Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Kecelakaan



Ben menatap foto Una yang tersimpan di ponselnya. Rasanya tak sanggup melihat seorang Aruna terluka, terluka karenanya. Andai bisa diputar waktu ia ingin memperbaiki hidupnya agar tetap bisa bersama Una.


Menghela nafas, memfokuskan diri pada pekerjaannya adalah cara yang tepat untuk perlahan melepaskan Una.


Saat malam, Ben sudah tiba di tempat yang ia sampaikan pada Clara untuk menemuinya. Ben memanggil pelayan untuk memesan hidangan saat Clara datang.


"Hay, sayang," sapa Clara lalu duduk di pangkuan Ben.


"Clara, menyingkirlah." Pelayan yang sedang mencatat pesanan Ben menunduk melihat tingkah Clara.


"Clara!!!"


Clara bangun dari pangkuan Ben dan duduk di kursi sebelah Ben, lalu menyebutkan pesanannya pada pelayan.


Memeluk lengan Ben, "Ben, kita kembali ke Singapur, seperti dulu kau dan aku," ucap Clara dengan telunjuknya menelusuri wajah Ben.


"Hentikan Clara."


"Kau berubah Ben," ujar Clara dengn tangan di lipat di dada.


Ben merogoh saku di balik jasnya, meraih isi di dalamnya dan meletakannya di meja. Clara yang melifat foto yang diletakan Ben adalah foto dirinya sangat terkejut, lalu mengambil tumpukan foto tersebut. Membuka helai demi helai, foto dirinya saat masuk dan keluar apartement Alan, juga foto dia dan Alan mengumbar kemesraannya baik itu di mobil, restaurant, mall dan tempat lainnya.


"Ben, kamu menguntit aku?" Clara menatap Ben dengan wajah emosi.


"Ini kejadian sebelum kita bertemu, aku kecewa kau menolak untuk kita serius dalam hubungan."


"Begitukah ? Lalu bagaimana dengan ini ?" Ben meletakan kembali beberapa lembar foto Clara dan Ben.


"Candle light dinner bersama Alan, bahkan tadi pagi pun kamu keluar dari apartement Alan."


"Ben, aku minta maaf. Aku akan berubah tapi tolong kembali padaku."


"Kembali padamu ? Sebelumnya dan sekarang kita tidak ada hubungan. Aku berikan dua pilihan, kau boleh lakukan apa yang kamu mau tapi foto-foto ini akan segera diterima oleh ayahmu. Pilihan kedua, jangan pernah menawarkan hubungan apapun padaku dan jangan menggangu Aruna."


"Apa sih istimewanya gadis itu ?"


"Sangat istimewa."


"Aku lebih dari segalanya dibandingkan dia."


"No, Aruna segalanya tapi kamu seadanya."


"Terserah, kamu mau pergi atau tetap di sini, aku ingin menikmati makan malamku. Jika kau tetap di sini, jangan merusak suasana."


Sudah hampir satu bulan dari kejadian Una di culik, ia menjalani hidup seperti biasa. Masih bekerja di perusahaan milik Ben, walaupun ada rencana untuk resign.


Menyibukan diri agar tidak larut dalam kesedihan, pulang ke Bandung, sering jalan-jalan dengan Meisya dan Chika juga membantu Huda merawat kakak iparnya yang sedang hamil semester pertama.


Namun, saat sendiri Una kembali merasakan kesedihan yang membuatnya tidak bisa tidur lalu terisak sepanjang malam. Seperti pagi ini, ia tiba di kantor dengan mata agak bengkak. Orang-orang terdekatnya mengerti apa penyebabnya, kesedihan karena putus cinta dan merindukan Ben.


Sesuai dengan isi pesannya, Ben tidak akan mengganggunya, akan menghindar jika ia harus bertemu Una.


"Bil," ucap Una sambil duduk di kursi sebrang meja Abil.


"Kenapa ?" Jawab Abil masih fokus pada layar di depannya.


"Kayaknya aku mau resign."


"Alasannya ?"


Una terdiam, Abil menghela nafas menatap Una yang menunduk, terlihat matanya yang bengkak sudah pasti Una menangis lagi.


"Na, kenapa sih cewek itu ribet."


"Maksudnya ?"


"Iya itu ribet, udah dari pakaian, makanan, segala macem sampai urusan hati dan perasaan itu dibikin ribet."


"Contohnya tuh, wajah pake cream pake lotion ada bedak poles blush on dan segala temen-temennya."


"Itu bukan ribet tapi kebutuhan kali dan masing-masing orang, ukuran kebutuhannya berbeda. Terus apa hubungannya sama gue mau resign," ucap Una mulai emosi.


Abil tertawa, "Iya loe ribetnya tuh di urusan perasaan, pengen resign karena enggak mau ketemu boss kan ? Tapi dalam hati loe sebenrnya masih sayang sama boss loe. Apa bukan ribet namanya, kalau suka tinggal bilang suka jangan ngalor ngidul enggak jelas."


