Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Rencana Balas Dendam



Selamat bermalam minggu dan selamat membaca 😊


_____


Lewat tengah malam Una terbangun karena merasa haus, perlahan ia bergerak menggeserkan lengan Ben yang memeluknya. Namun Ben malah terbangun, "Mau ke mana sayang?"


"Aku haus Bang, mau ambil minum."


Ben beranjak bangun, "Tunggu di sini, biar aku yang ambilkan." Ben kembali membawa sebotol air mineral dan gelas, menuangkan sebagian isi botol ke gelas dan mengarahkan ke mulut Una dan membantu Una menghabiskan isi gelas.


Meletakan gelas yang sudah kosong dan botol air ke atas nakas "Lanjutkan lagi tidurnya, kamu harus banyak istirahat." Ben mengelus wajah Una yang sudah berbaring kembali.


"Abang."


"Hmm."


Una berbaring miring ke kiri, posisi itu membuat Una dan Ben saling berhadapan. "Aku takut."


Ben mendekatkan tubuhnya, "Takut apa sayang? Ada aku di sini."


Una membenamkan wajahnya pada dada Ben, "Aku takut lihat Abang seperti tadi, takut abang terluka, takut kalau abang melukai orang lalu abang dipenjara, takut kalau__" Una terisak.


"Sttt, sudah sayang. Maafkan aku," ucap Ben sambil mendekap Una yang masih terisak. "Apa yang aku lakukan dalam rangka melindungi milikku. Tidak ingin kalian tersakiti." Mengelus pelan punggung Una hingga tertidur.


Di tempat berbeda tepatnya di apartement Alan, setelah kembali dari rumah singgah ia membawa Una, Alan bersandar pada sandaran sofa. Terbayang perkataan Una siang tadi,


"Kak, aku sedang hamil anak suamiku, mana mungkin aku tidak bahagia."


"Kalaupun aku tidak bahagia, itu urusan aku."


"Tentu saja itu juga urusan aku, karena kalau bukan karena Ben bang sat itu enggak mungkin kamu ninggalin aku."


"Aku pergi dari Kakak, karena kamu selingkuh dengan Clara bukan karena Ben dan ini sudah lewat enggak perlu dibahas lagi."


"Karena kalau kamu tidak bahagia aku akan merebutmu kembali."


"Aku bukan barang yang bisa diperebutkan."


"Apa kamu tau bagaimana kelakuan suamimu di luar?"


"Bagaimana jika dia masih bertemu Clara di luar, aku tidak akan buang waktu dengan mengejarmu kalau Clara juga mengakhirinya dengan Ben."


"Ini salah Kak, salah. Aku percaya suamiku."


Alan mengusap kasar wajahnya, bersamaan dengan suara pascode dan pintu terbuka.


"Kamu kemana aja sih? Berkali-kali aku telpon enggak diangkat." Clara berjalan menghampiri Alan dan duduk dipangkuan Alan.


"Ponselku tertinggal di kamar, aku baru tiba."


Clara, mengalungkan kedua tangannya pada leher Alan. "Alan, anak kamu nih."


Alan mengerutkan dahinya, "Anak aku?"


"Ya anak kamulah, aku kan hamil anakmu."


"Bukannya kamu mau claim itu anak Ben." Clara berdecak, "Anakmu bikin mood aku berantakan. Kadang aku marah-marah gak jelas, kadang pengen nangis, bingung aku dan sekarang aku malah pengen.." Clara mendekatkan wajahnya pada wajah Alan, menyatukan bibir mereka.


Alan melepaskan penyatuan bibir mereka, "Ra, ada hal yang perlu kita bicarakan."


"Nanti aja, anak kamu bikin aku __"


"Stt, turun dan kita bicara serius."


"Alan, kamu kalau lagi pengen enggak tau tempat enggak tau waktu, giliran aku diginiin."


Alan menghela nafas, mengangkat tubuh Clara dari pangkuannya dan memindahkan ke sofa.


Clara menyilangkan tangannya di dada dan menatap Alan sinis.


"Bagaimana apanya?"


"Perasaanmu bagaimana?" Alan menantikan jawaban Clara.


Clara terdiam, ia menatap Alan. "Kalau aku lihat kamu sama Aruna dekat kembali, rasanya ingin aku jambak rambut Una."


"Kenapa? Bukankah kita berjuang untuk aku kembali pada Una dan kamu pada Ben."


"Iya, tapi tetap aja aku benci lihat kalian."


