
Enjoy Reading ☺
__________
"Aku penasaran bagaimana Kak Una bisa mendapatkan suami seperti Pak Ben."
"Atau Kakak sugar babynya Pak Ben?"
Kalimat yang diucapkan Devi cukup membuat hati Una tidak nyaman. Duduk di sofa menatap layar tv dan memegang remote tapi dengan tatapan kosong.
"Bu," sapa Firda. "Ya," Una menyahut tanpa menoleh.
"Kalau jenuh, saya siap loh temani ibu ke luar," ucap Firda.
"Hmm, mau tapi aku malas. Jalan sebentar aja langsung pegal, sesak jadi maunya rebahan."
Akhirnya Firda dan Una menggantikan jenuh dengan menonton drakor. "Ganteng banget ya Fir, Om Ben aja lewat," ujar Una. "Iya bu, glowing gitu ya wajahnya."
"Glowing mana sama Leo?" tanya Una tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV. "Jelas Leo kalah Bu, tapi kalo Leo kan nyata kalau ini mah halu," jawab Firda.
"Kamu kangen ya sama Leo?" tanya Una namun sekarang ia menoleh ke arah Firda.
"Banget Bu, sama kayak ibu kangen sama Pak Ben," jawab Firda. Una tertawa, "Eh, tadi ibu tanya apa ya?" Firda terlihat panik.
"Tau ah, sudah lewat. Tenang aja Fir, nanti aku sampaikan sama orangnya. Vincenzo Cassano, bagus deh namanya. Aku catat ah, untuk rekomendasi nama bayi aku nanti."
Firda dan Una sesaat melupakan rasa jenuh mereka dengan fokus pada adegan drama yang mereka tonton. Namun itu hanya sementara, Devi yang baru saja datang entah dari mana bersama Dewa dan Fatma.
"Wuih, nyonya besar lagi nyantai nih," ejek Devi.
Una menoleh sekilas lalu kembali menatap layar TV.
"Kak, suami kakak kapan pulang?" tanya Devi. "Belum tau, memang kenapa ?" Una kembali bertanya.
"Ya nanya aja, aku mau tanya lowongan di perusahaannya, bosan aku kerja di sini. Capek gajinya segitu-gitu doang."
Una mengernyitkan dahinya, "Memang kamu pikir kerja di perusahaan Ben enggak capek? Yang namanya kerja pasti capek, bosan bahkan kesal. Gaji itu ya sesuai dengan tugas yang kita kerjakan dan itu sudah ada standarnya termasuk Tuhan juga ada standarnya dia mau kasih rejeki seperti apa pada umatNya," tutur Una.
Devi mencibir mendengar penjelasan Una, "Ya kan aku adik ipar Pak Ben, masa dia enggak bisa kasih aku kerjaan yang lumayan gajinya tapi kerjanya biasa aja."
Una menarik nafas panjang, "Aku aja dulu waktu melamar kerja di sana dengan ijazah sarjana hanya dapat posisi staf. Kamu cuma ijazah SMA mau kerja nyantai tapi gaji besar. Ngaco kamu ya," tutur Una mulai emosi.
"Bu," tegur Firda. "Sabar," ucapnya lagi.
"Sombong banget sih, cuma karena suami kamu pemilik perusahaan terus sombong kayak gini. Makanya aku minta pekerjaan sama suami kamu, siapa tau aku dapat suami yang lebih hebat dari suami kamu. Harusnya kamu tuh khawatir Kak, gimana kalau ternyata di luar sana Suami kamu tuh punya istri lain atau simpanan __"
"Devi, jaga bicaramu," jerit Una.
"Loh, kenapa ini. Una kenapa kamu teriak?" tanya Fatma.
"Halah lebay," jawab Devi. "Dia tuh takut Bu, takut kalau aku nanti lebih hebat dan sukses dari dia. Makanya waktu aku bilang mau kerja di perusahaan kakak Ipar, dia kayak enggak suka gitu Bu," sindir Devi.
Fatma menghampiri Devi, "Dibantu dong Na, masa kamu sama adik sendiri gak bisa bantu," ujar Fatma.
"Aku hanya menyampaikan apa yang aku tau Bu," jawab Una melunak.
