
"Firda, kamu stand by. Aruna baru saja tertidur, temani dia. Jika ada tanda-tanda akan melahirkan bawa ke Rumah sakit nanti aku menyusul."
Namun yang wanita yang sedang dibicarakan dan dikhawatirkan kondisinya, saat ini sedang terlelap.
Hampir dua jam Una tidur, Firda beberapa kali mengecek kondisinya namun terlihat masih lelap. "Ibu sudah bangun," ucap Firda saat melihat Una dalam posisi duduk di pinggir ranjang, "ada keluhan enggak Bu? Tadi Pak Ben minta dikabari kondisi Ibu."
"Enggak apa-apa Fir, tapi memang aku ngerasa enggak enak badan. Ini gerah deh, padahal ac nya udah hidup."
"Serius, Ibu enggak apa-apa?"
"Iya," jawab Una sambil mengusap keringat di leher dan didahinya.
"Aku mandi dulu deh."
Berada di bawah guyuran air dingin berharap rasa gerahnya hilang. Tetiba, rasa tidak nyaman di perut dan area pinggangnya muncul kembali. Memutar keran shower untuk menghentikan aliran air dan berpegang pada dinding kamar mandi, mengatur perlahan nafasnya.
Meraih handuk yang menggantung lalu mengeringkan tubuhnya secepat mungkin dan melilitkan handuk ditubuhnya. Mencari baju dengan bahan paling nyaman dan longgar.
Rasa tidak nyaman kembali datang, Una memilih merebahkan tubuhnya. "Shhh," desisan halus keluar dari bibirnya. Tenggorokannya terasa kering seperti dahaga karena lari maraton dengan jarak yang cukup jauh. Meraih gelas di atas nakas namun entah kenapa malah terlepas dan jatuh.
Prankkk.
Pintu kamar pun terbuka, Firda menghampiri Una, "Bu," ucap Firda yang melihat pecahan gelas di lantai. Bibi pun masuk ke kamar, "Non Aruna, hati-hati jangan turun dulu. Biar saya bersihkan."
"Bi, mending ambil air minum dulu. Ibu sepertinya haus," ucap Firda.
Una berbaring ke kiri, sambil terus mengelus perutnya. Wajahnya terlihat pucat dan keringat dingin mulai membasahi pakaiannya. Kini ia mulai merintih. "Bu, kayaknya kita ke Rumah Sakit aja deh," ajak Firda.
Bibi masuk membawakan gelas berisi air dan menyerahkan pada Una yang kini sudah dalam posisi duduk.
"Non Aruna mau melahirkan ya?"
"Aku enggak tahu Bik, dari tadi perut sakit seperti mau BAB, pinggang aku juga rasanya begini," keluh Una.
"Iya, ini mah sudah mulai kontraksi," ucap Bibi.
"Ya udah kita ke Rumah Sakit bu," ajak Firda. "Nanti dulu Fir, pasti lama pembukaannya. Waktu istri Kak Huda juga katanya begitu," sahut Una.
"Coba dicek Non, sudah ada cairan keluar belum?"
"Gimana ceknya Bi?"
"Yah, dilihat ******_********, apa sudah ada lendir, flek atau darah," jawab Bibi.
Aruna panik saat menurunkan pantiesnya dan melihat ada bercak darah di sana.
Tok tok
"Bu, sudah belum?" tanya Firda. Una segera menaikan kembali penutup tubuh bagian inti yang berbentuk segitiga.
"Kita ke Rumah sakit sekarang Bu, Leo sudah siapkan mobil di depan. Tas yang sudah ibu siapkan juga sudah masuk mobil."
Selama perjalanan, Una memejamkan matanya dan terus mengatur nafas sekedar mengurangi rasa sakit. Bahkan sempat meremas baju yang ia pakai untuk menetralisir rasa yang muncul.
"Masih jauh ya?" tanya Una.
"Di depan, kita langsung ke IGD," jawab Leo.
Una yang langsung disambut oleh perawat dan diarahkan ke ruang bersalin. Setelah diperiksa ternyata baru pembukaan empat, masih perlu sabar menahan sakit sampai pembukaan lengkap dan bayi siap lahir.
Ketika kontraksi datang, Una mengencangkan cengkramannya pada pinggiran ranjan dan terus mengatur nafasnya.
