
Tidak mudah mendapatkan informasi kondisi pasien, berbekal Leo sebagai seorang yang terlatih untuk hal-hal seperti ini akhirnya ia siap menyampaikan hasil investigasinya pada Ben.
"Pak, hasilnya pemeriksaan Ibu, agak beresiko."
"Beresiko bagaimana?" tanya Ben via telpon dengan Leo.
"Tekanan darah Bu Aruna cukup tinggi juga salah satu janin terlilit tali pusar."
Ben memijat dahinya,
"Dokter tidak bisa mengijinkan Bu Aruna bepergian."
"Oke kamu sebaiknya kembali ke rumah. Aku akan usahakan urusan disini segera selesai"
Ben bersandar pada kursi dan memejamkan matanya, "Aku harus kembali ke Jakarta," batin Ben.
"Gerry, kemana Gerry?"
"Gerry, sedang rapat internal manajemen Pak," jawab Ilham. Ben segera menuju ke ruang rapat di mana Gerry berada dan memimpin rapat itu.
Malam harinya di apartemen baru Dean,
"Gimana, cocok enggak?" tanya Arabela.
"Lumayan," jawab Dean sambil duduk disofa.
"Kalau enggak cocok," Arabela diam sejenak, "cari sendiri, enak aja suruh-suruh aku."
Dean tertawa, "Kamu kan tuan rumah di sini, wajar dong kalau aku minta kamu carikan tempat. Aku berniat tinggal di rumah Ben."
"Hah, Dean, kamu gila ya? Mana bisa tinggal di sana? Aku aja enggak dapat alamatnya, mau komporin perempuan kampung itu."
"Lambat, aku sudah berkunjung ke sana. Bahkan disambut baik oleh perempuan yang kamu bilang kampungan," jawab Dean.
"Mana, aku minta alamatnya!"
"No, kalau mau dekati Ben cari cara lain jangan ikut langkahku." Arabela mendengus kesal, menyandarkan punggungnya pada sofa di samping Dean. "Kita kan kerjasama, partner dalam memperjuangkan masa depan. Kamu dapatkan perusahaan, aku dapatkan Ben."
"Maksudmu partner in crime," Dean tergelak, "tujuanku sekarang berubah."
Arabela menolehkan kepalanya pada Dean, "Berubah, maksudnya?"
Ben berjalan menuju balkon apartementnya, membuka pintu dan keluar memandang langit dan suasana Jakarta.
Arabela yang penasaran dengan maksud Dean mengikuti pria itu dan berdiri disisinya.
"Apa yang Ben katakan padaku itu benar." Berdiri di balkon lantai 15 membuat mereka merasakan hembusan angin malam, juga suara klakson mobil-mobil yang kalau kita lihat ke bawah, tampak masih padat di beberapa titik.
"Saham yang mendiang Ayahku miliki itu lebih dari cukup. Juga saham dari perusahaan-perusahaan keluarga besar ibuku. Jadi, aku tidak perlu usik perusahaan itu apalagi menyebabkannya goyah seperti sekarang. Saat ini aku seakan melihat permata, permata yang hilang namun masih dalam genggaman orang lain."
Arabela menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Dean, aku enggak ngerti maksud kamu. Ini permata apa maksudnya?"
Dean berdecak, ia kembali masuk ke dalam. Membuka lemari pendingin dan mengambil satu botol air mineral lalu meneguk setengah dari isinya.
Kembali mendaratkan tubuhnya pada sofa, "Itu urusanku, kamu fokus saja pada rencana sendiri."
"Kita enggak kerjasama lagi?"
"Terserah deh, kamu mau aku antar ke club. Biar aku tunjukan club-club terkenal di Jakarta."
Dean menggelengkan kepalanya, "Yakin, biasanya tiap malam kamu ke club lalu pulang membawa wanita random yang kamu temui."
"Aku hanya ingin minum, sedikit membuat tenang."
"Kalau gitu, tepat dong aku bawa ini," Arabela menunjuk goddy bag di atas meja. Dean membuka goody bag dan mengangkat isinya.
"Champagne? Kamu mau merayakan apa?"
Arabela mengeluarkan botol lainnya, "Ada soju juga," ucapnya lalu berjalan menuju pantry mengambil dua buah gelas.
