
Haiiii,,, mampir ke karya aku yg baru yahhh. Mampirlah masa enggak,,
Blurb
Ketika takdir merenggut cintanya, Kania kembali diuji dengan kenyataan kalau dia harus menikah dengan pria yang tidak dikenal. Mampukah Kania menjalani pernikahan dengan Suami Pengganti, di mana dia hanya dijadikan sebagai penyelamat nama baik keluarga suaminya. Kebahagiaan yang dia harapkan akan diraih seiring waktu, ternoda dengan kenyataan dan masa lalu orang tuanya serta keluarga Hadi Putra.
...Penggalan Bab ...
Elvan dan dua pengawalnya menyaksikan mobil yang dikendarai Bayu terguling lalu pindah jalur tertabrak mobil lain yang berlawanan arah.
“Lebih cepat,” teriak Elvan karena dari belakang ada mobil yang mengarah kepada mereka.
Rem diinjak untuk mempercepat laju mobil dari kendaraan lain.
“Hubungi kepolisian dan ambulance atau apapun,” titah Elvan yang khawatir dengan kondisi Bayu. Entah bagaimana kondisi dirinya jika tadi memaksa menaiki mobilnya sendiri.
Brak.
“Shittt,” maki Elvan ketika ada mobil yang menabrak dari belakang. Sepertinya yang berniat jahat terhadap Elvan mengetahui jika Elvan berada di mobil tersebut.
“Amankan di depan,” ujar pria yang sedang mengemudi entah dia memberikan instruksi pada siapa melalui earpiece.
“Tuan Elvan, anda baik-baik saja?”
“Teruskan rencana kalian, bawa aku dari sini dengan selamat. Hubungi siapapun untuk mengurus Bayu,” titah Elvan lagi.
Sedangkan di tempat sebelumnya, mobil yang dikendarai Bayu dalam keadaan terbalik. Bayu mengerang kesakitan, dengan banyak luka di tubuhnya dan kaki yang terjepit. Bahkan kondisi tubuhnya pun terbalik mengikuti posisi mobil.
Bayu terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
“Abang, itu suara apa?”
Pria itu menoleh sekitar mencari ponselnya.
“Ka … nia,” ujarnya lirih.
Di luar kendaraan, beberapa orang berusaha membantu Bayu untuk keluar.
“Api,” teriak seseorang.
“Abang, kenapa suaranya putus-putus dan ini bising banget. Abang sedang di mana … abang ….”
Panggilan pun berakhir, Bayu melihat ponselnya lalu berusaha menggapai dan berhasil. Dengan nafas terengah dan sesekali terbatuk memuntahkan darah, Bayu menyentuh layar ponsel yang sudah retak di mana foto Kania sebagai wallpaper.
“Api, Pak … ini macet nggak bisa dibuka,” seru orang yang sedang berusaha membantu Bayu keluar dari mobil.
Bayu mengirimkan pesan suara pada Kania, kemudian berusaha melepaskan seatbelt-nya yang ternyata macet.
“Minggir,” ujar Bayu pada beberapa orang yang masih berusaha menolongnya. “Mobil akan meledak,”ujarnya lalu terbatuk. “Minggirlah!”
Tidak lama ... mobil pun terbakar, tepat setelah orang-orang di lokasi menghindar karena percikan api yang semakin besar.
“Tuan Elvan, mobil akan terguling. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak terlalu mencelakai Tuan. Jika kita tetap melawan mereka, kita tidak akan selamat,” ujar pria yang sedang mengemudi.
Elvan menghela nafasnya, kemudian memastikan seatbelt terpasang dengan benar.
“Lakukan, lakukan yang terbaik,” ujar Elvan.
Mobil semakin cepat termasuk dua mobil yang menghimpit dari kanan dan belakang, sama seperti saat mencelakai Bayu. Dalam posisi yang dirasa aman, mobil pun sengaja menabrak pada pembatas beton tidak jauh dari keramaian.
Ketiga penumpang dalam mobil tersebut dalam kondisi luka-luka. Suasana lokasi langsung ramai, sedangkan mobil yang sejak tadi mengejar memilih menghindar.
Sedangkan di tempat berbeda.
“Abang, kenapa suaranya putus-putus dan aku mendengar suara bising. Abang sedang di mana … abang ….,” ujar Nia lalu panggilan berakhir. “Ini kenapa sih?”
“Kenapa, berantem sama laki lo?” tanya Adam yang sedang ikut membuat buket bersama Kania.
“Nggak tahu, dari tadi suaranya nggak jelas gitu,” sahut Kania.
Ternyata ada pesan suara dari Bayu, belum sempat Kania buka karena Adam mengarahkan untuk meneruskan buket yang sedang pria itu kerjakan. Belum membuka pesan dari Bayu, Kania penasaran dan menghubungi Bayu.
“Kok malah nggak aktif sih,” gumam Kania. Kania beranjak dari duduknya dan ….