Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Tak sadarkan diri



Menghubungi ponsel Una, lama tidak diangkat namun Abil sayup-sayup mendengar nada dering ponsel milik Una. Mendekat ke arah motor milik Una, Abil berjongkok meraih ponsel yang berada di bawah motor Una.


Memperhatikan ponsel di tangannya, layarnya retak yang mungkin disebabkan jatuh yang sengaja atau tidak disengaja. Masih dalam tanda tanya di mana Una, ia mencoba menghubungi lagi ruangan kerja mereka, khawatir jika Una kembali ke atas karena ada sesuatu yang tertinggal.


Abil juga masuk ke dalam kantor mencari di lobby dan parkiran lobby utama namun ia tidak melihat Una. Bertanya pada security termasuk Huda kakak dari Aruna.


"Ponselnya saya temukan enggak jauh dari motor dia, pecah juga layarnya."


"Mungkin enggak kalau udah pulang ?" tanya Huda.


"Tapi kenapa motor sama handphonenya di tinggal."


Huda mencoba menghubungi istrinya, menanyakan kemungkinan Una di rumah mereka, namun nihil.


"CCTV," ucap Abil dan Huda serempak. Bergegas menuju ruang operator CCTV.


Operator CCTV baru saja akan mengunci ruangan hendak pulang, ketika Huda dan Abil datang.


"Untung gue belum pulang Bil."


"Kalau udah pulang, gue suruh balik lagi lah."


"Di mana kejadiannya," ucap Doni operator CCTV dengan tangan menggerakan mouse. Layar-layar di depan mereka menampilkan situasi di titik penempatan CCTV.


"Basement."


"Kurang jelas Bil, jauh dari titik kamera." Memundurkan waktu, booom terlihat kejadian di mana Una menunggu sampai dipaksa masuk ke dalam mobil.


"Bangs*t, mau dibawa ke mana adek gue," ucap Huda dengan nada marah, kedua tangannya mengepal menahan emosi.


"Sabar bang, kita cek titik lain siapa tau lebih jelas," ujar Doni. "Gotcha" ketika Doni memperbesar nopol mobil yang membawa Una. Juga menampilkan kedua orang dalam mobil yang memakai masker dan topi.


"Kita hubungi polisi," ucap Huda hendak beranjak.


"Kita ikutin aja, loe aja yang hubungi polisi ya ?" pinta Abil pada Doni.


"Ikutin gimana maksudnya ?" tanya Huda.


"Kita_" ucapan Abil terhenti.


"Iya, oke. Terus ikuti, Ilham juga sudah menyusul." Bian datang sambil menghubungi seseorang dengan ponselnya.


"Pak, Aruna .." ujar Abil.


"Leo sedang mengikuti mobil itu, Ilham juga menyusul. Don, kamu amankan gambar dan video sebagai bukti kalau harus berurusan dengan hukum."


"Kitu tunggu informasi dari Ilham dan Leo baru kita susul mereka," ujar Bian.


Huda berjalanan mondar mandir, "Gue enggak tau kalau Una ternyata punya musuh," cetus Huda.


Sedangkan Doni masih mengutak atik tampilan layar-layar di depannya.


"Calon nyonya besar, banyak saingannya," sahut Abil.


Huda menoleh pada Abil lalu berdecak, "Kalau resikonya macam begini, enggak jadi gue kasih restu."


Bian menyugar rambutnya sebelum ia menghubungi Ben, Ben yang sejak kemarin berada di luar kota sedang bertemu dengan calon investor perusahaan yang akan didirikannya.


"Halo."


"Halo, Pak. Terkait A_"


"Anak buahmu bisa diandalkan tidak ? Mengawasi satu orang perempuan aja enggak becus."


"Ilham dan yang lain sudah ikut mengejar."


"Pastikan Una selamat, aku sudah di pesawat."


"Baik pak."


"Awasi juga Clara dan Alan."


Bian memijat dahinya setelah mengakhiri panggilan.


Bian, Huda dan Abil sudah berada dalam mobil menuju titik lokasi yang dikirim oleh Ilham.


Berada di pinggiran kota Jakarta, daerah yang agak jauh dari keramaian. Tepatnya di sebuah gedung tak terpakai, Leo sedang mengintai untuk mengetahui jumlah orang yang harus dihadapi untuk menyelamatkan kekasih dari Ben.


