Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Kondisi Aruna



Gema mendekatkan wajahnya pada wajah Una serta menatap sendu pada bibir Una. Tak ingin menerima penyatuan bibir dari pria itu, Una menghantamkan kepalanya pada Kepala Gema. Gema berangsut berdiri sambil memegang kepalanya yang sakit. Sedangkan Una menikmati kepala yang berdenyut sampai pandangannya berkunang-kunang lalu tak sadarkan diri.


"Dasar gila, wanita gila." Gema kembali mengungkung tubuh Una lalu bermain di tulang selangka Una.


Brakkkk, suara pintu di dobrak.


"Bangsat, kamu!!" Ben menendang Gema yang belum beranjak dari tubuh Una membuat pria itu tersungkur.


Ben menghampiri Gema yang terluka dipelipisnya, lalu menendangnya. "Bangun breng_sek, hadapi aku. Banci kamu, menghadapi satu orang wanita sampai harus diikat. BANGUNNNN!! teriak Ben.


Gema perlahan bangun, lalu terkekeh. "Seharusnya kamu datang nanti, setelah aku menikmati tubuh istrimu. Aku baru melakukan appetizer, belum puas." Gema terbahak.


Bugh


Bugh


Bugh


Ben memukul di perut dan wajah Gema. Saat hendak memukul kembali, tiba-tiba tangannya di tarik. "Pak, Bu Aruna, butuh Bapak," ujar Ilham.


Ben tersadar, lalu menoleh pada ranjang. "Astaga, Aruna." Ia mengusap wajahnya kasar melihat Una yang terkulai tak sadarkan diri dengan kedua tangan diikat tergantung. Kedua sudut bibirnya terluka, bahkan sebagian tubuhnya terlihat karena dress yang dikenakan sudah koyak.


Duduk di samping Una, menutupi tubuh istrinya dengan selimut yang tersedia di pinggir ranjang. Lalu membuka ikatan tangan Una, di mana darah sudah merembes pada ikatan tersebut.


"Maafkan aku, sayang." Ben menempelkan keningnya pada kening Una. Ben menggendong Una membawanya keluar ruangan.


"Sayang, kita menuju Rumah sakit. Aruna! Please Sadarlah sayang," pinta Ben. Kepala Una berada di pangkuan Ben.


"Lebih cepattt!" teriak Ben sambil menendang sandaran kursi yang diduduki salah satu anak buahnya yang sedang mengemudikan mobil.


Ia sudah berusaha lebih cepat, namun ternyata cukup terlambat karena Aruna menjadi korban dari kegilaan Gema.


Flashback On


Ilham menepikan mobilnya, ia terus tersambung telpon dengan mobil yang mengikuti Aruna. Tidak percaya dengan apa yang didengar, Ilham menekan headset di telinga, "Kalian yakin?"


"Pak, mereka kehilangan jejak Bu Aruna."


Brakkk, Ben memukul dashboard. "Bagaimana bisa? Aku tau kalian sudah terlatih untuk pekerjaan ini, bahkan aku bayar kalian mahal," ujar Ben.


Ilham hanya diam, ia melanjutkan perjalanan menuju titik hilangnya jejak mobil yang membawa Aruna.


Ben segera turun dari mobil ketika tiba di titik kesepakatan. "Bagaimana bisa kalian kehilangan jejak?" tanya Ben.


Berbarengan dengan seorang timnya yang lain berlari menuju arah mereka berdiskusi.


"Tidak jauh dari sini ada rumah dan penjaga lumayan ketat. Cukup aneh untuk ukuran rumah terpencil begini tapi banyak bodyguardnya."


"Kita ke sana?" Ucap Ben mengajak semua anak buahnya.


Kemudian keadaan mulai crawded dan chaos, satu persatu bodyguard Gema mulai membabi buta memukul orang-orang Ben.


"Sebaiknya Bapak, cari Ibu Una," ujar Ilham. Dijawab Ben dengan bergegas masuk ke rumah itu.


"Dimana bos kalian?" Ben bertanya pada salah satu orang yang sudah terkulai


Bughhhh, Ben kembali memukul orang itu.


"Lurus, kamar pertama dengan pintu ukiran."


Ben berlari mencari ruangan sesuai dengan petunjuk, namun setelah berada di depan ruangan yang di maksud ternyata ruangan itu dikunci.


Ben mengambil ancang-ancang menendang pintu tersebut.


Brakkkk


"Bang*sat kamu."


Flashback off.


"Baringkan di sini, Pak," ucap perawat saat Ben tiba di UGD menggendong Una. Ben mengernyitkan dahinya saat melihat darah pada bagian bawah dress Una juga diantara kedua paha Una. Bahkan merembes pula pada kemeja Ben saat menggendong Una.


"Itu darah apa, seingatku tidak ada yang luka di area itu," batin Ben.


"Bapak tunggu di sini," ucap perawat melarang Ben ikut masuk saat Una ditangani dokter. Ben menyugar rambutnya karena gugup, khawatir dan entahlah. Yang jelas perasaannya kacau, ia duduk dengan kepala menunduk menahan tangis. Merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Una.


Entah berapa lama ia menunggu, sampai seseorang menepuk bahunya. Ia menengadahkan wajahnya melihat Huda di sana. Menghela nafas, "Aku gagal menjaga Una," ucapnya. Tidak lama Ilham juga tiba, menyampaikan polisi sudah tiba di lokasi.


"Keluarga Ibu Aruna," panggil perawat.


"Saya, suaminya," jawab Ben diikuti Huda dan Ilham. Lalu dokter menjelaskan kondisi Una, "Sepertinya Ibu Aruna korban pelecehan, baiknya pihak keluarga mengajukan visum untuk kebutuhan barang bukti. Luka di tangan sudah di atasi, luka luar tidak terlalu mengkhawatirkan. Kita perlu antisipasi trauma saat Ibu Aruna bangun, juga..." dokter menjeda penjelasannya.


"Saat ini dalam observasi dokter kandungan, terjadi pendarahan pada kehamilan Ibu Aruna. Yang disebabkan bisa karena tekanan atau juga benturan. Kita berdoa saja semoga kehamilannya bisa dilanjutkan."


"Hamil? Pendarahan?" tanya Ben. Sungguh ia tidak mengetahui jika Una sedang hamil.


to be continue


follow ig author ya : dtyas_dtyas


Haiiii Pembaca mulai dari emak-emak, bo-iboo, kaka-kakak, selamat bermalam minggu.


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