Abil tertawa, "Na, mau ditemenin enggak ke lantai 10."


"Bodo amat."


"Ada apa ini, ribut kayak di pasar," seru pak Bara saat masuk ruangan divisi keuangan, ia baru saja turun dari lantai 10 mengikuti rapat manajemen.


"Biasa pak, keribetan para wanita."


"Hmm, kalian tidak makan siang? Nanti jam 1 kita briefing."


"Sebentar lagi pak."


"Rahmi," panggil Abil dari meja kerjanya.


"Iya kak,"


“Una ajak ke kantin, lagi ngambek sama gue.” Abil melewati meja Una sambil tertawa.


Una dan Rahmi menuju kantin, saat berjalan mencari meja yang kosong, Abil yang entah dari mana tiba-tiba berjalan di samping Una. Tangannya merangkul bahu Una namun dihempas oleh Una, merangkul kembali dan dihempas kembali. “Cie, ngambek.” Abil terus meledek Una sambil tertawa.


Tanpa mereka ketahui, sepasang mata memperhatikan moment tersebut. Ada rasa cemburu melihat Abil terus menggoda Una. Ben, yang sejak tadi sudah berada di kantin bersama tim manajemen, menikmati makan siang setelah melaksanakan rapat.


Bian yang duduk disebelah Ben, menoleh ke arah pandangan atasannya. "Ehemm, kalau kangen ya samperin aja kali.” Lirih Bian namun dapat didengar Ben. “Mulai berani kamu ya,” ujar Ben yang dibalas Bian dengan terkekeh.


Una sedang mengaduk kuah sop ayam menu makan siangnya, saat ada seorang wanita masuk ke dalam kantin. Dengan tubuh tinggi mengenakan sheath dress berwarna toska dan wedges cream juga make up yang extraordinary. Beberapa laki-laki berdehem saat wanita tersebut lewat, menghampiri meja Ben dan duduk di kursi sebelahnya.


“Untuk apa kamu ke sini?” tanya Ben pada Clara.


“Ada yang perlu aku bicarakan. Aku menunggumu, sekretarismu bilang sedang rapat lalu makan siang. Kenapa makan siang di sini sih, aku bisa ajak kamu ke tempat yang lebih baik dari ini”


Beberapa orang yang melihat Ben dan Clara berbisik-bisik hingga di dengar pula oleh Una. Abil yang duduk di depan Una, “Enggak usah nengok,” ucap Abil. Namun membuat Una penasaran ia pun menoleh ke arah yang dibicarakan oleh para pegawai lain.


Saat Una menoleh, ia bertatapan dengan Ben juga bertepatan dengan Clara yang mencondongkan wajahnya mendekat ke Ben, membisikan sesuatu.


Hati Ben berdesir, sudah lama ia tidak menatap mata itu. Biasanya ia hanya memandang punggung Una dan itu pun dari jauh. Namun saat ini tatapan itu kembali membuatnya ingin menarik Una dalam pelukannya karena rasa rindu.


Ternyata Una pun merasakan yang sama saat ia menatap Ben, getaran itu masih ada. Namun melihat kedekatan Ben dengan Clara membuat dadanya terasa sesak. Ia menghela nafas dan kembali fokus pada makanan di hadapannya. Vino meninggalkan kantin, saat melewati Una ia menepuk bahu Una seakan memberikan semangat karena ia melihat kejadian tadi membuat raut wajah Una berubah.


“Kalau sama yang ini kayaknya cocok banget, cantik kayak model.”


“Yang kemarin mah kehaluan dia doang, pengen punya gebetan orang kaya.” Celetukan-celetukan yang masih berlanjut menyudutkan Una.


“Susah kalau ada lambe curah di kantor, senengnya ngegibahin orang,” sahut Abil.


“Udah Bil,” ucap Una. “Ya udah, kita ke atas lagi kak,”ajak Rahmi.


Menyaksikan Clara dekat dengan Ben membuat konsentrasi Una buyar, seperti ada rasa yang tidak nyaman melihat kedekatan antara Clara dan Ben. Akhirnya, saat jam pulang ia bergegas meninggalkan kantor. "Aku duluan ya?"


"Na, gue anter ya ?"


"Enggak usah Bil, bukannya ada janji ya sama cewe loe?"


"Bisa diatur."


"Enggak usah, aku duluan ya."


Saat ini termasuk jam sibuk, dimana para pekerja berlomba-lomba menuju rumah masing-masing.


Jalan yang padat serta mata Una yang terasa berat akibat semalam ia kurang tidur membuat dia tidak fokus pada jalan dan pengemudi lain.


Braakkk,


"Auw, ahhhh."


Terjadi tabrakan antara motor yang dikendarai Una dan kendaraan di depannya.


_________


Yuhuuuu, jangan lupa like koment vote dll


love you gaes🥰