Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Ancaman Untuk Arabela



"Jadi, bagaimana idemu, aku tidak paham."


Clara yang duduk dipinggir meja kerja Alan dengan menyilangkan kaki tertawa, "Sabar sayang," ucap Clara. "Perlahan tapi pasti, kita akan dapatkan yang kita inginkan."


"Hmm."


"Tapi aneh, Aruna putus denganmu karena memergoki kita berdua, tapi kenapa kisah kedekatanku dengan Ben sebelumnya tidak membuatnya mundur."


"Mungkin Ben bisa menyakinkan Aruna, jadi sekarang kita pikirkan cara memisahkan mereka berdua. Buat Aruna tidak percaya lagi pada Ben dan buat Ben merasa Aruna memang tidak layak menjadi istrinya."


"Hmm, oke. Kita pikirkan lagi nanti, aku pergi dulu," ucap Clara.


"Clara!"


"Ya."


"Nanti malam, apartemenku."


Clara tersenyum, "Hmm, oke."


***


Ben dan Aruna telah kembali ke Jakarta dan menempati apartement Ben. Aktifitas kehidupan mereka berjalan seperti biasa.


"Om," panggil Una ketika ia membuatkan sarapan untuk Ben.


"Hmm," jawab Ben yang fokus pada tablet di tangannya.


"Aku boleh pakai motor ?"


"Tidak, Leo akan stand by untuk antar kamu. Nanti aku akan cari asisten wanita jadi kamu lebih leluasa."


"Padahal pake motor kan lebih gampang, tinggal wush wush," ucap Una lirih.


"Ck, aku dengar Aruna."


Ben menghabiskan sarapan sambil mendengarkan celotehan istrinya, lebih tepat keluhan karena ia tidak sebebas dulu sebelum menikah dengan Ben.


Ben hanya menanggapi dengan senyum atau mengangguk, karena menurutnya apa yang dilakukan adalah untuk kebaikan Una.


"Jangan lupa ya, sabtu ini pernikahan Abil. Kita kasih kado apa ya Om," ujar Una sambil memakaikan dasi Ben.


"Terserah kamu sayang, pilih beberapa option nanti kita putuskan." Ben mencium kening Una.


"Kalau bosan, pergilah berbelanja atau mengunjungi kakak iparmu." Ben keluar dari unitnya menuju kantor.


"Panggil Ilham dan Bian," ucap Ben pada Nora saat ia tiba di ruang kerjanya.


"Baik pak."


Ilham yang saat ini dijadikan asisten, karena Bian akan fokus pada perusahaan.


"Laporan terkait cabang Surabaya ?" tanya Ben ketika Bian dan Ilham telah berada di ruangannya.


"Sepertinya bisa sesuai jadwal untuk operasionalnya, saat ini sudah rekrutmen SDM," ungkap Bian.


Kau bisa lanjutkan lagi tugasmu," titah Ben pada Bian setelah Bian melaporkan informasi terkait perusahaan.


Setelah Bian meninggalkan ruangan, Ilham menyampaikan informasi terkait Arabela.


Ben memijat dahinya, merasa dilema untuk mengatasi Arabela. Bukti kejahatannya bisa menjebloskan Arabela ke penjara, tapi ia tidak ingin menyakiti perasaan ibunya. 


Hal ini menjadi sebuah rahasia karena Aruna tidak mengetahui bahwa dalang dari kejahatan yang ia alami adalah Arabela. 


"Dia akan datang, aku sudah menghubunginya. Agar mudah mengawasi, biarkan ia bekerja di sini. Carikan juga asisten wanita untuk Aruna, tidak mungkin aku biarkan Leo yang terus mendampingi istriku." 


"Siap bos," sahut Ilham.


Ben baru saja kembali setelah makan siang, Nora mengingatkan bahwa akan ada perwakilan dari Mega Corp untuk membicarakan kerjasama.


Ben menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, Mega Corp adalah perusahaan milik keluarga Clara sudah pasti Clara yang akan datang, tidak mungkin wanita itu mengabaikan kesempatan ini.


Dan benar saja, terdengar pintu diketuk. Lalu masuk seorang wanita dengan tampila extra ordinary yaitu Clara. Suara sepatunya menggema di ruangan Ben.


"Hay, sayang," ucap Clara menghampiri Ben yang berdiri menyambut Clara. Ben berusaha bersikap profesional dengan mempersilahkan Clara duduk.


