
Dean merebah disisi Arabela, "Maaf Bela, semoga kamu tidak menyesal," ucap Dean diantara deru nafasnya. Sedangkan Arabela sudah terpejam karena lelah. Dean menyelimuti tubuh mereka berdua yang masih polos lalu menyusul Arabela ke dalam mimpi.
Esok harinya, Arabela perlahan membuka kedua matanya. Efek alkohol yang ia minum semalam masih menyisakan berat di kepalanya, saat ia menggerakkan tubuhnya terasa perih dibagian intinya dan ia menyadari bukan berada di kamarnya.
"Oh my god, Dean apa yang terjadi." Arabela menguncang tubuh Dean. "Kenapa kita ada diranjang yang sama dan...." Arabela membuka selimut yang memperlihatkan tubuh polos mereka.
"Dean," jerit Arabela.
"Apa sih Bell, kepala ku pusing jangan berisik."
Arabela menatap geram pada Dean, memungut pakaiannya dan memakainya. Saat berjalan ia merasakan perih dan tidak nyaman pada pusat tubuhnya.
Arabela bergegas keluar dari kamar Dean dan apartement itu.
Di tempat berbeda, tepatnya di kediaman Ben. Aruna yang berada duduk di salah satu kursi meja makan, berhadapan dengan Firda. Tersenyum mendengar candaan antara Firda dan Leo.
"Non Una mau sarapan sekarang?" tanya salah satu asisten rumah tangga.
"Iya bik, sarapan apa bik?"
"Ada bubur ayam, atau mau dibuatkan yang lain?"
"Enggak apa-apa itu aja."
Una sedang menikmati sarapannya saat seorang pria berjalan menghampirinya dari belakang. Leo dan Firda yang melihat hal itu hanya bisa terdiam karena pria itu memberi isyarat agar tidak merespon.
Berdiri dibelakang tubuh Una yang sedang duduk, sedikit menunduk lalu memeluk sambil mengalungkan tangannya di leher Una bahkan membenamkan wajah pada pundak yang terekspos karena rambut yang dicepol asal.
"Ehh," ucap Una refleks saat merasakan rengkuhan tubuhnya. Aroma pomade rambut itu menguar dihidung Una karena tepat disisi wajahnya, bahkan harum parfum khasnya sudah bisa dipastikan pria itu adalah Ben. Karena tidak ada yang berani menyentuh Una selain suaminya sendiri.
"Abang, ini beneran ya. Aku enggak mimpi kan?"
Ben mengecup pipi Una, lalu duduk di kursi sebelah Una. Kembali merengkuh Una dan mencium kening Una.
"Kenapa jam segini baru makan, hmm?"
"Justru aku yang tanya, Abang jam berapa berangkatnya jam segini sudah sampai Jakarta," ucap Una.
Ben tidak menjawab, ia mengambil mangkuk sarapan Una, menyendok isinya dan menyuapkan pada Una.
Ilham yang baru bergabung di ruangan tersebut melakukan tos kepalan tangan dengan Leo.
"Ada pesan dari Gerry, pacar loe masih bikin ulah enggak." Ucap Ilham.
Leo hanya berdecak, "So sweet banget sih," ujar Firda melihat pemandangan dihadapannya.
Ben menunduk mencium perut Una dibalas dengan usapan lembut di kepala Ben oleh jemari Una. Tanpa rasa sungkan karena ada orang-orang kepercayaannya disana, Ben meraih tengkuk Una dan ******* bibir wanita yang sangat dirindukannya.
"What," ucap Firda lalu menundukan wajahnya. Sedangkan Ilham hanya terbahak, berbeda dengan Leo, "Astaga, enggak kasihan sama yang jomblo."
"Siapa yang jomblo?" tanya Ilham. "Loe lah, masa gue," jawab Leo.
"Owh udah enggak jomblo gitu?" tanya Firda. Ilham kembali terbahak, "Gimana sih? Kok target malah bertanya."
Ben melepaskan pagutan bibir mereka, Una memukul pelan dada Ben. "Abang ihh, jadi tontonan tau."
"Ikut aku!" Ben membantu istrinya berdiri dan merangkul pinggangnya posesif meninggalkan ruangan.
"Kepengen tinggal kasih aja," ujar Ilham.
"Sudah error kalian." Firda meninggalkan Leo dan Ilham.
Di dalam kamar Ben mendudukan Una di pinggir ranjang sedangkan ia duduk disebelah Una masih dengan merangkul bahu istrinya dengan posesif.
"Sayang," panggil Ben. Una menyandarkan kepalanya pada bahu kekar Ben. "Maafkan aku, kamu kembali berada disituasi tidak nyaman saat aku pergi. Harusnya aku paham kenapa kamu memilih kembali ke Jakarta, aku memikih tidak menghubungimu karena emosi. Disana sedang crawded ditambah kamu tidak mengindahkan apa yang aku sampaikan."
Posisi mereka kini berhadapan, Ben kembali menunduk memciumi perut Una. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian, jangan merasa seperti tahanan yang terkekang karena kita tidak tau siapa yang punya niat jahat. Paham!"
Una mengangguk, "Abang enggak masalah sudah kembali kesini, bukannya disana juga sedang butuh Abang."
"Ada Gerry, aku bisa mengawasi dari sini. Tapi kalau kamu saat ini sedang butuh aku disini. Harta bisa dicari tapi keselamatan dan kenyamanan kamu saat ini prioritas aku."
Una menatap haru pria dihadapannya, yang sudah memberikan kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan dari keluarganya.
"Hmm, makin cinta deh sama Abang." Una memeluk Ben namun terhalang perutnya.
"Jadi, bagaimaan keadaan my baby twin?" tanya Ben walaupun ia sudah mengetahuinya.
Una terdiam, "Aku menunggu, Aruna," ujar Ben. Ben tetap menunggu kejujuran Una.
"Salah satu bayi kita terlilit tali pusar," tutur Una.
"Lalu."
"Minggu depan akan dilihat perkembangannya," ucap Una sambil menunduk. Ben merengkuh Una, "It's oke, mereka akan baik-baik saja dan lahir dengan selamat."
Ponsel disaku celana Ben berdering, ternyata panggilan dari Arabela.
"Arabela," ucap Ben.
"Dia ada di Jakarta, Bang."
"Kamu tau?"
"Kita bertemu di restaurant, dia bersama sepupumu."
Ben memilih tidak merespon Arabela.
*
*
Dean yang baru saja tersadar dari tidurnya, mengerang merasakan sakit dikepalanya. "Gara-gara Arabela bawa campagne sama soju jadi kayak gini." saat hendak turun dari bed nya Dean menyadari bahwa tubuhnya polos.
Ia terdiam dan berusaha mengingat, "Astaga," ucapnya sambil menyugar rambut. "Arabela," ucapnya. Saat mengingat apa yang semalam ia lewati bersama Arabela.
Dean tidak menyangka bahwa Arabale belum pernah disentuh dan dialah yang menjebolnya. Mengambil ponselnya di atas nakas, mencari kontak Arabela dan menghubunginya. Beberapa kali panggilan namun tidak kunjung dijawab.
#Haiiii, hari senin nih, yg masih punya voucher bolehlah di shareπ
_______
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author ππ