Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
It's My Dream



"Kita mau ngapain ke sini ?" tanya Una ketika mobil yang dikendarai Ben memasuki pelataran salah satu Mall di Jakarta.


"Belanja, bukannya perempuan senangnya belanja."


Ben menggenggam jemari tangan Una saat berjalan entah menuju toko mana. "Om, aku beli itu ya ?"


Ben menoleh arah yang dimaksud oleh Una. "Jangan, tidak baik untuk kesehatan." Una memasang wajah cemberut karena keinginannya minum es dalam cup yang sedang viral gagal.


"Lain kali, aku enggak mau ke Mall bareng Om."


"Hmm."


Leo mengikuti ke mana pasangan di depannya berjalan. Karena keselamatan Aruna dalam pengawasannya.


Memasuki sebuah toko pakaian khusus wanita, "Pilih pakaian yang lebih longgar dan nyaman di pakai, di sebelah sana juga ada pakaian khusus ibu hamil," titah Ben.


"Loh, jadi ini kita belanja untuk aku?"


"Iya, jangan lagi pakai yang seperti ini," Ben menyentuh celana yang dikenakan Una.


Ben mengikuti Una yang berjalan ke sana ke mari memilih pakaian, "Na, sepertinya kita salah toko."


"Yah, terus gimana dong, harganya kemahalan ya Om. Mana aku udah dapat lumayan banyak masa dikembalikan lagi." Una menunjuk belanjaannya yang belum dibayar.


"Bukan itu, harusnya kita ke butik aja. Tinggal tunjuk model dan sebutkan ukuran. Hari ini cukup itu dulu, nanti kamu kecapekan sayang."


Leo membawa beberapa paper bag berisi belanjaan Una.


"Aruna," panggil Ben saat mereka sudah berada di mobil arah pulang.


"Hmm," jawab Una namun matanya fokus pada ponsel.


"Pulang ke apartemen aku ya ?"


Una menoleh pada Ben, "Oke."


Wajah Ben tersenyum, dengan penuh semangat ia mempercepat laju kendaraan.


"Tapi siap-siap aja kalau nanti Kak Huda menyusul terus dia pukul Om lagi."


"Ck, aku kangen Na."


"Dari pagi kan kita bareng terus Om," jawab Una.


"Kangen yang ini bikin pusing Na."


Una mengernyitkan dahi, "Kangen bikin pusing, maksudnya gimana Om?"


Ben tidak menjawab, hanya fokus pada kemudinya.


***


"Parah loe Na, gue yang nyebar undangan malah loe duluan yang nikah." Abil yang melihat Una datang lalu menghampirinya.


Una terkekeh, "Sorry ya aku duluan, ternyata jodoh aku udah dekat."


"Hm, kayaknya Pak Ben nabung duluan ya?"


"Berisik," ucap Una.


"Serius Na ?"


"Tau ah."


Abil terbahak, "Aruna, diam-diam menghanyutkan."


Una memukul lengan Abil bersamaan dengan Ben yang masuk ke ruangan tempat Una berada.


"Aruna," panggil Ben.


Una dan Abil menoleh pada Ben, "Pagi, pak," sapa Abil.


"Hmm," jawab Ben, "Aruna, ikut ke ruangan saya."


Una mengikuti Ben menuju ruang kerjanya.


"Ada apa Om? Katanya pagi ini ada rapat jadi enggak bisa jemput aku."


"Hari ini jadwal ku padat dan aku butuh mood booster, tapi melihat kamu sama Abil sepertinya aku butuh lebih dari sekedar mood booster."


Ben mendekat pada Una, "Lain kali aku tidak ingin melihat kamu senyam senyum atau menyentuh laki-laki lain meskipun hanya seujung jari. Karena dari ujung rambut sampai ujung kakimu itu milikku."


Una terperanjat dengan apa yang disampaikan Ben, tanpa sadar mulutnya terbuka lebar. Ben tidak membiarkan kesempatan itu, meraih tengkuk Una lalu memagut bibir yang memang sejak tadi ingin ia lum*at. Lidahnya bermain di dalam mulut Una, cukup lama hingga ia melepaskan pagutan tersebut dan Una terengah mengatur nafasnya.


"Kamu dengar apa yang aku katakan tadi ?"


"Om cemburu yaaaa," ujar Una sambil tertawa.


"Aku serius Na."


Una semakin terbahak, "Jangan memancingku," ucap Ben lalu menggiring Una menuju kamar rahasianya.