Tidak lama, Ilham dan dua orang rekannya sudah tiba, "Yang turun dari mobil tiga orang, di dalam sekitar dua orang, harusnya sih ke handle oleh tim kita." Leo menjelaskan pada Ilham dan rekan.


"Strateginya ?"


"Ilham fokus ke sandera, gue dan yang lain urus para kampr*t."


Entah bagaimana Leo CS menyerbu ke dalam gedung tersebut, bersembunyi sambil memperhatikan para penculik yang disebut kampr*t oleh Leo.


Memastikan Aruna dalam kondisi aman, setelah memberikan aba-aba yang hanya dipahami oleh tim mereka sendiri, satu persatu para penjahat pun tumbang. (Sudah pasti mereka penjahat ya, karena kalo jagoan biasanya pake kostum kayak laba-laba, kelelawar atau ada juga yang badannya warna hijau cuma pake celana pendek. Sttt, abaikan 🤫)


Ilham mengecek kondisi Aruna, gadis itu masih tidak sadarkan diri terbaring di sofa butut salah satu ruangan dalam gedung.


Bian, Huda dan Abil tiba di lokasi. Melewati para pria yang tubuhnya atletis seperti bodyguard mengawasi beberapa orang yang terduduk dengan tangan terikat dan wajah lebam, Huda dan Abil mencari Una ke ruangan yang ditunjuk oleh Leo.


"Hubungi kepolisian, biar ditindak lanjuti," titah Bian pada Leo dan dijawab dengan anggukan.


"Na, Una," panggil Huda sambil menepuk pipi Aruna.


Perlahan kelopak mata Una terbuka, ia melihat wajah Huda dekat dengan wajahnya dengan tatapan khawatir juga Abil, Pak Bian lalu yang dipanggil Ilham oleh Pak Ben. Kepalanya terasa sakit, tubuhnya terasa sulit untuk digerakan dan rasa kantuk kembali datang. Una akhirnya tidak sadarkan diri lagi.


"Rumah sakit," ucap Bian. Lalu Huda segera menggendong Una berjalan cepat membawa adiknya menuju mobil Bian. Abil berlari segera membuka pintu mobil untuk Huda. Dengan Bian dan Abil di kursi depan, mobil tersebut melaju sangat cepat.


Sesekali Abil menoleh pada Una yang terbaring dengan kepala pada pangkuan Huda. "Cek rumah sakit terdekat." Perintah Bian pada Abil karena ia fokus pada laju kendaraan.


Memainkan ponselnya, "Sepuluh menit," ucap Abil lalu meningkatkan volume suara mapsnya.


Tiba di rumah sakit, Huda dan Abil menuju Instalasi Gawat Darurat sedangkan Bian memarkirkan mobilnya serta segera menghubungi Ben.


Una perlahan membuka matanya, ia mancoba menggerakan tubuhnya. Tercium bau obat-obatan, aroma khas rumah sakit.


"Una, sabar Na jangan dipaksa. Apa yang dirasa ? Aku panggilkan dokter ya?" Huda yang menunggu disampingnya sejak dokter menyampaikan hasil pemeriksaan.


"Kak," ucap Una lirih. Mengingat bahwa sebelumnya ia sedang di basement menunggu Abil, membuka akun media sosialnya saat tiba-tiba dirinya seperti ditarik dan mulutnya dibekap lalu ia tidak ingat apapun.


"Dokter!!" teriak Huda. Namun Una kembali tertidur.


Ben sudah tiba di rumah sakit, Una sudah dipindahkan di ruang rawat.


"Abil kamu sebaiknya pulang, jangan sampai berita ini tersebar." Abil mengangguk, "Cari tau dalang di balik kejadian ini," titah Ben pada Bian.


"Pastikan juga ada yang menjaga di sini, biar Aruna aku dan keluarganya yang mengurus."


"Selamat berjuang, Huda batal kasih restu kalau ternyata ini ada kaitannya dengan hubungan kalian," ucap Bian pada Ben sambil terkekeh.


"Semangat bos, pulang dulu deh, lumayan


seru habis shooting film action," canda Abil.


Ben masuk ke dalam ruang perawatan Una, menoleh pada Huda yang duduk di sofa sedang melakukan panggilan pada ponselnya.


Duduk di kursi sebelah hospital bed Una, mengelus tangan yang tertanam jarum infus.


to be continue


___________


Yuhuuuuu, 😁


biasa gaes, like koment dan lain-lain


thanks yang udah sabar nunggu kelanjutan