
Sejak siang Ben berada di ruang kerjanya, Una membiarkan hal itu baginya yang penting suaminya sekarang ada di rumah. Ditemani Ilham yang sesekali keluar dari ruangan untuk merokok di samping rumah dan masuk lagi ke ruangan dimana Ben berada.
Memasuki minggu ke 36 Hari Perkiraan Lahir bayi kembarnya, tubuh Una semakin berisi apalagi perutnya. Membuat ia susah bergerak, jadi Una akan menghabiskan waktu hanya di tempat favoritenya. Tempat tidur, sofa di kamarnya, sofa di halaman samping dan sofa di ruang tamu.
Saran dokter untuknya agar lebih sering bergerak dengan banyak berjalan atau olahraga ringan ibu hamil, sepertinya diabaikan. Alasannya "Kakiku pegal, perutku sesak, pinggangku nyeri, dan masih ada saja alasan lainnya."
Seperti saat ini, ia sudah bersandar pada head board sambil memandang layar dengan menekan tombol remote TV mencari channel yang menarik. Kakinya ia selonjorkan, tanganya meraih botol air minum di atas nakas. Semakin kesini ia sering merasa haus dan kegerahan. Bahkan saat ini memakai gaun tidur tipis dengan tali spagethi dipundaknya tanpa mengenakan bra.
Lewat jam sepuluh malam, Ben masuk ke kamar. Melihat Una yang masih menatap lekat pada layar dan remote ditangannya, Ben menggelengkan kepalanya pelan. "Ini sudah malam sayang, kenapa kamu belum tidur," ucap Ben sambil berjalan menuju kamar mandi.
Tersengar suara gemericik air mengalir dari shower, tidak lama kemudian Ben keluar menggunakan handuk yang dilipat di pinggangnya. Rambutnya masih meneteskan air karena belum sempurna dikeringkan, berbelok pada walk in kloset. Una kembali memfokuskan pada layar tv nya.
Ben yang sudah mengenakan kaos dan boxer bergabung dengan Una di ranjang. "Aruna, ini sudah jam berapa?"
"Ishh sebentar, lihat deh ganteng banget pemainnya. Wajahnya glowing padahal dia laki-laki," ucap Una memuji pemain drama yang ia tonton.
Ben berdecak, "Aku masih kurang ganteng?" tanya Ben yang ikut bersandar pada head board. Una menoleh ke arah pria disampingnya.
"Kalau kamu gantengnya maksinal, tapi cuma aku yang bisa nikmati, kalau dia," Una menunjuk pada layar TV nya, "gantengnya untuk dilihat banyak orang."
"Ahh, jadi ketinggalan deh. Tadi dia bilang apa tuh," Una menekan remotenya untuk memundurkan videonya.
Sedangkan Ben kini mendekat lalu mengecup pundak Una, menurunkan tali yang berada dipundak Una dan mengekspos salah satu bukit kembar milik istrinya.
Tangan terampil milik Ben langsung meremasnya membuat pemiliknya berdesis, "Abang aku lagi nonton."
Ben meraih remote yang dipegang Una, menekan salah satu tombolnya dan layar TV pun menggelap. "Kamu bisa lanjut lagi besok, tapi kalau ini, tidak bisa ditunda."
"Sayang, pindah sini," pinta Ben pada Una agar duduk dipangkuannya yang masih bersandar pada head board. Setelah Una berada pada posisi nyaman menghadapnya, Ben menurunkan satu lagi tali gaun tidur Una hingga kedua benda menggemaskan itu terekspos.
"Ukurannya wow banget Na," ucap Ben.
"Ya iyalah Bang, kan nanti jadi sumber kehidupan si kembar."
"Sumber kehidupan aku juga Na, sudah candu. Semua yang ada pada dirimu adalah candu untukku," bisik Ben ditelinga Una.
Kini kedua bibir itu pun bertemu, yang tadinya hanya kecupan menjadi pagutan yang begitu lembut dan dalam. Kedua lengan Ben sudah berada dipinggang Una sedangkan Una mengalungkan lengannya pada leher Ben.
Penyatuan bibir itu dilepaskan oleh Ben, Una terlihat mengatur nafasnya dengan posisi dahi mereka saling menempel.
Ben sudah asyik bermain dengan bukti kembar yang bentuknya sudah lebih besar. "Abang," panggil Una.
