Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Calon Istri



Banyak pertanyaan yang perlu Una cari tau terkait kehamilan, hasil browsing tidak terlalu memuaskan. Ia memutuskan menemui Rena, kakak iparnya yang sedang hamil.


"Na, kamu udah jenguk Ayah ? tanya Rena.


"Belum, udah lama aku enggak pulang." Rena menatap aneh pada Una. Sejak pagi tadi saat ia datang, banyak bertanya mengenai kehamilan. Kebetulan hari ini minggu, jarang-jarang Una betah berlama-lama di rumahnya.


"Mas Huda bilang kamu dekat sama atasan di kantor ya ?"


"Hm, ya gitu deh kak," jawab Una.


"Dia serius Na ?"


Una mengangguk, tapi raut wajahnya berubah. "Om Ben sekarang sibuk, sering ke luar kota malah saat ini lagi di Singapur. Sudah hampir dua minggu."


"Komunikasi kalian lancar ?"


"Tiap malam dia hubungi aku, katanya kalau siang fokus sama kerjaan di sana biar cepet beres terus balik ke Jakarta. Jadi aku kadang malas jawab, terus aku cepet ngantuk kak, saat Om Ben telpon aku udah lelap."


"Hmm," respon Rena menatap Una yang sedang memainkan ponsel di tangannya.


Ternyata Una sedang membuka aplikasi pesan antar makanan, "Ini kayaknya enak, apa yang ini aja ya, aduh berasa udah di ujung lidah deh. Aku pesan deh, kak Rena mau yang mana ?"


Una sudah pulang saat Huda tiba di rumah. Bekerja sebagai tim keamanan dengan jam kerja shift membuat waktu liburnya tidak seperti para pekerja kantoran.


"Mas, tadi Una ke sini." Rena yang membawakan air minum untuk suaminya yang baru pulang.


"Iya, tadi dia kirim pesan waktu pagi."


"Kayaknya ada yang aneh deh sama Una."


"Aneh gimana ?" tanya Huda.


"Lupain deh, mungkin perasaan aku aja."


"Maksudnya gimana, Una kenapa ?"


"Ya enggak apa-apa. Baiknya sebagai seorang kakak, mas tanya masalah hubungannya dengan atasannya itu"


***


Keesokan hari saat hampir jam pulang, Una berencana ke rumah sakit untuk konsultasi dengan dokter. Ia sedang memikirkan caranya mengecoh Leo karena pria itu pasti akan melaporkan ke mana ia pergi pada Ben.


"Eh, ada yang ketinggalan. Aku balik ke ruangan dulu ya," Una menjalankan rencananya.


"Apa enggak minta OB aja yang ambil," ujar Leo sudah mematikan kembali meain mobil.


"Aku aja, sebentar kok."


Una kembali ke lobby, bukan menuju ke atas seperti alasannya tapi ke luar melewati lobby utama. Sedangkan Leo, menunggu di mobil pada parkiran basement.


5 menit


10 menit


15 menit


Leo mencoba menghubungi Una, namun ponsel wanita itu tidak aktif. Leo memukul kemudi, "Shitttt, pintar juga dia. Tapi aku lebih pintar," ucap Leo sambil membuka aplikasi pada ponselnya. Ternyata Leo sudah memasang GPS pada ponsel Una.


"Rumah sakit!" Leo memasuki area rumah sakit, titik lokasi Una berada.


Berada di poli kandungan, Una duduk di luar ruang dokter. Disekitarnya juga sedang menunggu dipanggil dokter, para ibu hamil yang ditemani suaminya.


Una menghela nafas, memikirkan saat nanti perutnya akan membuncit seperti ibu-ibu itu. Satu persatu pasien dipanggil, hingga tiba nama Una disebut.


Dokter mengatakan akan melakukan USG, namun sebelum itu ia mengajukan beberapa pertanyaan terkait gejala kehamilan dan hal-hal terkait perhitungan umur kehamilan.


"Hm, coba kita lihat ya," ujar dokter saat menempelkan alat usg pada perut Una yang sudah diolesi gel oleh perawat.


"Wah, ada dua kantung ya."


"Maksudnya dok ?"


"Selamat ya bu, ini ada dua kantung kehamilan, artinya ibu mengandung bayi kembar."


Kedua mata Una berkaca-kaca melihat layar yang menampakan darah dagingnya yang sedang berkembang di rahimnya, apalagi saat mendengarkan detak jantung kedua janin tersebut.


"Umur kehamilannya 11 minggu, dijaga baik-baik ya bu. Usahakan periksa berikutnya bersama suami, biar jadi suami siaga." Dokter menjelaskan sambil tersenyum.


'Suami,' batin Una.


