Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
LDR (2)



...~ Enjoy Reading ~...


Flashback On


Beberapa hari yang lalu saat Ben berada di ruang kerjanya, ponsel miliknya bergetar. Nama Gerry terpampang di layar.


"Halo, Ben."


"Hmm."


"Ada masalah di sini."


Ben menghela nafas, "Apa tidak bisa kau selesaikan?"


"Berat, beresiko ini. Enggak bisa kalau hanya aku yang handle."


"Masalah apa?"


"Dean, sepupu lo. Menggugat jatah ayahnya, termasuk mengajak para pemegang saham untuk pemilihan ulang direksi. Ini harus kamu juga hadir di sini."


Ben memijat dahinya, bagaimana dia harus ke Singapura sedangkan Una di sini juga butuh dia.


"Ben."


"Iya, aku dengar."


"Bahkan Arabela juga ikut mengacau."


"Mengacau gimana?"


"Pokoknya cepat ke sini."


Setelah mengakhiri panggilan telpon dengan Gerry, Ben berdiskusi dengan Ilham dan Bian terkait keberangkatannya ke Singapura.


Esok hari Gerry kembali menyampaikan kondisi perusahaan,


"Dean mulai mengancam beberapa pekerja."


"Ajak bicara Dean, tanya apa sebenarnya tujuan dia. Aku pasti ke sana, ini sedang mengatur agar Una aman."


"Oke."


Setelah menerima informasi terbaru dari Gerry, Ben meminta Ilham dan yang lainnya untuk diskusi persiapan ke Singapura, bahkan Leo diminta berangkat lebih dulu untuk menyelediki Dean dan Arabela yang ikut mengacau.


Flashback Off


Ben dan yang lain baru saja menikmati makan siang bersama keluarga Una tapi tanpa Una. Firda mengatakan Una di kamarnya, sedang istirahat.


Ben menuju kamar mereka, mendapati Una yang memang terlelap ia urung mendekati Una. Memilih menuju meja rias di mana terdapat beberapa foto Una ketika remaja yang ia belum pernah melihatnya. Tersenyum, ternyata seorang Aruna menggemaskan sejak dulu dan ia baru tau kerasnya hidup Una dulu dari cerita mertuanya tadi.


Wajar saja Una sempat menyatakan malas mengenal laki-laki mungkin karena kecewa pada Ayahnya dan Huda kakak sambungnya. Di usia yang harusnya ia asyik bermain dengan teman seumurannya dan hanya memikirkan sekolah, gadis itu malah ke sana ke mari mencari uang walaupun sekolahnya dia ikuti dengan baik.


Termasuk saat Una melanjutkan kuliah, ia rela bekerja di dua cafe untuk menghidupi keluarga dan biaya pendidikannya.


Ben menghela nafas mengingat saat itulah pertemuannya dengan Una dan mengakui dialah lelaki yang menyentuhnya pertama kali dan hanya dia. Bisa saja saat itu Una menawarkan padanya untuk menjadi sugar baby yang pasti akan diterima dengan baik oleh Ben karena sejak awal Ben memang tertarik dengan Una, tapi Aruna tidak memilih jalan itu. Dengan dirinya pula Aruna merasakan jatuh cinta.


Berjalan ke arah ranjang, ikut berbaring di belakang Una dan memeluknya, "Aku mencintaimu sayang, sangat-sangat mencintaimu."


"Hmm, Abang," panggil Una masih dengan mata terpejam. "Istirahatlah," jawab Ben.


Una berbalik menghadap Ben, "Aku tadi sudah ngobrol sama Ibu, katanya tidak ada proses melahirkan yang tidak menyakitkan, dan kata Ibu aku harus diskusikannya sama Abang."


Ben merapihkan anak rambut yang turun menutupi dahi Una, "Lalu?" tanyanya.


"Aku takut melahirkan normal Bang," rengek Una.


"Abang sudah makan?" Ben mengangguk, "Kamu yang belum makan, mau aku suapi lagi?"


"Aku belum lapar," Una mengeratkan pelukannya yang terhalang perut yang besar. Hanya bisa menenggelamkan wajah pada dada Ben.


"Paksakan Na, kamu__"


"Iya, iya aku makan Om Ben Chandra," ujar Una sambil menggerakan tubuhnya untuk bangun.