"Bagaimana jika kamu tidak bisa kembali pada Ben?"


Clara terdiam, ia hanya menghembuskan nafasnya lalu kembali menatap Alan. "Apa kamu yakin mencintai Ben?" Clara mengangguk.


Alan berdecak, "Selama dekat denganku apa tidak ada sedikitpun rasa untukku?"


Clara menatap nanar kedua mata Alan, "Selama dekat denganku apa kamu bahagia?" Clara terdiam.


"Ben dan Aruna sudah berbahagia, kita tidak dapat meneruskan rencana kita karena mereka tidak akan terpisah. Kalaupun kita berhasil memisahkan belum tentu akan kembali pada kita."


Clara terdiam, "Sepertinya aku tidak bisa berbagi dan tidak rela anakku disentuh pria lain," ucap Alan.


"Jadi, aku akan mengclaim bahwa anak ini adalah memang anak aku."


"Tapi, ..."


Alan menggendong Clara dan membawanya ke kamar, merebahkan wanita itu pada ranjang. Melepaskan semua penutup tubuh mereka, Alan mulai menelusuri leher Clara, turun ke dada dan berhenti di perut Clara. "Hay buddy, daddy's here."


Kemudian Alan berpetualang diinti Clara dan seluruh bagian tubuh Clara dengan lembut hingga membuat Clara merasa terbang melayang, menyatu dan meleburkan cinta bersama-sama. Sadar bahwa ia tidak dapat berlaku ekstrim, setelah keduanya melepas kenikmatan Alan pun menghentikan aksinya.


"Babe," ucap Clara yang masih berada disisi Alan, menyentuh dada bidang Alan dengan bentuk random. Tubuh mereka yang polos tertutup selimut, "Hmm," jawab Alan.


"Enggak biasanya kamu banyak bicara, biasanya banyak gaya."


Alan terbahak, lalu beranjak bangun menuju kamar mandi. Sebelum menutup pintu, "Istirahatlah, kamu sedang hamil. Aku enggak mungkin bolak balik tubuh kamu, terlalu beresiko." Alan menutup pintu kamar mandi dan membersihkan diri juga membersihkan pikirannya dari keinginan untuk menjelajah lebih jauh dan lebih lama pada tubuh Clara.


Una membuka matanya, kilau cahaya dari jendela menyadarkan bahwa saat ini sudah pagi atau bahkan siang. Segera bangun dan duduk dengan tiba-tiba, "Aruna, jangan merubah posisi secara tiba-tiba, bahaya. Dokter kan sudah mengajarkan kamu gerakan untuk berpindah posisi." Ben yang duduk bersandar pada headboard memangku laptop sedang bekerja dari rumah terkejut melihat gerakan Una.


"Ini jam berapa?" Ben menunjuk jam dinding dan tersenyum.


"Ini tuh udah siang, kok Abang enggak bangunin aku sih," kesal Una. "Kenapa harus dibangunkan, aku yang minta kamu istirahat," Ben menutup laptopnya dan menyimpan di atas nakas.


"Aku harus siapkan sarapan Abang belum pakaian untuk ke kantor," sahut Una.


"Hey, sayang." Ben mendekat pada Una dan merangkul bahunya dari samping, "Tenanglah Nyonya Chandra, hal seperti itu bisa ada yang mengurus. Tapi kalau kamu itu urusan aku, makanya jangan terbebani dengan hal-hal yang tidak perlu kamu urus."


Una melirik Ben, "Abang ngomong apa sih?" Ben terkekeh geli. "Mau mandi? Aku siapkan airnya dulu. Kamu berendam air hangat ya, biar relaks."


Una telah menyelesaikan mandinya, duduk di depan meja rias dan mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Ben berjalan menuju sofa menemui Ilham yang sudah tiba sejak tadi, Firda dan asisten rumah tangga sedang bersiap memasak. Entah hidangan apa yang sedang disiapkan.


"Bagaimana?" tanya Ben.


"Sejak semalam, Clara belum ke luar dari apartemen Alan. Bahkan sampai saat ini."


Ben tersenyum sinis mendengar informasi dari Ilham terkait kedekatan Alan dan Clara


"Sepertinya kalau kondusif kita tidak perlu menjalankan rencana balas dendam." Ilham mengangguk dengan keputusan Ben.


Una yang hendak ke luar kamar, menghentikan langkahnya mendengar pembicaraan Ben dan Ilham.


"Rencana balas dendam!" lirih Una.


__________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