"Halah, bilang aja kamu takut tersaingi. Takut kalau aku dapat suami lebih hebat dari suamimu atau takut kalau suamimu malah suka sama aku kan."
Fatma menggelengkan kepalanya, "Ibu tidak menyangka kamu bisa sepicik itu," ujar Fatma pada Una.
"Eh apa-apaan kamu, ibu aku bicara sama anaknya ngapain dihalangi," sela Devi sambil mendorong Firda.
"Devi," teriak Una.
Reza menghampiri Una dan Firda, "Mohon maaf, kami bawa Ibu Aruna ke kamarnya."
"Oh, jadi kalian mau main keroyokan. Boleh, siapa takut," tantang Devi. Lalu kembali mendorong Firda tapi tangannya ditahan oleh Firda dan diputar hingga Devi menjerit kesakitan.
"Lepaskan anak saya," pinta Fatma lalu Firda melepaskannya.
"Aruna, kamu memang tidak tau diri ya beraninya sama orang tua."
Fatma masih mengoceh namun Una naik ke lantai dua ditemani Firda, Reza memastikan keadaan aman lalu menyusul ke lantai dua.
Una memilih istirahat dibandingkan dia merasakan emosi karena sikap Devi dan Bu Fatma. Entah berapa lama ia terlelap hingga sayup-sayup ia mendengar teriakan Ayahnya.
"Aruna," panggil Syamsul. "Maaf, Pak. Ibu Aruna sedang istirahat," ujar Firda.
"Saya mau bertemu anak sendiri macam mau ketemu pejabat, minggir kamu." Syamsul membuka pintu kamar Una.
"Aruna, apa maksud kamu dengan menghina istri kudan adikmu sendiri," teriak Syamsul.
Di tempat berbeda, Ben sedang menemui Ibunya lebih tepat Ibu dari Arabela. Setelah berbasa basi, Ben nenanyakan Arabela pada ibunya. "Ara tinggal di apartementnya, sesekali ia ke sini."
Ben menghubungi Arabela di hadapan Ibunya. "Ada apa? Apa Arabela mengacau lagi?" tanya Ibu. Cukup lama akhirnya Arabela datang, ia langsung memeluk Ben saat mengetahui Ben ternyata ada di rumahnya. "Aku pikir Kak Ben bohong ternyata benar ada di rumah."
Ben hanya tersenyum, "Langsung saja, Arabela saya akan melepas perusahaan jika ada pengganti yang saya percaya untuk mengurus perusahaan. Dan kamu jauh dari kompetensi itu, berhentilah ikut-ikutan dengan Dean mengacau para pemegang saham."
"Aku hanya ingin Kak Ben kembali ke sini," jawab Arabela.
Ben memijat dahinya, "Besok akan dilakukan pemilihan ulang, pastikan kalian hadir," ujar Ben.
"Berhentilah menggangguku, aku masih memiliki bukti-bukti kejahatanmu. Apa kamu ingin bukti tersebut berpindah ke kepolisian?"
"Bukti apa? Kamu melakukan apa Arabela?" tanya Ibu. Ben pamit meninggalkan kedua orang tersebut.
Malam harinya Ben menghubungi Una namun ternyata ponsel Una tidak aktif. Ia lalu menghubungi Firda.
"Ibu tidur sejak sore pak. Bahkan ia melewatkan makan malam."
"Apa kamu sudah pastikan ia benar-benar tidur?"
"Iya pak."
Setelah mengakhiri panggilan telpon dengan Firda, Ilham menyampaikan informasi mengenai perdebatan antara Una dan keluarganya.
"Ternyata menitipkan Una di sana itu salah. Aku pikir mereka sudah berubah," ujar Ben pada Ilham. "Di mana Leo, apa informasi yang ia dapat?"
Lewat dari tengah malam Leo baru saja tiba, "Arabela tadi menemui Dean. Sepertinya ancaman Bos membuatnya panik. Dia mengatakan tidak bisa mendukung Dean," lapor Leo.
Tanpa mereka ketahui Dean memiliki rencana lain, karena tidak menyangka Ben telah mempersiapkan untuk keberhasilannya di pemilihan besok.
_______
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