
Enjoy reading ⚘
_______________
Kembali ke Alan, pria itu termenung mendengar pernyataan Clara sebelum wanita itu meninggalkan ruangan.
"Aku khawatir Ben mengawasiku, jadi sementara kita jangan bertemu," ujar Clara pada Alan.
Alan memikirkan kembali rencana yang disampaikan Clara, "Ck, aku harus bertemu Aruna. Tapi bagaimana caranya" ujar Alan bermonolog.
"Bira, Bira pasti bisa bantu gue."
Alan menghubungi Bira untuk janji bertemu nanti malam.
.
.
Una duduk bersisian dengan Ben, tidak jauh dihadapannya berdiri Leo dan Firda yang baru saja dikenalkan oleh Ben pada istrinya.
Menatap Leo dan Firda bergantian lalu menoleh pada Ben, "Jadi mereka ini akan mengawalku?"
"Hmm."
Una menoleh kembali pada kedua orang dihadapannya.
"Akan ikut kemana pun aku pergi?"
"Kamu mau pergi kemana ?" tanya Ben.
"Maksud ku, setiap kegiatanku mereka akan ikut serta?"
"Yups," ujar Ben sambil memainkan rambut Una.
"Ke dalam rumah atau toilet pun?"
"Hanya Firda, itu pun kalau kamu sedang di luar rumah."
"Kenapa harus begini Bang?"
"Bucin," celetuk Leo.
Ben berdecak sambil menatap Leo, sedangkan Firda tertawa sambil menutup mulutnya.
"Karena kamu istriku sudah sepantasnya aku jaga." Ben merangkul bahu Una.
"Tapi_."
"Tidak ada tapi, ayo kita pulang."
Malam harinya, bertempat di salah satu club Alan menemui Bira.
"Gimana bisnis bro, lancar?" tanya Alan.
"Yah begitulah, cuma yang gue jalanin ini kan masih bisnis keluarga jadi kalaupun sukses biasa aja. Gue mau bangun juga bisnis sendiri."
Alan memesan minuman, namun karena tujuannya menemui Bira terkait Una dia memastikan untuk tidak mabuk.
"Ra, loe harus bantu gue."
"Bantu apaan?"
"Gue harus ketemu Aruna."
"Mau ngapain? Jangan macem-macem, Una udah bahagia. Gue enggak mau lihat dia kenapa-kenapa."
Alan berdecak, "Loe tau enggak suaminya kayak gimana?"
"Semua orang punya masa lalu. Una juga enggak bego, enggak mungkin dia pilih suami yang brengse*k. Loe aja dari dulu enggak pernah disambut sama dia."
"Bantu gue, ini penting. Ada sesuatu yang harus gue pastikan. Setelah ini bisa jadi gue enggak akan ganggu Una lagi."
"Gue enggak janji."
.
.
"Sayang," ujar Ben sambil membenamkan wajahnya dileher Una saat mereka sudah berada di ranjang siap untuk tidur.
"Hmm," Una mulai memejamkan matanya karena rasa kantuk dan lelah.
"Besok, setelah ke rumah sakit ada rencana kemana?"
"Belum tau, tapi besok weekend masa sibuk terus sih Bang."
Namun Una tidak menjawab hanya dengkuran halus yang terdengar.
"Hmm, sweet dream baby." Ben mengecup kening Una lalu memperbaiki posisi selimutnya.
Ben bersandar pada headboard dan membuka tabletnya melakukan pencarian untuk mendapatkan ide, tidak lama lagi hari kelahiran Una. Ben ingin memberikan kejutan yang bisa membuat istrinya bahagia.
Karena karakternya spesial, berbeda dengan para wanita pada umumnya jadi Ben agak kesulitan. Kalau dulu kekasih atau wanita yang dekat dengan Ben sangat mudah untuk menyenangkan mereka. Cukup berikan hadiah mahal seperti perhiasan, tas branded, pakaian bermerk bisa membuat senyum mereka lebar termasuk membuka paha merek lebar-lebar. Tapi Aruna, hal-hal tersebut bukan ukuran baginya untuk bahagia.
"Paket bulan madu? Tidak mungkin, Una sedang hamil. Berlibur di kapal pesiar,? terlalu lama. Saham perusahaan? Boleh juga. Operasi plastik ? Big No, aku suka kecantikan alami dari wajah istriku. Voucher ke salon 1 minggu sekali selama 1 tahun? Yang ada dia akan berikan ke semua teman-temannya." Ben mengucapkan ide yang ada dalam pencariannya, menoleh pada sang istri.
