
~ Selamat Membaca ~
Alan berada di kamarnya, tepatnya kamar yang ada di rumah Ayah Alan. Hatinya sedikit lega karena ternyata kedua orangtuanya mendukung hubungannya dengan Clara. Tidak seperti saat ia dan Aruna, walau belum ada rencana serius tapi ibunya sangat tidak mendukung.
Alan menghela nafas, sebagus apapun rencana ia untuk Aruna dulu, saat ini hanya Clara prioritasnya. Alan yakin bahwa nanti Clara akan berubah lebih baik.
Teringat kalimat ayahnya tadi, "Apa kamu pikir ayahmu ini berbohong. Dasar anak manja, aku pikir kamu sudah gentle berani merebut wanita yang mencintai pria lain bahkan sampai tinggal bersama. Ternyata cemen."
"Nikahi Clara dan jangan kau ganggu istri Ben Chandra, kamu bukan siapa-siapa bersaing dengan pria itu."
"Okey, mari kita istirahat untuk menyambut hari esok. Clara i'm comming, lupakan masa lalu," ucap Alan bermonolog. Rupanya seharian ini hati Alan lumayan kacau, saat Clara mengatakan Ben ingin menemuinya juga Clara mengakui bahwa ia masih mencintai Ben. Pulang dengan keadaan kusut namun akhirnya mendapat dukungan orangtua menjadikan ia semangat untuk melangkah bersama Clara dan karena lelahnya ia langsung terlelap, lupa untuk menghubungi Clara.
Clara terbangun saat tengah malam, menyadari bahwa Alan belum juga pulang ia lalu menghubungi kembali ponsel Alan.
"Ishhh, kemana kali masih enggak aktif juga." Clara akhirnya merebahkan kembali tubuhnya melanjutkan istirahatnya walaupun dengan hati yang dongkol.
Esok hari Alan bangun dalam kondisi lebih fresh. Setelah mandi dan berganti pakaian ia pun pamit pada orangtuanya untuk menjemput Clara.
"Kamu enggak sarapan dulu?" tanya Bunda. "Nanti aja Bun, mau lihat Clara dulu."
"Cepat bawa ke sini, jangan ditunda-tunda. Kamu mau menikah dengan perut istrinya sudah besar."
Tanpa berdebat Alan segera mengemudikan mobilnya menuju apartement. Alan sudah berada di apartement milik Clara dan tidak menemukannya. Ketika ingin menghubungi Clara ia baru menyadari bahwa ponselnya mati.
Kembali lagi ke mobilnya kini ia menuju apartemennya sendiri. Betapa terkejut saat mendapati Clara sedang tidur disofa. "Sayang, kamu di sini? Aku mencari ke tempatmu." Alan menepuk pelan pipi Clara.
Clara mengerjap dan membuka penuh matanya saat melihat Alan di hadapannya. "Kamu tuh kemana sih?" tanya Clara sambil memukul dada dan lengan Alan.
"Aduh Ra, sakit." Alan mengusap lengannya. "Aku hubungi kamu berkali-kali," ujar Clara. Mata wanita dihadapannya ini mulai berkaca-kaca.
"Maaf sayang, ponsel ku lowbat," Alan mengoyang-goyangkan ponselnya yang mati.
"Terus semalam kamu tidur di mana sampai enggak pulang?"
"Aku pulang ke rumah," jawab Alan namun Clara menampakan wajah tidak percaya. "Serius Ra, malah aku ke sini mau __"
"Kamu tau enggak, Ben kemarin menjebak aku." Kalimat Clara memotong pembicaraan Alan.
"Menjebak bagaimana?"
"Papih aku ada di sana, dia tau semua. Ben membeberkan semua rencana aku. Sekarang aku harus bawa kamu kehadapannya atau dia sendiri mau seret kamu."
"Loh, maksudnya?"
"Ya kamu ikut aku," pekik Clara. "Sebentar, ini seperti aku sedang kabur dan didesak tanggung jawab. Enggak perlu diseret aku pasti tanggung jawab tapi kamunya kan yang dari kemarin tahan-tahan aku. Gimana aku enggak kesel, aku ini ayah bayi yang kamu kandung Ra, tapi kamu seenaknya aja bilang mencintai pria lain."