Melepas sepatu yang ia kenakan lalu merebahkan Una di ranjang dan mengukungnya, "Eh, Om mau ngapain ?"


"Ck, hukuman karena kamu sudah menggodaku."


"Menggoda apaan, aku hffff." Ben melum*at kembali bibir Una, sedikit kasar dari yang sebelumnya. Kemudian turun ke ceruk leher Una dengan tangan mulai masuk ke dalam blouse yang dikenakan Una. Tiba-tiba Una mendorong Ben, "Hooeek," Una bergegas menuju kamar mandi.


"Arghhh." Ben memakai kembali sepatunya lalu menyusul Una.


***


Siang ini, Ben mengajak Una ke salah satu resto yang sudah ia reservasi. Bukan tanpa sebab, tapi Ben akan memperkenalkan Una kepada Ibunya. Tepatnya ibu dari Arabela. Juga di pertemuan itu, Arabela mengatakan akan meminta maaf terkait insiden yang dilakukannya pada Una.


Salah satu pelayan mengantarkan Ben dan Una menuju ruangan, saat pintu dibuka di dalam sudah hadir Arabela dan seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Ibu dari Arabela.


"Maaf, kami terlambat," ucap Ben.


"Tidak apa-apa, kami juga baru tiba," ucap wanita yang duduk di sebelah Arabela. "Ini pasti Aruna," wanita itu berdiri lalu menghampiri Una sambil tersenyum.


"Iya bu, aku Aruna," jawab Una membalas dengan senyuman dan mencium tangan ibu.


"Kamu cantik Nak, wajar Ben sangat menyukaimu. Sekarang dia enggak mau meninggalkan Jakarta terlalu lama, ternyata ini alasannya."


Una menoleh pada Ben, mereka tersenyum. Ben mengelus puncak kepala Una.


Makan siang itu mereka lewati dengan penuh kehangatan, hanya Arabela yang masih kaku berada disituasi tersebut.


"Owh iya, Arabela bukankah kamu ada hal yang ingin disampaikan pada Aruna," ujar Ibu saat mereka menikmati hidangan penutup.


Ben dan Una menatap pada Arabela saat mendengar ucapan Ibu.


"Aku minta maaf atas kejadian kemarin, karena aku merasa tersudut karena kalian keroyokan dan apa yang aku lakukan untuk membela diri."


Una terkejut mendengar penjelasan Arabela, 'Keroyokan ! Membela diri ? Bener-bener konslet nih cewek, jelas-jelas dia yang ngamuk,' batin Una.


"It's oke, yang penting jangan diulangi lagi karena bisa saja merugikan kamu juga."


Ben menghela nafas, sebenarnya ia ingin menghardik Ara, tapi Una menggenggam tangannya di bawah meja seakan mengatakan "Sudahlah."


"Saya permisi ke toilet," ujar Una.


Merasa sedikit mual, Una segera menuju toilet. Khawatir apa yang tadi ia makan akan keluar lagi.


Ketika dirasa sudah lebih baik, Una ingin kembali ke ruangan namun urung karena Arabela masuk ke toilet. Di depan area cuci tangan Arabela mendekati Una.


"Jangan kamu pikir sudah menang ya, tidak semudah itu kamu mendapatkan Kak Ben. Pada akhirnya aku yang akan bahagia bersama Kak Ben."


"Tapi kalian kan bersaudara."


"Tidak, aku tidak ada hubungan darah dengan Ben Chandra."


"Tapi Ben menganggapmu adik, sebaiknya kamu jangan salah paham nanti kamu sendiri yang tersakiti."


"Tidak usah mengguruiku, persiapkan hatimu karena ditinggalkan Kak Ben. Karena bersaing denganmu aku merasa terhina, mungkin kalau aku bersaing dengan Clara aku merasa tertantang karena kami satu level. Tapi dengan kamu, rasanya ingin aku injak kesombonganmu itu."


Una mendengarkan kalimat yang diucapkan Arabela, kepalanya berdenyut nyeri karena ia menahan emosi mendengarkan Arabela.


"Mendapatkan seorang Ben dan menikahinya adalah impianku," pekik Arabela.


_________


hayyyy, siap-siap cuas kondangan


seperti biasa , jangan lupa goyangkan jempolmu. Boleh like, komen, hadiah dll. Apalagi ini senin, yang punya voucher Vote boleh juga. 😉


Seharunya Arabela contek dari drama sebelah ya, "It's my dreams"