Kedua orang itu mengisi malam dengan menikmati gelas demi gelas berisi alkohol sambil bicara hal random. Arabela terlihat sudah oleng, Dean sendiri merasa kepalanya telah berat dan penglihatannya mulai kabur.
"Arabela," ucap Dean sambil mendorong kepala Arabela dari pundaknya. "Lebih baik kamu pulang, sepertinya aku mulai mabuk."
"Hmm," Arabela yang memang sudah terpejam kembali bersandar pada tubuh Dean.
Dean berdiri dengan tubuh yang sedikit terhuyung, Arabela terjerembab di sofa karena tumpuan tubuhnya tiada. Arabela berjalan terhuyung masuk ke kamar lalu menjatuhkan diri di ranjang, sedangkan Dean yang sedang membuka kemeja dan celana panjang mengerutkan dahi melihat Arabela berada di ranjangnya.
“Arabela pulanglah,’’ usir Dean, “aku harus tidur, kepala ku berat.”
“Berisik,” teriak Arabela masih dengan mata terpejam.
Dean berdecak dan menatap tubuh Arabela, dress yang dikenakannya tersingkap hingga memperlihatkan paha jenjang yang putih mulus miliknya.
Tergoda, pasti. Tidak ada kucing yang menolak ikan dihadapannya. Dean yang hanya mengenakan boxer mengukung Arabela, “Arabela,” panggilnya.
Hembusan nafas Dean terasa hangat di wajah Arabela, ia mengalungkan tangannya di leher Dean. “Kak Ben,” ucap Arabela.
Dean yang mendengar nama Ben disebut sedikit geram, baginya Ben adalah rival. Rival karena permata incarannya ada digenggaman Ben. ******* kasar bibir lembut milik Arabela.
******* tersebut terasa panas membara bahkan Arabale terlihat menikmatinpermainan lidah Dean yang mulai membelit lidah Arabela.
Dean melepas penyatuan bibirnya lalu menanggalkan semua penutup tubuh Arabela. Lekuk tubuh wanita dihadapannya ini terlihat begitu menggoda, apalagi kedua gundukan yang terlihat masih sangat kencang. Menyapu, menghi sap dan meremas bergantian kiri dan kanan membuat pemilik tubuh itu membusungkan badannya dan mengeluarkan suara dessahan nan eksotis.
Setelah puas bermain di dua bukit kembar, Dean turun ke bawah. Area hutan belantara yang dapat mengantarkan keduanya menuju kenikmatan tiada tara. Setelah membuka sedikit lebih lebar kedua paha mulus Arabela, Dean membenamkan wajahnya di pusat tubuh Arabela dan memainkan lidahnya disana. Cukup lama, hingga lenguhan keluar dari bibir Arabela sampai tubuh itu menggelinjang dan sampailah Arabela pada pelepasannya.
Dean mengarahkan miliknya ke pusat tubuh Arabela yang sudah basah, memagut bibir ranum milik Arabela bersamaan dengan bagian bawah tubuhnya yang menerobos masuk ke milik Arabela. Sempit, bahkan Dean berusaha menghentak kuat sampai berhasil menerobos masuk.
Dean melepaskan pagutannya, "Bela, kamu ...." ucap Dean menyadari bahwa Arabela belum pernah tersentuh.
"Sakit," ucap Arabela dengan mata terpejam dan air mata terlihat di sudut kedua matanya. Dean menikmati sensasi miliknya di berada dilubang sempit yang terasa memijat nikmat miliknya.
Perlahan Dean mulai menggerakan pinggulnya, Arabela masih mengerang kesakitan namun itu tidak berlangsung lama karena berganti dengan rasa melayang juga sensasi kenikmatan luar biasa.
Dean terus menghentak dan bergerak di atas tubuh Arabela sampai Arabela kembali mengejang lalu Dean mempercepat gerakannya tubuhnya dan terlepas sudah benih-benih miliknya pada dinding sempit milik Arabela.
Dean merebah disisi Arabela, "Maaf Bela, semoga kamu tidak menyesal," ucap Dean diantara deru nafasnya. Sedangkan Arabela sudah terpejam karena lelah. Dean menyelimuti tubuh mereka berdua yang masih polos lalu menyusul Arabela ke dalam mimpi.
_______
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