Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Deja Vu



Esok hari, saat Aruna bangun dari tidurnya ia tidak menemukan Ben dalam ruangan. Setelah visit dokter dinyatakan ia boleh pulang, Ilham dan Leo mengurus kepulangan Una. 'Om Ben ke mana ya ?' batin Una saat ia membereskan barang yang akan di bawa pulang.


"Ini mau ke mana ?" tanya Una ketika mobil yang dikemudikan Ilham tidak menuju arah tempat tinggal Una.


Menuju sebuah restaurant, Bian sudah menunggu dalam sebuah ruangan. Leo membukakan pintu untuk Una, Bian yang melihat Una masuk lalu berdiri dan mempersilahkan Una duduk.


"Ada apa ya pak ?"


"Tidak ada apa-apa, ada yang perlu saya sampaikan. Karena nona Aruna tinggal di rumah kost putri dan kita tidak bisa berkunjung, maka di sini saja kita bicara."


Una diam, hanya mendengarkan penjelasan dari Bian, termasuk kronogis kejadian sore itu.


Dimulai saat di basement sampai dengan berakhir di rumah sakit, termasuk juga memperlihatkan video saat Una di bekap di basement dan dibawa ke dalam mobil.


"Mohon maaf nona Aruna, kami belum berhasil mendapatkan dalang di balik peristiwa ini. Namun, kemungkinan ini terjadi karena kedekatan nona Aruna dan Pak Ben."


Una menghela nafas, matanya mulai berembun. Ia menunduk dan mengigit bibirnya menahan tangis.


"Pak Bian, hmm. Di mana Pak Ben, saya tidak___" Una tidak melanjutkan kalimatnya.


"Pak Ben sedang ke luar kota, saat ini beliau sibuk mengurus realisasi rencana bisnisnya." Aruna mengangguk mendengar penjelasan Bian.


Bian merogoh saku dibalik jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop, "Ini titipan dari Pak Ben, nona Aruna bisa membacanya nanti saat tiba di rumah. Nona bisa kembali bekerja jika merasa sudah benar-benar siap, jadi saat ini lebih baik istirahat dulu sesuai anjuran dokter."


Ilham mengantarkan Una pulang, saat tiba di depan rumah kostnya Ilham membantu mengeluarkan tas berisi perlengkapan Una saat di rumah sakit. Membawakannya sampai pintu gerbang, penjaga rumah kost tempat Una tinggal membukakan gerbang, "Mbak Aruna sudah sehat, katanya masuk rumah sakit ya ? Kemarin ada temannya ke kamar ambil kebutuhan mbak Aruna."


"Iya pak." Orang yang dimaksud adalah Rahmi yang membawakan perlengkapan yang dibutuhkan Una selama di rumah sakit.


"Ini tasnya biar saya yang bawakan ke kamar mbak Aruna."


"Terima kasih pak."


Saat berada di kamarnya, Una berbaring di ranjang sambil membuka ponselnya. Menghubungi Huda menyampaikan kepulangannya dari rumah sakit juga menanyakan kabar Rena kakak iparnya.


Una juga menghubungi keluarganya di Bandung tanpa mengatakan kejadian yang menimpanya. Terakhir, ia menguhubungi Meisya, Una hanya tertawa mendengar ocehan Meisya yang tidak dikabari saat Una di rumah sakit.


.....


"Jangan bilang loe sakit karena putus sama atasan loe itu ya?"


"Atasan suami loe juga Sya, enggaklah lebay amat sampe sakit gara-gara cinta," sahut Una sambil terkikik.


"Jadi loe beneran putus lagi, aduh Una seneng amat ngejomblo. Katanya pengen jadi emak-emak kece macem gue kenapa putus lagi. Makanya ikutin saran dari gue biar hubungan loe awet kayak gue."


"Saran loe sesat semua. Udah ah, gue tidur dulu. Salam buat Chika dari bunda cantik."


"Ya udah, jaga kesehatan Na. Jangan sungkan kalau butuh tempat cerita atau apapun."


"Iya, bye."


Una duduk di ranjangnya dengan kaki di lipat, memandang amplop yang tadi diberikan padanya oleh Bian. Membuka dan mengeluarkan sehelai kertas dari amplop itu.


..............................................