"Ben, kamu enggak kangen sama aku."


Ben menghela nafas, "Maaf nona Clara, kita disini mau bicarakan bisnis bukan hal lain."


"Ben, dulu kamu selalu bilang kalau aku nikmat saat kita pelepasan," ujar Clara sambil mendekati Ben.


"Tapi aku siap kalau kita mulai bicarakan masa depan."


Ben mengabaikan ucapan Clara, ia memulai pembicaraan mengenai kerjasama antara perusahaan keluarga Clara dan perusahaan milik Ben.


Setelah selesai membicarakan kejasama mereka, Ben berdiri, "Mohon maaf, karena saya masih ada pertemuan dengan pihak lain."


Clara mendekat ke arah Ben, memeluk dan mencium Ben, reflek Ben dengan cepat mendorong Clara.


"Clara, hentikanlah. Aku sudah menikah."


Kedua tangan Clara mengelus bahu Ben, "Aku akan selalu siap jika kau membutuhkanku Ben."


Tiba-tiba pintu dibuka, "Dari tadi aku tunggu sudah curiga, ternyata benar ada ulat bulu yang gatal."


Clara dan Ben menoleh, Arabela yang berjalan mendekat, "Arabela, lain kali biasakan mengetuk pintu."


"Kenapa ? Agar kalian bebas melakukan sesuatu."


"Oke, aku permisi dulu. Ingat pesanku Ben." Clara meninggalkan ruangan.


"Arabela, hati-hati ucapanmu."


"Loh, tidak ada yang salah denganku."


"Kesalahanmu hari ini adalah tidak sopan masuk tanpa persetujuanku juga bicaramu yang kurang ajar, karena tidak ada apa-apa antara aku dan Clara. Kalaupun ada sesuatu itu bukan urusanmu."


Ben menuju kursi kerjanya, duduk dan membaca berkas yang ada di mejanya.


"Lalu untuk apa Kak Ben memintaku kemari?"


"Pulanglah, aku sudah malas membicarakannya."


"Kalau memintaku pulang ke Singapur, sebaiknya simpan energimu karena aku tidak akan melakukannya. Aku akan tetap di Jakarta selama impianku belum aku dapatkan."


Ben melipat kedua tangan di dada dan menatap pada Arabela. "Kalau begitu raih impianmu tanpa menggangguku dan jangan muncul dihadapanku."


'Ya tidak bisa dong Kak, karena impianku adalah mendapatkanmu,' batin Arabela.


Ben menekan interkom dan meminta Nora memanggil Ilham.


Tidak lama Ilham datang, berdiri tidak jauh dari pintu.


"Ilham, antar wanita ini keluar."


"Tidak aku tidak mau pergi, tadi kak Ben yang minta aku kemari."


"Aku sudah tidak mood melanjutkan ide tadi, Ilham kalau perlu kamu seret dia."


"Kak Ben, jangan macam-macam. Kamu tidak ingin apa yang tadi aku lihat bisa sampai ke telinga Aruna kan ?"


Ben menatap Arabela lalu berdiri, Ilham mendekat ke arah mereka.


Tangan kanan Ben memegang rahang Arabela, membuat perempuan itu terkejut dan memukul lengan itu. "Lepas Kak, ini sakit."


"Dengar Arabela, aku tidak ingin mengotori tanganku dengan menyakiti seorang wanita. Tapi untuk kamu sepertinya pengecualian. Aku memiliki semua bukti keterlibatanmu mulai dari penculikan Una, mencampur obat dalam minuman Una juga pelemparan vas bunga. Jadi sewaktu-waktu aku bisa menyerahkan itu ke kantor polisi dan kau bersiap dipenjara."


Arabela tertawa, "Ayolah Kak, mana mungkin Kak Ben akan melakukan hal itu," kata Arabela.


"Kau salah, aku dengan sadar siap melanjutkan hal ini ke arah hukum."


Ben melepaskan cengkramannya, "Pergilah, Ilham urus dia."


"Siap bos."


"Kak Ben, aku akan ikuti apa yang kau mau tapi jangan__"


"Mari nona," ucap Ilham memegang siku Arabela dan membawanya keluar dari ruangan Ben.


"Kak Ben," teriak Arabela


_____________


hai hai hai,, 😊😊😊


gimana gimana, masih setia kan


jangan lupa goyangkan jari untuk like, koment, vote


ikuti terus kelanjutan kisah Ben dan Aruna.