"Hmm," jawab Ben. Lalu meng_hisap salah satu puncak bukit yang menggoda. Una memejamkan matanya sambil meremas rambut Ben, dessahan keluar dari mulut wanita itu. Ben terus beraksi dengan menyapu menggunakan lidahnya, menghissap serta meremas bergantian kiri dan kanan. Una hanya bisa melenguhh tanpa mengeluh menikmati apa yang Ben lakukan.
Ben melepaskan kaus penutup tubuhnya juga meloloskan penutup tubuh Una, lalu membantu Una berbaring miring tidak lupa menurunkan semua penutup akhir tubuh mereka.
Ikut berbaring dan memeluk Una dari belakang, Ben juga mengecup berkali-kali pundak serta tengkuk Una. Kedua tangannnya kini bermain di salah satu dada dan pusat tubuh Una.
Kini suara-suara eksotis keluar dari mulut Una dan Ben setelah Ben menghujamkan miliknya pada tubuh Una dengan posisi paling aman.
Entah berapa lama Ben menggerakan pinggulnya, maju mundur sampai tubuh Una mengejang. Ben tersenyum lalu bergerak lebih cepat dan iapun sampai pada puncaknya melepas cairan hangat yang memenuhi inti tubuh Una. Ben tidak melanjutkan pergulatannya karena fisik sang istri yang sedang hamil tua. Kalau sebelumnya ia bisa bermain lama hingga berkali-kali, saat ini dia cukup bersabar.
Ben kembali mengecup pundak Una, "Terima kasih sayang, obat rindu aku selama berpisah kemarin," ucap Ben lalu melepaskan tubuhnya. Ben menyelimuti tubuh Una, lalu memakai pakaiannya. Sebelum keluar dari kamar Ben memastikan Una sudah terlelap.
Mengecup dahi Una lalu berkata, "Mimpi indah sayang."
Kembali ke ruang kerjanya, diikuti oleh Ilham dan Leo. "Apa yang bisa kau laporkan!"
"Dean dan Arabela, sepertinya mereka kerjasama tapi saya belum dengar pasti," ujar Leo, "perlu penyelidikan lebih jauh."
"Kerjasama untuk ?" Ben bertanya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Target Dean jelas mengacau perusahaan, berharap haknya bisa lebih. Kalau Arabela kan memang dari dulu tujuannya adalah Ben Chandra," sahut Ilham.
Ben menghela nafasnya, "Keduanya ada di Jakarta."
"Tapi," ucap Leo, "mungkin gue salah tapi menurut mata gue, tatapannya berbeda waktu Dean melihat Nona Una."
Ben menoleh pada Leo, "Maksudnya?"
"Ini sih kesimpulan sementara saya aja, terlihat waktu saya minta Dean pergi dari sini dan saat di restaurant. Tatapannya beda," jelas Leo.
"Awasi pergerakan keduanya, jangan lengah. Beberapa hari ini aku akan sibuk," titah Ben pada Leo dan Ilham.
"Oke, nanti Reza dan tim yang mengintai. Mudah-mudahan pendapat gue salah," ucap Leo.
Di tempat berbeda, Arabela yang sedang termenung di balkon apartemennya. Merutuki apa yang terjadi antara dia dan Dean. "Kenapa juga malah minum bareng Dean, akhirnya malah begini. Mana mau Kak Ben sama aku," ucapnya bermonolog.
Bel pintu terdengar, Arabela yang merasa tidak menunggu siapapun membiarkan. Namun kembali terdengar bahkan disertai gedoran pintu bukan diketuk.
"Siapa sih?"
Arabela membuka pintu dan ternyata Dean berdiri didepan pintu unit miliknya. Enggan bertemu Dean membuat Arabela segera menutup kembali pintu apartemennya namun terlambat karena Dean mendorong hingga Arabela mundur beberapa langkah.
Dean menutup pintu dengan kakinya kemudian menghempaskan Arabela pada sofa dan mengukungnya, "Dengar Bela, yang terjadi bukan karena kehendak kita berdua tapi karena sama-sama tidak sadar. Jadi berhenti menghindariku seakan-akan aku penjahat."
to be continue
Yuhuuuu, Bogor hujan gaes. Semangat aktifitas ya, lusa tanggal merah lagi 😅
_______
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