Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Case Closed



"Pak Ben, kita sesama pebisnis, lebih baik kita buat nama kita bersih. Masalah anak saya, saya pastikan dia menyesal atas perbuatannya." Ucapan Ayah Gema membuat emosi Ben semakin tersulut, "Maksud anda saya harus membiarkan dia bebas berkeliaran, kamu seharusnya ...."


Aruna memeluk Ben, membuat pria itu menghentikan teriakannya, "Abang, kita pulang dulu," ujar Una dengan mata sembab. Ben menatap istrinya, Aruna sudah menjadi kelemahan dari seorang Ben Candra.


Sesampai di rumah, Ben menuju ruang kerja di temani Ilham dan pengacaranya.


"Baiknya kita ikuti saran dari keluarga Gema, bukan berarti kita menyerah terhadap kesalahan Gema. Tapi mereka juga akan menuntut Bapak, dan bukti yang ada dapat dipastikan Pak Ben juga bersalah. Kalian berdua sama-sama akan berada dijeruji besi."


Ben menyusul Una, nelihat istrinya duduk di kursi meja rias menunduk dengan tubuh sesekali bergetar karena terisak.Ia sangat tidak bisa melihat istrinya terluka dan menangis.


"Aruna!" Panggilnya.


Aruna menghapus kasar air matanya lalu berdiri dan berlalu hendak menuju kamar mandi namun ditahan oleh Ben dengan memeluknya.


"Aku hanya ingin orang yang menyakitimu mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Ben.


Aruna berbalik, kini tubuhnya berhadapan dengan Ben, "Tapi mereka juga akan menuntut Abang, bukti yang mereka punya saat Abang melakukan kekerasan pada Gema sangat kuat untuk membuat kamu dinyatakan bersalah."


"Tidak masalah, aku sudah tau resikonya akan seperti itu."


"Tapi bagiku itu masalah. Bagaimana hidup aku dan anak-anak kalau sampai Papihnya harus dihukum," ujar Una.


Ben menatap kedua netra Una, yang masih berkaca-kaca. "Aku enggak bisa jauh dari Abang, anak-anak juga begitu. Tak bisakah kita turunkan sedikit ego kita untuk berfikir lebih jauh dan lebih luas. Ini bukan lagi tentang aku, kamu, kita tapi anak-anak."


"Tenanglah, ini urusan aku. Aku akan pikirkan caranya, yang jelas dia harus dihukum," ujar Ben.


Seiring berjalannya waktu, Gema sudah diputuskan bersalah meskipun hukumannya tidak sesuai dengan yang Ben harapkan.


Dengan alasan bisnis dan nama baik, keluarga Gema bermaksud bernego dan mengancam Ben. Namun mereka salah sasaran karena Ben ternyata lebih cerdik, dengan tim yang Ben miliki akhirnya tanpa ia mendapatkan tuntutan balik Gema tetap dinyatakan bersalah.


Ben keluar dari ruang sidang merangkul Una diikuti pengacara, Ilham dan dua orang lainnya. "Maaf Pak Ben, bisa minta waktunya sebentar," Pengacara keluarga Gema menghadang Ben.


"Gema ingin bertemu Ibu Aruna, beliau ingin meminta maaf langsung." Una menoleh pada Ben, "Tidak perlu, nikmati saja hukumannya sebagai penebus dosa." Ben melanjutkan langkahnya.


.


.


.


"Mamih, aku kapan dikasih dede bayi, Bunda Firda aja perutnya sudah gendut katanya bayinya sudah mau keluar," rengek Nessa.


Una hanya tersenyum, lalu mencubit gemas hidung Nessa yang duduk disampingnya. Sedangkan Nevan dan Dewa sedang asyik bermain game sambil sesekali berteriak. Mereka sedang menikmati sabtu sore di taman sisi rumahnya.


Tidak lama Ben datang, mengusap kepala Dewa dan Nevan lalu mencium pipi Nessa. Duduk disisi Una lalu merangkulnya, menatap pada Nessa yang sedang fokus dengan bonekanya dan mengganggu kedua kakaknya.


"Sayang," bisik Ben.


"Hmm."


"Sepertinya sudah lebih hampir dua bulan sejak kamu ke luar dari Rumah sakit ya?"


Una mengerutkan dahi seraya berfikir, "Iya," jawabnya. "Berarti aku sudah bisa dong?"


"Bisa apa?" tanya Una, "Bisa olahraga malam."


"Ya udah nanti malam aja," ucap Una.


