
Ben sengaja meminjamkan apartement untuk Devi agar tidak tinggal bersama mereka, dia bisa memperkirakan akan masalah yang muncul jika mengijinkan adik iparnya tinggal serumah. Sedangkan Dewa, Ben ingin mendidik anak itu siap menghadapi kehidupan dan tidak memanfaatkan keadaan seperti orangtuanya.
Ternyata orangtua Devi yang juga mertua dari Ben menyetujui Dewa diasuh oleh Ben dan Aruna, mereka yakin kebutuhan Dewa akan terjamin.
"Yakin Pak, mau bertanggung jawab terhadap Dewa. Bapak kandungnya aja enggak peduli," tanya Huda saat menemui Ben. Mereka kini berada di ruang kerja yang ada di kediaman Ben dan Una.
"Yakin, aku tidak ingin anak-anakku dan Dewa nanti tidak akur setelah dewasa. Karena merasa tidak adil dengan kehidupan yang mereka jalani. Jadi akan aku pikirkan pendidikan terbaik untuk mereka termasuk anakmu." Tutur Ben.
Huda melihat sekeliling ruangan dan matanya terpaku pada mini bar di ruangan itu, di mana dalam lemarinya berderet botol minuman yang Huda tau itu mengandung alkohol, seperti wine, champagne, wiski dan lainnya.
"Aruna tau ada itu di sini," ucap Huda menunjuk lemari minuman.
"Hmm, tapi itu tidak aku konsumsi sendiri. Terkadang untuk menjamu tamu atau ... yang jelas aku bukan pemabuk."
"Dulu waktu remaja, aku pernah ditimpuk heels karena pulang dalam keadaan mabuk. Mana mabuk beer kalengan," ujar Huda sambil terkekeh.
Ben melipat kedua tangannya di dada, mendengarkan Huda menceritakan tentang Una.
Sedangkan Una yang baru saja menidurkan Nessa yang menangis masuk ke kamarnya, ternyata Devi mengekor masuk ke dalam kamar.
"Loh, kamu mau apa?"
"Cuma lihat-lihat doang Kak, bete aku nunggu Kak Huda dan suamimu sedang diskusi."
"Kalau mau istirahat kamu bisa pakai kamar tamu, atau bareng Dewa di kamarnya."
"Pelit amat sih," Devi menuju walk in closet.
"Bukan pelit, aku enggak enak dengan Abang kalau ada orang masuk ke sini. Dia enggak mau sembaran orang masuk kamar."
"Wow, pakaian loe branded semua ya," ujar Devi melihat isi lemari kaca yang berisi pakaian Una. "Sepatu, tas, ck ck ck. Aku ambil 3 stel juga kamu enggak rugi Kak, banyak gini atau bisa minta beliin lagi sama kakak ipar."
"Dev, ayo keluar aku takut Abang masuk ke sini," ajak Una dia tidak mungkin menyeret paksa Devi.
"OMG," Devi menutup mulutnya membuka penutup kain sebuah meja kaca yang isinya perhiasan, "ini berlian kan?"
"Wah, enak bener ya jadi istri Sultan." Devi berusaha membuka laci tersebut namun terkunci. "Pake sidik jari? Buka dong," pinta Devi pada Una.
"Aku..."
"Aruna," Ben masuk ke dalam kamar dan memanggilnya.
"Tuh kan, apa aku bilang," ucap Una lirih.
Una keluar dari walk in closet, "I-iya Bang," sahutnya.
Ben ingin mengucapkan sesuatu namun tidak jadi saat melihat Devi keluar dari walk in closet kamarnya.
"Kamu sedang apa di sini?"
"Kak Una yang ajak aku lihat-lihat kamarnya, mau menunjukan kamar istri dari sultan," Devi berdusta.
Ben menoleh pada Una, Una hanya menggelengkan kepalanya.
"Huda sudah menunggu kamu di luar," ujar Ben pada Devi.
"Oke." Devi berjalan ke arah pintu, "owh iya, Kak Ben kalau ada rencana mau punya istri kedua aku siap kok, atau sekedar simpanan boleh juga."
"Devi," teriak Aruna.
"Biasa aja dong, kita itu dulu sama-sama miskin. Jadi kalau sekarang kamu lebih baik, enggak usah sombong. Karena aku yakin kamu dapatkan dia bukan murni karena cinta."
"Devi, mulut kamu..." Una maju ke arah Devi dengan emosi namun Ben menarik pinggang Una. "Sudahlah, Aruna."
"Devi sebaiknya kamu keluar," titah Ben.
Setelah pintu tertutup, Una menyingkirkan tangan Ben dari pinggangnya lalu berjalan ke arah kamar mandi.
"Loh, kenapa kamu yang marah," ucap Ben mengikuti Una.