ARUNA !!


Ini adalah kali kedua aku menulis pesan untukmu, semoga kali ini kamu membacanya.


Maaf, jika selama dekat denganku malah membuatmu tidak nyaman bahkan hampir membuatmu celaka.


..............................................


Aruna merasa seperti deja vu, Ben pernah meninggalkannya di kamar hotel setelah Una tak sadarkan diri karena mabuk lalu hari ini Ben juga meninggalkannya di rumah sakit, hal yang sama dengan pesan yang tertulis. Bedanya, kali ini ia membacanya.


Dada Una sesak, air matanya tiba-tiba menetes, tak kuasa menangan akhirnya ia menangis.


Kebahagiaan dekat dengan Ben yang ia rasakan hanya sekejap, ia sadar awal pertemuannya dengan Ben dan kejadian setelahnya adalah sebuah kesalahan.


"Apa sih Sya, gue nggak mau nanti gue terpesona terus jatuh cinta. Tau sendiri dibolak balik gimana juga hidup gue udah banyak drama, nggak perlu tambah drama si miskin dan si kaya jatuh cinta. Nggak bakal bahagia. Karena cuma di FTV pelayan cafe bisa nikah sama calon direktur, atau cerita dalam novel yang mengisahkan anak yang tidak disayang berjodoh dengan CEO"


Una ingat kalimat-kalimat yang pernah diucapkan terkait drama cinta si miskin dan si kaya, 'Ya, hal itu hanya drama. Sedangkan ini kehidupan nyata, jadi jangan berharap hal yang berlebihan,' batin Una.


Berbaring menatap langit-langit kamarnya, terbayang kilasan-kilasan moment ia bersama Ben. Alih-alih ia harus banyak istirahat, matanya malah tidak bisa terpejam terkadang tiba-tiba ia menangis.


Kurang tidur, banyak menangis membuat penampilan Una esoknya tidak karuan. Matanya bengkak bahkan muncul kantung mata, mukanya pucat karena tidak tidur dan merasakan kepalanya kembali pening. Mencuci muka lalu menyisir rambutnya, Una keluar dari kamar hanya mengenakan training, kaos dan alas kaki.


Berjalan menuju taman tidak jauh dari tempat kostnya. Duduk di salah satu kursi memperhatikan anak-anak yang sedang bermain. Berlarian, naik jungkat jungkit ada juga yang bermain ayunan. Terkadang ia tersenyum melihat interaksi bocah-bocah tersebut.


Ponselnya bergetar, Una merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel yang menampakan pesan diterima pada layarnya.


Meisya : Na, Bira ada di Jakarta, dia ngajak reunian nih.


Aruna : Iya, gue ikut aja.


Meisya : Kapan ?


Aruna : Terserah, diatur aja.


Meisya : Oke, nanti gue kabarin lagi.


Bira, teman Aruna dan Meisya semasa kuliah, bahkan mereka memiliki geng pertemanan yang anggotanya Meisya, Aruna, Bira dan Mario.


Bira setelah lulus kuliah, melanjutkan S2 di luar negri dan ikut meneruskan bisnis keluarganya.


Sedangkan Mario, bertanggung jawab pada bisnis perhotelan yang dimiki keluarganya.


Untuk Meisya, sudah jelas menikah lalu memiliki keluarga kecil dan hidup bahagia.


Tanpa Una sadari ada sepasang mata memperhatikan dan sesekali memfoto dirinya. Foto dan penjelasannya dikirimkan pada orang yang memerintahkannya.


Ben membuka ponsel memperhatikan foto Una yang baru saja ia terima, lalu melakukan panggilan.


"Halo Ben."


"Datang ke alamat yang ku kirim lewat pesan, nanti malam.


"Oke, do you miss me Ben. Kita ketemuan di apartemenmu saja Ben, jangan khawatir aku akan bikin kamu puas.


"In your dream Clara, jangan macem-macam. Datang sesuai alamat ada hal yang harus kita bicarakan.


"Oke, sampai jumpa sayang."


__________


Yuhuuu,, apa kabar pembaca yang ganteng dan cantik? semangat membaca ya. jangan lupa like, komen biar rame,🥰


lanjut silaturahmi \=\=>ig : dtyas_dtyas