Tidak lama Ben datang saat kontraksi Una kembali hadir. Menggenggam erat jemari Una, sesekali ia kecup punggung tangan orang yang sangat dicintainya. Menghapus keringat di dahi Una, Ben sebenarnya cukup panik namun tidak ia tampakkan.
"Sayang," panggil Ben, ia sungguh tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu. Ben yang saat itu sudah menggulung kemejanya sampai siku terlihat makin gagah dan menawan. Una bisa melihat beberapa perawat yang berada di ruang bersaling mencuri pandang ke arah Ben.
Una memasang wajah cemberut ketika kontraksinya mereda. "Kenapa, sayang? Sakit banget? Aku tadi sudah tanya dokter untuk kamu di operasi saja. Karena sudah masuk pembukaan jadi rekomendasinya melahirkan normal."
"Abang, bisa enggak gantengnya disimpen dulu. Jadi pusat perhatian aja, kesel tau lihatnya."
"Ibu sudah makan belum?" tanya perawat.
"Belum, enggak kepingin makan. Pinginnya cepat keluar bayinya."
"Justru itu, mengeluarkan bayi perlu tenaga, disuapi ya Pak. Nanti ada yang antar makanan."
Una hanya sanggup menelan beberapa suap, setelah itu kontraksinya datang kembali. Meremas tangan Ben, "Ishhhh, sakit Bang," rengek Una.
"Iya, sabar sayang," jawab Ben sambil mengelus punggung Una.
"Sabar, sabar, kamu sih enak enggak ngerasain. Taunya enak bikinnya doang," ucap Una asal.
Ben menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Una, "Kalau itu sih bukan aku aja yang ngerasa enak, kamu juga kan?"
"Ishh, berisik. Pijitin pinggang aku," pinta Una sambil meringis. Ben mengusap pinggang Una yang sudah menggunakan baju pasien berbentuk kimono.
Menjelang sore, Una merasakan kontraksi semakin hebat dan semakin sering dengan jeda waktu yang sangat dekat.
"Arghhhhhh, shhhhh, shhhhh, kok seperti ada dorongan ya Sus, aku mau ngeden ini. Dokter, Abang panggilin dokternya. Kayaknya, anak-anak aku berebut mau keluar," jerit Una.
Lalu cairan bening keluar dari tubuh Una, "Ketuban pecah, Dok," ucap perawat.
Dokter yang memang sudah siap di ruangan itu untuk memantau dan membantu para Ibu yang akan melahirkan, tersenyum mendengar terikan Una. Salah satu perawat memposisikan kaki Una untuk proses persalinan.
"Wah, sudah pembukaan lengkap nih. Sudah tidak sabar mau bertemu Ayah Bunda ya, kita lihat siapa yang menang rebutan untuk keluar lebih dulu," sahut Dokter, "ambil nafas, kalau saya masih aba-aba dorong ya Bu, mengejan."
Una melakukan intruksi dokter, "Hhhhhhhhh."
"Oke, bagus, sedikit lagi. Tarik nafas, dorong."
"Hhhhhhhh, ahhhhhhh,"
"Alhamdulillah, perempuan ya." Bayi perempun Una dan Ben dibawa untuk dibersihkan.
"Sayang, Aruna... Aruna, Dok kenapa dengan istri saya," perawat mengecek kondisi Una.
"Ibu, jangan tidur ya."
"Aruna," Ben menepuk kedua pipi Aruna.
"Haus, mana ngantuk," ujar Una.
Ben menyodorkan gelas berisi air ke mulut Una.
"Ayo Bu, kita keluarkan lagi ya. Yang kedua lebih mudah loh," seru Dokter.
"Tarik nafas, dorong Bu."
"Erghhhhhhhh," Una mengejan tanpa terasa ia menjenggut rambut Ben.
Bayi kedua telah lahir dan segera dibawa untuk dibersihkan.
"Perempuan normal, berat 2,7 kg panjang 49 cm. Laki-laki normal, beeat 2,9 kg panjang 55 cm." Selamat Ibu dan Bapak," ucap perawat lalu meletakan kedua bayi Una dalam pelukannya.
Ben berkali-kali mencium kening Una, terakhir melu_mat cepat bibir Una karena rasa bahagia. "Terima kasih, sayang."
## Jangan lupa like dan hadiahnya ya 😊,,
Seneng kali ya punya baby twin
_______
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