"Aruna," Ben membuka pintu kamar mandi dan menyaksikan Una yang sudah melepas semua penutup tubuhnya berada di bawah guyuran shower.
Jakunnya naik turun melihat pahatan sempurna dari tubuh Una. Ikut membuka pakaiannya dan bergabung dengan Una.
"Abang, apaan sih. Aku mau mandi, nanti keburu baby bangun."
"Aku juga mau mandi."
"Kan bisa nanti gantian," ujar Una.
"Begini lebih efektif Na."
"Efektif karena bisa sambil begini," Ben menuntun tubuh Una menghadap wastafel dan sedikit membungkukan badannya. Sudah jelas apa yang akan Ben lakukan pada Una, karena berikutnya hanya dessahan dari keduanya yang bersahutan diiringi suara gemericik air yang turun dari shower. (Matiin dulu woy, hemat air. Di tempat author, air PAM sering metong).
Ben sudah bersandar di head board ranjangnya sambil memainkan ponselnya, sedangkan Una bolak balik karena memikirkan hal yang disampaikan Devi tadi sore, sungguh sangat mengganggunya.
"Kamu mau sampai kapan mondar mandi begitu, macam setrikaan." Ben berkata sambil masih fokus pada ponselnya.
"Abang, senang ya dengar yang tadi."
Ben menoleh pada Una, "Yang tadi? Maksudnya gimana?"
"Ucapan Devi menawarkan dirinya jadi istri kedua."
Ben terbahak, "Aruna, kalaupun aku memutuskan punya istri lagi, pilihannya bukan dia.
"Jadi, Abang bener mau menikah lagi?"
"Bukan begitu, itu hanya perumpamaan aja. Kenapa juga tadi Devi ada di sini?"
"Aku enggak tau, tiba-tiba dia sudah masuk. Terus mau lihat-lihat. Aku kan enggak enak ngusir dengan kasar."
"Hmm, kemarilah," titah Ben.
Una duduk disebelah Ben, baru saja Ben mendekatkan wajahnya terdengar suara bayi mereka menangis. Una tertawa sedangkan Ben berdecak sambil menempelkan dahinya pada pundak Una.
"Geser dulu, Bang, anakmu menangis."
Setelah menidurkan bayinya yang menangis bergantian, Una menuju kamar Dewa. Mengecek kenyaman bocah itu, yang akan menjadi tanggung jawabnya dan Ben.
"Tidur nyenyak yah," ucap Una sambil mencium kening Dewa. Firda akan tidur di kamar Dewa sampai baby sitter yang sudah direkrut oleh Ben datang ke rumah mereka.
"Tenang aja Bu, aman kok."
"Titip ya, hitung-hitung belajar ngasuh. Jadi nanti udah biasa kalau punya anak," ujar Una.
Esok paginya,
"Tante, ini dede bayi punya ciapa?" tanya Dewa saat melihat Una sibuk merawat Nevan dan Nessa.
"Anak-anak Tante dong, tapi saudara kamu. Sama seperti tante dan Mamah kamu."
"Om bilang, aku harus kuat dan hebat biar bisa jadi pelindung si kembal, aku jagoan ya," ucap Dewa.
"Iya seperti jagoan," jawab Una, "Nevan biar aku gendong, mbak tungguin Nessa aja," ucap Una pada baby sitternya.
"Tante aku mau nonton TV, lihat jagoan beraksi."
"Iya, minta tante Firda hidupkan TV nya."
Ben sudah lengkap sengan setelannya saat Una kembali ke kamar menggendong Nevan dan diambil alih oleh Ben, "Nanti baju Abang kena muntah loh," ujar Una akan mengganti pakaiannya yang basah setelah memandikan si kembar.
"Halo jagoan, kalau sudah besar siap-siap kuping. Mamihmu pasti cerewet."
"Aku dengar ya," ujar Una dari dalam walk in closet.
"Nessa di mana?"
"Tidur lagi. Abang, sarapan dulu, aku temani."
"Tidak usah, aku dan Bian langsung ketemu investor pagi ini, mungkin sarapan disana. Pengasuh Dewa hari ini datang, nanti siang atau sore kamu belanja semua keperluan Dewa."
"Hmm."
Cup
Una berjinjit mencium cepat bibir Ben. "Kurang," ucap Ben lalu meraih tengkuk Una dan melu*matnya.
"Abang, ihh... dilihat Nevan."
"Biar dia merekam kejadian ini, artinya dia berada di antara keluarga yang berbahagia."
"Yuhuuu, Kak Una apa Kak Ben sudah berangkat," teriak Devi dari luar kamar.
"Hmm, sekarang dia masih bisa teriak-teriak, coba lihat nanti saat bekerja di bawah Ilham," batin Ben.
to be continue
_______________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