"Ini resepnya ambil di apotek ya bu, diminum rutin vitaminnya. Untuk obat mual diminum jika perlu saja. Jadwal kontrol berikutnya bulan depan ya." Una mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


Una menoleh ke arah suara, ia terkejut melihat keberadaan Leo. Segera ia memasukan kantong plastik berisi obat dan vitamin ke dalam tas.


"Lain kali kalau mau ke mana-mana, sampaikan saja. Nanti saya antar."


"Saya cuma ingin pergi sendiri."


Leo mengantarkan Una pulang, "Bang Leo, enggak usah laporkan ke Om Ben ya kalau aku tadi ke rumah sakit."


Leo hanya diam dan fokus pada kemudinya.


Una memandangi foto USG di tangannya, foto hitam putih tersebut menampilkan dua kantung yang berisi calon bayinya. Anak kandungnya, darah dagingnya bersama Ben.


Ia sedang memikirkan bagaimana cara memberitahu keluarga, terisak dengan hidung kembang kempis menahan tangis. Sungguh bukan hal ini yang diinginkan, ia khawatir dengan respon Ben mendengar berita ini. Apalagi saat ini komunikasi Una dengan Ben sedang kurang lancar karena jarak. Juga kejadian di mana Una melihat seorang wanita memeluk Ben manja di lobby perusahaan, membuatnya ragu akan perasaan Ben padanya.


Berbaring ke kiri, lalu ke kanan kemudian terlentang. Gelisah yang berujung rasa lapar. Tetiba lidahnya sangat menginginkan es krim dengan cone dan taburan kacang mete.


***


"Na, mau ke mana?" tanya Abil saat Una tidak ikut masuk ke kantin.


"Mini market, kalian duluan aja."


15 menit kemudian, Una menyusul Abil dan Rahmi ke kantin.


"Ke mini market beli apa kak ?"


"Beli ini," jawab Una mengeluarkan es krim yang semalaman ia inginkan.


"Enggak makan nasi kak ?"


"Enggak, habis ini aku mau makan bakso."


"Menu loe hari ini aneh Na," ujar Abil.


Una hanya mengedikkan bahu, lalu menikmati apa yang diinginkan selagi tidak dilanda rasa mual.


Baru saja keluar dari ruangan Pak Bara menyampaikan laporan yang diminta saat ponsel Una bergetar.


Sebuah notifikasi pesan dari Ben, mengatakan kalau ia sudah berada di Jakarta dan meminta Una ke ruangannya saat jam pulang.


Una menatap kembali foto hasil USGnya, 'Apa aku sampaikan sekarang ya ?' batin Una.


Saat ditunggu para karyawan setiap hari adalah jam pulang, begitu pula dengan Una. Namun kali ini agak berbeda, gugup yang dirasakan karena ada hal penting yang perlu ia sampaikan pada Ben.


"Buru-buru amat Na ?"


"Mau ke atas," jawab Una.


"Owh, si Bos udah pulang. Kangen-kangenan dong, awas diterkam Na," ucap Abil sambil tertawa


Membuka pintu ruangan Ben, tampak pria itu sedang menerima panggilan telpon. Una berjalan menghampiri, Ben yang masih dalam sambungan telpon berjalan menuju Una dengan tangan terbuka, memeluk dan mencium kening wanita yang sangat dirindukannya.


Tubuh Una masih dalam dekapan Ben, dimana kedua tangan Una berada di pinggang Ben.


"I miss you so much, kamu susah sekali dihubungi hahhh." Ben menarik hidung Una karena gemas. Ben terus menggoda Una dengan mencium dan menjawil pipi Una.


Namun seseorang membuka pintu, "Kak Ben, kenapa sudah pulang enggak ngabarin. Kan aku kangen banget." Ara yang masuk dan langsung memuntahkan kalimat yang pasti membuat Una cemburu, ia mematung menatap Una dalam dekapan Ben.


Una melepaskan diri, Ben seakan tidak perduli. Pria itu malah merapihkan rambut Una yang keluar dari cepolannya.


"Maaf Pak, sepertinya bapak ada tamu," Una mengingatkan Ben. Namun Ben hanya melihat sekilas.


"Pak, ada tamu," seru Una


Ben menghela nafas, "Ia bukan tamu"


"Aku permisi dulu yah," seru Una.


Ara memindai Una dari atas sampai bawah, "Permisi," ucap Una saat melewati Ara sambil tersenyum. Berbeda dengan Ara yang memasang wajah tidak suka melihat pemandangan barusan.


"Perempuan itu siapa Kak ?"


"Calon istri aku," jawab Ben kembali fokus pada berkas di mejanya.


,__________


Hay,, jangan lupa goyang jari ya biar makin semangat dapat banyak like, coment, hadiah dll


Uhh, enggak sabar deh sama Baby twinnya Ben 🥰