"Ah, teman. Ide yang ada hubungannya dengan teman-teman. Oke, kita pikirkan lagi besok." Ben mengoceh di sebelah Una yang terlelap.
Keesokan paginya, Una dan Ben sudah berada di meja makan. Ben yang sedang menyesap kopinya dengan tangan kanan memegang cangkir dan tangan kiri sesekali menggeser tabletnya membaca kabar berita hari ini.
Una sedang berbicara dengan asisten rumah tangga yang datang untuk membantu Una. "Enggak usah masak Mbak, hari ini kita mau ke luar."
"Abang, aku ganti baju dulu ya. Nanti langsung cuss, aku udah daftar online kemarin," ucap Una sambil melewati Ben.
"Hmm."
Una dan Ben berada di mobil yang dikemudikan Leo, sedangkan Firda duduk di kursi sebelah Leo. Sepanjang perjalanan Ben dan Una bicara yang sesekali Una tergelak. Bersandar pada bahu Ben dan jemari saling terpaut.
"Abang, dari rumah sakit kita ke rumah Kak Huda ya, aku mau lihat baby, Abang juga belum nengok baby kak Huda kan?"
"Besok, hari ini ada tempat yang harus kita datangi."
"Tempat apa?"
"Hmm, kamu lihat nanti."
"Abang mau kasih kejutan?" tanya Una penasaran.
"Enggak juga, karena bukan sebuah rahasia."
"Lalu?"
"Ya, kita lihat nanti."
Una mencondongkan tubuhnya ke depan, "Bang Le, nanti kita mau ke mana?"
Leo berdecak mendengar panggilan dari Una, sedangkan Firda terkikik.
"Enggak sekalian saya dipanggil kunyit atau jahe."
"Ish, serius. Kalian pasti sudah tau kan kita nanti mau ke mana?"
"Kalau tau pun mana berani saya bocorkan."
"Enggak asyik tau enggak sih."
Ben tersenyum ketika Una menyerah untuk bertanya dan akhirnya menyandarkan kembali punggungnya pada bahu Ben.
"Sabar donk," ujar Ben.
"Penasaran aku tuh." Tanpa diduga Una, Ben meraih tengkuk Una agar menoleh kepadanya lalu Ben memagut bibir ranum Una yang berwana pink. Pagutan lembut dan dalam dengan durasi cukup lama.
Leo hanya menggeleng melihat adegan pengeleman bibir pasangan yang sedang mabuk asmara itu lewat kaca spion mobil.
Una mendorong dada Ben agar melepaskan pagutannya, nafasnya tersengal saat Ben melepaskan bibirnya. Karena malu Una membenamkan wajahnya di dada Ben.
Una dan Ben berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju poli kandungan. Leo dan Firda berjalan mengikuti dari belakang.
Di area yang sama, pasangan lain sedang tidak sepaham menimbulkan perseteruan. Clara dan Alan yang berada di rumah sakit yang sama dengan Aruna. "Aku bilang kamu enggak usah ikut dan kita harus jaga jarak agar Ben tidak curiga" ucap Clara.
"Enggak bisa begitu Ra, kamu hamil anak aku, jadi wajar kalau aku temani kamu periksa kehamilan. Aku juga mau tau gimana kondisinya."
"Enggak begini konsepnya, karena kita punya tujuan lain jadi cukup kamu tunggu info dari aku aja."
"Pokoknya aku akan temani kamu periksa hamil." Alan berjalan mengikuti Clara. "Jangan cepat-cepat Ra, kamu bukan atlit jalan cepat. Ingat perut kamu ada calon manusia dan itu anak aku Ra."
Clara terus berjalan, tidak menghiraukan Alan yang mengikutinya. Bahkan tangan Alan yang ingin menggenggam jemarinya dihempas oleh Clara.
Kedua pasangan ini menuju ruangan yang sama dan dokter yang sama di poli kandungan. Berjalan menuju satu titik, dari arah yang berlawanan.
_________
Bayangin mirip adegan sinetron yak, Una dan Ben berjalan dari arah kiri, Clara dan Alan berjalan dari arah kanan sama-sama mau ke poli kandungan. Musiknya jreng jreng jreng 🤣🤣
Oke readers, silahkan tinggalkan jejak dengan komentar, voting, like, bintang 5 dan favorit
Salam sayang dari author 💕