"Aku lagi pengen makan Iga Bakar Mandala, tapi jauh," ujar Una yang akhirnya memilih salah satu menu di kantin.


"Kayak orang ngidam aja makan pake syarat dan ketentuan berlaku, mau makan aja kudu ke Bogor dulu."


Degh, kalimat Abil agak mengganggu pikiran Una.


"Tapi Iga bakar Mandala memang cuma ada di Bogor kak," jawab Rahmi.


"Sudah-sudah lupakan si Iga, gimana kemarin acaranya Bil ?" tanya Una.


"Lancar, bulan depan fix gue jadi suami, saat gue nikah loe harus datang ya Na."


"Oke."


Makanan di hadapan Una terlihat kurang menarik, apalagi saat masuk ke mulutnya membuat rasa mual itu muncul kembali. Tetap memaksakan untuk makan mengingat tadi pagi Una tidak sarapan.


Sore harinya, Una pulang diantar Leo. Di perjalanan ia memainkan ponselnya, membuka aplikasi kalender. Una membaca tanggal dan mengecek tanggal-tanggal bulan lalu yang ia ditandai.


Jantung Una berdebar saat memastikan jadwal bulanannya sudah terlewat jauh. Ia lalu memasukan ponselnya ke dalam tas, kekhawatiran terlihat di raut wajahnya.


"Bang Leo, mampir ke apotek di Ruko depan ya!"


"Oke"


Una memasukan kantong plastik berisi beberapa testpek yang saru saja ia beli ke dalam tas. Untung saja sore ini jalanan tidak se ramai biasanya, rasanya ingin segera sampai untuk memastikan bahwa perkiraannya salah.


Sampai di kamar Una menuju ke toilet, menunggu beberapa saat untuk benda-benda tersebut menampilkan hasilnya.


Una mengucek matanya memastikan penglihatan saat ketiga benda pipih berbentuk stik menampilkan dua garis dengan warna berbeda. "Hamil, aku hamil," gumam Una.


Tubuhnya seketika tremor dan jantungnya berdebar.


Duduk di pinggir ranjang, banyak pertanyaan di benaknya.


Bagaimana menyampaikan pada Om Ben ?


Bagaimana jika Ayah dan Kak Huda tau ?


Waktu ia memutuskan tinggal sendiri dan keluarganya pindah ke Bandung, Aruna memastikan bahwa ia bisa menjaga diri. Ayah dan mendiang ibunya pasti sangat kecewa jika mengetahui apa yang terjadi padanya.


Una beranjak ke kamar mandi, melepas blouse kerjanya memperhatikan tampilannya pada cermin. Mengelus perlahan perutnya yang masih rata.


Tidak yakin dengan jumlah minggu yang lewat dari jadwal bulanannya, Una berencana untuk konsultasi ke dokter.


'Kira-kira respon Om Ben bagaimana ya ?' batin Una.


Jam dinding kamar Una sudah menunjukan hampir tengah malam, namun ia belum bisa memejamkan matanya.


Mengecek ponselnya, berharap ada pesan atau panggilan dari Ben. Sejak tadi pagi Ben masih belum menghubunginya, bahkan pesan yang Una kirim tadi pagi masih ceklis 1.


"Hufttt."


Entah pukul berapa Una tertidur, yang jelas pagi ini ia bangun dalam keadaan paling tidak nyaman. Badannya terasa lemas, mata yang masih terkantuk, seakan ada beban di atas kepalanya hingga terasa berat dan yang paling buruk adalah rasa mual.


Tiba di basement, hari ini Una memutuskan membawa motor. Melepas helm dan sweaternya, "Nona Aruna!" panggil Leo. "Iya," jawab Una. "Kenapa pakai motor, tadi pagi saya sudah kirim pesan akan jemput. Saat ini Pak Ben sedang tidak bisa dihubungi jadi kalau mau ke mana-mana tolong info ke saya."


Una menghela nafas, "Iya Bang." Lalu berjalan menuju lift.


"Kak Una tadi ada yang nyariin," ucap Rahmi.


"Cantik parah orangnya Na. Tinggi, putih, rambutnya panjang, Abil aja natap enggak pake ngedip," ujar salah satu rekan Una lainnya.


"Kambing dibedakin juga si Abil kepincut. Tapi udah dipastiin punggungnya enggak bolong? Sebab ciri-ciri yang kamu sebutkan lebih mirip sund*l bolong," ucap Una. Abil terkekeh mendengar kalimat Una.


Setelah itu divisi keuangan melanjutkan pekerjaan rutin mereka. Hingga saat menjelang makan siang, ponsel Una bergetar.


Ben yang hampir dua hari ini tidak ada kabar, akhirnya menghubungi Una.


Una membuka pintu ruang kerja Ben, pria yang sedang fokus pada berkas dimejanya menoleh ke arah pintu dan tersenyum.


"Hey, kemarilah."


Una berjalan mendekat, Ben menarik pinggang Una hingga wajahnya berada di depan dada Una, "I miss you," ucap Ben sambil mendongak pada Una. Una mengecup pelan bibir Ben, sambil tersenyum.


"Aku hubungi kok enggak aktif?"


Ben tidak menjawab, lalu membuka laci mejanya mengambil ponsel yang layarnya hancur.


"Ponsel ku jatuh, sampai rusak begini. Baru sempat aku ganti, kemarin ada urusan mendadak jadi aku batal menjemputmu."


"Hmm."


"Kita makan siang, mau ke luar ?" Una menggeleng.


"Kita pesan, makan di sini saja."


"Boleh."


Una menghadap pada jendela di belakang Ben, sedangkan Ben meminta Nora untuk memesan makanan dan mengantarkan ke ruangannya.


Una menghentikan suapannya, saat rasa mual kembali datang. Lalu meraih botol air mineral miliknya.


"Kenapa berhenti ? Itu belum habis." Ujar Ben.


Una menggelengkan kepala, "Aku mual, Om."


"Besok aku harus ke Singapur, ada sedikit masalah dengan perusahaan. Kamu akan diantar jemput Leo." Ben merangkul bahu Una yang duduk disebelahnya, setelah selesai dengan makan siang mereka.


"Hmm."


"Na, kamu pucat. Kita ke dokter ya!"


"Aku enggak apa-apa, semalam kurang tidur."


"Jaga kesehatan selama aku pergi atau kamu ikut saja ? Aku enggak yakin bisa menahan rindu," seru Ben sambil mengacak rambut Una.


Una dan Rahmi sedang berada di area lobby, mereka akan pulang. Sambil menunggu Leo, Una memainkan ponsel.


"Kak Una, itu perempuan yang tadi pagi cari kakak." Rahmi menunjuk pada gadis yang berada tidak jauh dari pintu masuk Lobby utama.


Namun yang menjadi perhatian Una adalah gadis itu tersenyum pada pria yang berjalan ke arahnya tidak lain adalah Ben. Memeluk lengan Ben, Ben tersenyum lalu keduanya berjalan meninggalkan ruangan.


"Kak," panggil Rahmi.


"Eh, aku duluan ya, Bang Leo sudah di basement."


"Langsung pulang ?" tanya Leo saat mobil yang dikemudikannya meninggalkan parkiran.


"Hmm." Una menatap ke luar jendela. 'Tidak perlu berprasangka negatif, aku harus percaya pada Om Ben dia tidak akan macam-macam,' batin Una.


____________


Hayyyyy, 🥰


Jangan lupa goyangkan jempol, untuk like, komen, vote dll.