
Hai readers, semoga masih setia menunggu kisah Aruna, terimakasih komentarnya mudah-mudahan author makin semangat nge halu...
Mohon maaf kalau lambat update, secara author juga pembaca di platform ini 😊😊
⚘ Enjoy reading.
____________________
Una akhirnya mengaktifkan ponsel, banyak panggilan dari Ben juga beberapa pesan masuk. Tapi yang menarik perhatiannya adalah pesan dari nomor tidak dikenal yang mengajaknya bertemu karena ada informasi terkait Ben.
Meletakan kembali ponselnya ke atas nakas, berusaha untuk tidak perduli dengan apa yang ia baca.
Malam semakin larut, Una sudah lelah dan mengantuk namun Ben belum ada pulang. Berbaring di ranjang sambil berharap Ben pulang sebelum ia tertidur.
Diantar oleh supir yang membawakan kopernya, akhirnya Ben tiba di unit apartemennya. Menekan passcode untuk membuka pintu, beberapa area lampunya telah dipadamkan.
Ben melangkahkan kaki menuju kamar tempat Una berada. Setelah membersihkan diri dan mengenakan piyama tidur, ia ikut berbaring disisi Una. Mencium kening istrinya dan memeluk erat tubuh dengan perut yang terlihat buncit. "Maaf sayang, bukan aku mengabaikanmu. Hanya aku belum tau kebenaran yang terjadi. Satu hal yang pasti, dihatiku hanya ada kamu dan anak-anak kita," ucap Ben sambil membelai pipi Una.
Ben beralih ke perut Una, mengelusnya pelan, "Hey, buddy. Sehat-sehatlah kalian, jangan menyusahkan mamihmu. Don't worry, aku pasti akan menjenguk kalian, tapi tidak malam ini."
***
Una menggeliat dan mengerjapkan matanya dan terkejut saat ia menyadari berada dalam pelukan Ben. Memandang wajah suaminya, yang beberapa hari ini terpisah dengannya dan sangat ia rindukan. Una bergerak pelan agar tidak mengganggu tidur Ben, namun yang ada tangan kekar itu malah memeluk lebih erat.
“Ehh,” pekik Una.
“Mau kemana?” tanya Ben dengan mata masih terpejam.
"Abang mau ke kantor, aku kan harus siapkan pakaian dan sarapan.”
"Hmm, kita begini dulu. Enggak usah ke kantor, hari ini spesial untuk istriku sayang. Kalau perlu besok juga.”
“Kerjaan abang gimana?”
“Ada Bian dan Ilham. Kamu lupa kalau aku pemiliknya_” kalimat Ben terhenti, karena Una mencium bibirnya singkat.
"Kenapa? Abang enggak suka,” ujar Una melihat Ben terpana. “Bukan tidak suka, tapi kurang lama.” Meraih tengkuk Una dan memagut bibir istrinya yang baginya terasa sangat manis juga menjadi candu untuknya.
"Abang ih, aku kan belum gosok gigi,” ucap Una saat Ben melepaskan pagutannya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Una.
“Hmm.”
“Terus kalau abang enggak ke kantor kita mau ngapain? Jalan-jalan.”
“Hmm.” Ben mengusap perut Una.
“Shopping boleh juga.”
“Hmm.” Memeluk erat tubuh Una.
“Atau ..”
“Stt, itu nanti aja kita pikirkan lagi. Sekarang ada yang lebih urgent.”
"Apa?”
“Aku mau nengok calon baby kita.” Ben kembali menyatukan bibir mereka, memainkan lidah dan sesapan yang dilakukan Ben membuat nafas Una terasa sesak. Menelusuri bagian tubuh Una yang sangat digemari juga daerah-daerah sensitif serta melepaskan satu persatu penutup tubuh mereka.
Pagi yang sejuk namun mendadak menjadi panas karena pasangan yang sedang melepas rindu. Dengan pengalamannya Ben berpetualang ditubuh Una membawanya merasakan arus gai*rah penuh kenikmatan dan melebur bersama.
Ben sanggup melakukannya berkali-kali namun mengingat kondisi kehamilan sang istri ia tidak ingin egois, merebahkan tubuhnya setelah menyelesaikan pergulatan. Deru nafas keduanya masih terdengar, “Lelah sayang,” ucap Ben sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh dan menghapus keringat didahi Una.
“Iya,” jawab Una dengan mata terpejam dan masih mengatur nafasnya yang tersengal.
“Tidurlah."
“Tapi..”
“Aku tidak kemana-mana, istirahatlah.”