Ben ikut bangun dan mendekatkan wajahnya, "Panggil apa tadi?" tanyanya sambil menyentuh tengkuk Una.


"Om Ben, Ben Chandra pemilik BCP One juga pemilik hati aku," canda Una sambil tertawa tanpa di duga Ben menyatukan bibir mereka lembut dan dan menyusupkan lidahnya serta membelit lidah Una secara posesif. Cukup lama sampai Una berusaha mendorong tubuh Ben, sampai akhirnya dilepaskan oleh Ben.


Ben menempelkan dahi mereka sambil mengatur nafasnya, "Kamu hanya milikku Na," lalu kembali Ben memagut bibir Una seperti tadi namun tidak terlalu lama.


Menangkup wajah Una dengan kedua tamgannya serta mengusap bibir Una yang basah dengan ibu jarinya.


"Abang ihh, aku jadi takut," ucap Una.


Ben mengernyitkan dahinya, "Takut kenapa?" Una hanya mengedikkan bahunya.


"Sepertinya aku salah memutuskan," ucap Ben setelah menuntun Una duduk di kursi meja makan. "Salah bagaimana?" tanya Fatma.


"Una naik turun ke lantai dua, apa beresiko terhadap kehamilannya?"


"Enggak apa-apa, hamil tua harus banyak gerak asal hati-hati. Tapi kalau kamu mau lebih baik pakai kamar yang di bawah aja Na," jelas Fatma.


"Hmm," jawab Una sambil menyuapkan puding yang dibuat Fatma.


"Abang kembali ke Jakarta besok kan ?"


Ben tersenyum, "Besok jadwal penerbangan aku jam delapan pagi Na, aku harus berangkat sebelum jam enam. Jadi sore ini aku kembali ke Jakarta."


Penjelasan Ben langsung membuat wajah Una muram seketika. "Enggak usah ngambek, makan dulu."


Firda yang menyaksikan ke uwuan bosnya melipir menuju belakang rumah di mana terdapat kolam renang dan kursi ayunan. Mendudukan dirinya pada kursi dan mengayun pelan, sambil membuka ponselnya berharap pesannya di balas oleh Leo.


"Dasar playboy cap kodok, chat aku cuma dibaca, dasar ngeselin," gumam Firda.


Berbeda dengan Firda, Leo yang sudah tiba di Singapura tersenyum membaca pesan Firda. "Sabar sayang, tunggu aku pulang," ujar Leo dalam hati. Kini ia harus melaksanakan tugas dari Ben. Mencari tau tentang Dean juga Arabela.


Berbekal info awal dari Gerry, Leo sudah berada tidak jauh dari apartement Arabela. Mengenakan kaca mata hitam. "Oww, takdir berpihak pada si ganteng Leo," ujarnya saat melihat Arabela baru saja keluar dari lobby. Mengikuti wanita yang berjalan di depannya ternyata menuju salah satu reataurant.


"Jackpot ternyata," lirih Leo setelah melihat orang yang ditemui Arabela sama dengan foto Dean yang akan ditemuinya.


Cukup lama mendengarkan kedua orang tersebut berinteraksi, sambil menyesap kopi yang dipesannya Leo memastikan bahwa ia mendengar rencana mereka ke Jakarta.


"Target aku bukan perusahaan Ayah, tapi Kak Ben. Aku enggak rela perempuan kampung itu yang berhasil mendapatkan kak Ben," ungkap Arabela.


Dean hanya mengedikkan bahu, "Yang jelas gunakan hak kalian untuk mengajukan pemilihan ulang direksi. Aku hanya inginkan jatah ayahku dari perusahaan ini. Tapi aku penasaran sebesar apa perusahaan Ben di Jakarta sampai ia rela memilih bertahan di sana dan hanya mengawasi yang ini. Terlalu percaya diri," tutur Dean.


"Ya karena perempuan itu juga, Aruna kampr*t. Aku sudah rencanakan hal buruk untuk wanita itu tapi gagal."


"Kamu ternyata nekat juga ya, hanya demi laki-laki. Korban cinta," ujar Dean sambil tertawa.


"Tidak usah mengejek, nanti kalau kau menemukan wanita dan jatuh cinta. Aku yakin akan lebih gila rencana yang kamu lakukan," ejek Arabela.


Hai hai,, happy weekend.


_______


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