Deg, ucapan Alan menohok hati Clara. Sangat-sangat benar, bukan Alan yang bersalah di sini tapi dia sendiri yang bodoh.
"Bahkan aku ke sini mau bawa kamu ke rumah ku untuk bertemu kedua orangtuaku. Nanti ayahku akan datang untuk melamarmu."
"Harusnya kita sama-sama intropeksi, karena kalau bukan karena cinta enggak akan kita berdua sejauh ini. Rasa kamu ke Ben dan aku pada Aruna itu hanya obsesi."
Clara akhirnya menangis dan baru kali ini Alan melihat wanita itu terlihat rapuh. Meraihnya ke dalam dekapan san mengelus pelan punggung Clara berusaha menenangkannya.
"Sudah Ra, maafkan aku. Ini semua salahku."
"Sekarang kamu mandi kita sarapan lalu ke rumah aku, setelah itu kita bahas untuk bertemu papihmu. Enggak mungkin kamu ketemu bunda seperti ini," ucap Alan menggoda Clara. Clara memukul dada Alan pelan.
.
.
Di apartement Ben, Aruna yang sejak tadi sudah bangun dan sekarang berada di pantry sedang membuatkan sarapan untuk suaminya.
Ben yang sedang memakai pakaian kerjanya mengingat hasil diskusi dengan beberapa teman Una. Tersenyum dengan hasil dari diskusi itu. "Mikirin apa sih senyum-senyum sendiri," ucap Una. Ben tidak menyadark jika Una sudah berdiri di sisinya.
"Bantu aku pakai dasi," pinta Ben. "Abang senyum-senyum kenapa ?" tanya Una setelah selesai dasi di kerah kemeja Ben.
"Hmm, kejadian kemarin di kantor. Hari ini kamu cek rumah kita, bisa ?" tanya Ben.
"Aku cuma kroscek aja kan ?"
"Iya, sesuai permintaan kamu sayang, kita pakai konsultan untuk design dan pemilihan perabot rumah. Kamu hanya memastikan apa sudah sesuai atau bisa diganti," ungkap Ben.
"Oke."
"Nanti diantar Leo dan Firda." Una hanya mengangguk.
Una merasa ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh Ben, namun ia tidak ingin menanyakan lebih jauh khawatir nanti menjadi curiga yang tidak beralasan.
"Bagaimana Bu?" ucap seorang konsultan yang menemani Una mengecek kelengkapan rumah yang akan ditempati olehnya.
"Saya mau kamar bayi disebelah kamar utama dibuatkan pintu penghubung ya, untuk dekorasi dan iai dari kamar bayi nanti saya saja yang melengkapi," pinta Una.
"Baik bu, segera kami kerjakan sesuai permintaan."
Una tersenyum getir ternyata harta dan tahta bisa membuat orang berada di puncak, terbayang saat ia masih kerja pontang panting di dua cafe. Jangankan dapat salam atau sapaan ramah yang ada cacian. Berbeda dengan saat ini, sebagai seorang istri dari Ben Chandra ia pun ikut merasakan puncak kejayaan.
Una duduk di kursi taman yang ada di samping rumah, mengelus pelan perutnya yang sejak tadi kedua bayi yang sedang tumbuh seakan bergantian menendang dan berputar.
"Nona Una," panggil Firda.
"Iya," jawab Una sambil menoleh.
"Ini sudah jam makan siang, Pak Ben sudah mengingatkan untuk mengajak Nona makan."
"Hmm, oke kita cusss."
Malam harinya, Ben pulang lebih larut bahkan Una sudah terlelap. Namun tidak biasanya Ben membelakangi Una bahkan terlihat lebih dingin dan acuh.
Menjelang pagi Una sudah terbangun lebih dulu, duduk bersandar pada headboard. Memikirkan ada apa dengan suaminya, biasanya selelah apapun Ben akan merangkul, memeluk dan mencium kening Una.
Una kembali berbaring, tidak ingin berpikiran negatif yang akan berpengaruh pada kehamilannya.
__________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