Ben berdecak, "Aku berubah pikiran, kita olahraga sore aja, sekalian proses dedek bayinya Nessa." Ben tersenyum simpul sambil menaik turunkan alisnya.


Lalu menggandeng Una untuk mengikutinya, "Papih," panggil Nessa. "Papih mau ke mana?"


Setelah memastikan pintu kamarnya sudah dikunci, Ben menuju kamar mandi karena tidak melihat Una dalam kamarnya. Dan benar saja, Una yang sedang berada di bawah siraman air dari shower terlihat begitu menggoda.


Ben tidak menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. Melepaskan semua penutup tubuhnya dan mandi bersama Una ditambah kegiatan yang membuat suasana kamar mandi menjadi panas karena ulah mereka. Bahkan saat sampai pada pelepasan Ben sengaja menekan lebih dalam hingga Una terpekik. "Biar cepat jadi Ben junior berikutnya," ungkap Ben.


Dua bulan tidak berpetualang di tubuh Una membuat Ben bagai orang kelaparan, bagian-bagian sensitif Una ia telusuri, bermain lebih lama membuat Una mengerang kenikmatan karena sudah ketiga kalinya ia sampai pada puncak kenikmatan.


"Sayang," ucap Ben sambil merapihkan rambut Una yang sedikit berantakan. Sedangkan orangnya sudah lelap karena lelah melayani keinginan suaminya. "Bangun dulu, kamu belum makan malam. Ini sudah lewat waktu makan malam."


"Hmm, aku lelah Bang. Abang aja yang makan duluan," jawab Una.


Sedangkan sore tadi di perusahaan Ben, Ilham yang baru saja menemani Ben bertemu dengan rekan bisnis baru yang mengajukan kerja sama, kembali ke kantor.


"Mau ke mana kamu?" tanya Ilham pada Devi yang sudah bersiap akan pulang. Sudah hampir satu bulan Devi bekerja di kantor milik Ben.


"Mau pulang lah," jawab Devi.


Ilham melipat kedua tangannya di dada, "Yang suruh pulang siapa? Aku masih ada berkas yang harus selesai, jadi kamu tetap di sini."


Devi menghentak-hentakan kakinya kesal pada Ilham, bekerja di bawah Ilham ternyata tidak menyenangkan malah cenderung menyeramkan. Terpesona dengan paras Ilham namun ternyata sikap galak dan tegasnya malah membuat Devi kesal dan mengcancel pujiannya dulu untuk Ilham.


"Cek email," teriak Ilham. Devi mencibir, "Enggak usah teriak aku juga dengar kali." Devi melirik jam tangannya yang menunjukan hampir pukul enam sore.


"Pak Ilham, aku udah bisa pulang belum?"


"Kalau sudah selesai kirim lagi via email," seru Ilham fokus pada monitornya.


"Belum selesai Pak, tapi saya mau pulang. Ini kan malam minggu." Ilham menghentikan fokusnya dan menoleh pada Devi. "Memang kenapa kalau malam minggu?"


"Orang jomblo mana tau sama malam minggu," lirih Devi namun bisa didengar Ilham. "Bukan cuma aku yang jomblo tapi kamu juga."


"Oww, anda salah Pak. Kalau aku jomblo karena belum menjatuhkan pilihan. Kalau situ enggak ada pilihan," ujar Devi lalu terbahak.


Tanpa diduga Ilham lalu menghampiri Devi, merasa terintimidasi karena tatapan tajam dan tubuh Ilham yang semakin mendekat, "Bapak mau ngapain, jangan dekat-dekat Pak. Cuma bercanda kali. Ingat ya pak, laki-laki memukul perempuan itu namanya banci."


"Aku normal, bukan banci. Kamu perlu bukti?"


"Bukti apaan?" Ilham menarik pinggang Devi, kini tubuh mereka tanpa jarak lalu menyambar bibir yang sejak tadi cerewet membuat Ilham geram. Melummat lembut namun membuat Devi terkejut.


"Bereskan mejamu, aku antar pulang," titah Ilham saat melepas pagutannya.


"Itu tadi maksudnya apa ya? Seenaknya Bapak main cium aja."


"DP," jawab Ilham.


"DP? Memangnya kredit barang pakai DP."


"Mau pulang atau aku lanjutin yang tadi," ujar Ilham.


"Hahhhhh!"


bersambung lagi yaaaaa.


follow ig author ya : dtyas_dtyas


atau fb : dtyas auliah


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