Entah aroma apa yang tercium, yang jelas sangat menggugah selera dan membuat Una merasa perutnya perlu segera diisi hingga ia pun membuka matanya. Setelah olahraga ranjang, Una kembali terlelap. Melihat jam dinding yang menunjukan sudah pukul 9 pagi, ia pun menjejakkan kakinya menuju kamar mandi.
Menggunakan dress hamil selutut tanpa lengan, Una menghampiri Ben yang sedang berada di pantry.
“Morning, putri tidur,” ucap Ben saat melihat Una duduk di salah satu kursi meja makan. Mencebikan bibirnya mendengar ia disebut putri tidur, “Abang bikin apa sih, harum bener deh.”
“Nasi goreng seafood spesial, spesial pake cinta dan susu untuk bumil yang satu ini.” Meletakan piring berisi nasi goreng dan segelas susu di hadapan Una ditambah kecupan di pipi.
“Harusnya kan aku yang masak buat Abang,” sahut Una sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Tidak ada aturan harus selalu istri yang memasak, atau suami yang mencari uang. Yang benar adalah kerjasama dan saling memahami apa yang harus dilakukan bersama.”
Una tersenyum, “Ponselmu kenapa? Aku susah menghubungi?” tanya Ben sambil menyesap kopi yang ia buat.
“Kayaknya rusak Bang, sebab gak ada bunyi telepon dan notif pesan dari Abang.”
Deg, kalimat Una berhasil menyudutkan Ben dan mengingat kejadian yang membuat ia tidak ada nyali untuk menghubungi Una.
“Maaf, saat sibuk kadang aku lupa dengan sekitar.”
“Aku percaya kalau Abang enggak akan macam-macam," ucap Una sambil tersenyum.
Di tempat berbeda, Clara menemui Alan dengan mendatangi kantornya. "Hay, babe," sapa Clara saat masuk ke ruang kerja Alan dan duduk di kursi bersebrangan dengannya.
"Ada yang bisa kamu jelaskan Ra?"
"Ada dong, tapi aku perlu sarapan dulu. Bisa pesankan makan, aku belum sempat sarapan dan rasanya seperti kelaparan."
Alan mengangkat gagang telepon, "Mau makan apa?"
"Bakso dan harus pedas."
"Sarapan! Bakso?"
"Udah cepat pesan, enggak usah banyak tanya."
Alan menyilangkan kedua tangan di dada melihat Clara menikmati bakso dengan kuah pedas. Menggeser botol air mineral kehadapan Clara, "Are you okey Ra? Gue enggak bisa ngebayangi rasa pedasnya."
"Sumpah ini enak banget."
Alan hanya menggelengkan kepala, rasanya mengerikan jika makanan itu ada di dalam lambungnya.
"Oke, jadi begini," ucap Clara mulai bercerita ketika ia telah menyelesaikan sarapan super pedasnya. "Beberapa hari yang lalu aku ke Surabaya untuk menjebak Ben, and it works."
"Menjebak?"
"Intinya aku buat seakan-akan kami telah tidur bersama, tentu saja dengan membayar mahal beberapa orang agar rencana ini berhasil."
"Lalu?"
"Aku sudah punya beberapa foto, rencananya akan aku berikan pada Aruna untuk meyakinkan. Karena inti rencananya bukan itu, aku sengaja tidak akan menemui Ben beberapa waktu ke depan. Yahh, mungkin satu bulan. Setelah itu aku akan temui Ben dengan membawa bukti bahwa aku sedang hamil akibat kejadian malam itu." Clara terbahak setelah menjelaskan rencananya.
"Kamu yakin itu akan berhasil?"
"Tentu saja, mana ada istri yang rela bahwa suaminya mempunyai anak dengan wanita lain."
"Ben bukan orang sembarangan, saat ini pasti dia sedang menyelidiki hal ini. Kau tidak takut jika Ben tau ini adalah jebakan."
"Tidak, yang penting kejadian malam itu seakan-akan Ben benar-benar menyentuhku dan dia tidak bisa mengelak ketika aku bilang bahwa aku sedang hamil anaknya."
"Jika Ben tau kamu tidak hamil, itu namanya kamu menjebak diri sendiri."
"Ini akan berhasil, karena aku memang sedang hamil." Clara mengeluarkan selembar kertas dari tasnya diserahkan pada Alan.
Alan membaca dengan teliti kertas yang ternyata adalah hasil tes kesehatan yang dikeluarkan oleh salah satu rumah sakit di Jakarta.
"Kamu.. hamil Ra, dan ini ..... anak aku kan?" tanya Alan.
_____________
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like, koment atai hadiah. Vote juga boleh mumpung masih hari senin.
love you full .😊