
Una mendengarkan kalimat yang diucapkan Arabela, kepalanya berdenyut nyeri karena ia menahan emosi mendengarkan Arabela.
"Mendapatkan seorang Ben dan menikahinya adalah impianku," pekik Arabela.
"Kamu, kenal Clara ?" tanya Una pada Arabela
"Tentu saja. Aku pikir akan sangat sulit bersaing dengan Clara, Kak Ben dekat dengan Clara hampir empat tahun. Kebayang sama kamu mereka udah ngapain aja kan ?" Arabela tertawa.
Una meremas rok yang ia kenakan dan menahan sesak karena kesal.
"Harga diriku terasa terinjak kalau saingan aku hanya perempuan yang pekerjaannya sebagai staf di perusahaan milik kak Ben."
"Aku tidak yakin, Kak Ben sudah benar-benar melupakan Clara."
Raut wajah Una memucat, kekhawatiran yang sebelumnya telah hilang kini muncul lagi karena perkataan Arabela.
Arabela bersorak dalam hati, karena idenya menggunakan nama Clara cukup berhasil memprovokasi Una.
"Bahkan aku dengar, mantan pacarmu juga selingkuh dengan Clara. Artinya mereka tau mana yang pantas dipamerkan dan ditinggalkan." Arabela meninggalkan Una sambil tertawa.
"Are you okey ?" tanya Ben. Hanya dijawab dengan senyum oleh Una saat ia kembali ke ruangan.
Akhirnya Ben dan Una pamit untuk kembali ke kantor. Selama perjalanan Una terdiam, melihat ada yang tidak biasa pada Una akhirnya Ben menepi dan menghentikan mobilnya.
Melepaskan seat beltnya, menggeser tubuhnya mendekat pada Una.
"Ada apa ? Apa yang mengganggu pikiranmu ?"
"Hm, ini di mana ?" tanya Una, ia baru tersadar dari lamunannya.
"Una ! Aku tidak tau apa yang Arabela sampaikan padamu, yang jelas pernikahan kita akan tetap berlanjut dan aku hanya menginginkanmu. Kamu harus percaya aku Na."
Ben menggenggam jemari Una, "Tapi kenyataannya begitu," ujar Una.
"Begitu bagaimana ?"
"Kita beda Om ? Aku takut tidak bisa mengimbangi kehidupan Om Ben."
"Aku tidak paham apa yang kamu maksud. Yang jelas aku cinta kamu Na dan aku tau kamu pun sama, tidak usah peduli apa kata orang. Pernikahan kita tiga hari lagi, anggap saja ini kerikil yang menghambat perjalanan. Yang jelas kita tidak boleh mundur. Paham ?"
Una mengangguk, Ben meraih kepala Una dan mengecup keningnya.
Sore menjelang malam, saat jam pulang kerja Una berencana mengunjungi Meisya. Seperti biasa ia akan diantar Leo jika Ben tidak bisa menemani.
Una sudah berada di depan unit apartemen Meisya, menekan bel beberapa kali. Tidak lama pintu dibuka oleh Meisya. “Lama banget sih,” ucap Una sambil masuk melewati Meisya.
“Loe enggak bareng laki gue Na?” tanya Meisya.
“Enggaklah. Kalau di kantor, aku dan kak Vino levelnya beda. Chika mana Sya ?” Una yang sedang duduk di sofa menoleh ke sekitar.
“Tadi siang di jemput mertua gue, paling besok baru diantar lagi. Loe hutang cerita sama gue, apaan sih mau nikah enggak ngasih kabar ke gue.”
“Hmm.”
“Jadi bener loe mau menikah ?”
“Iya.”
“Loe enggak pernah cerita apa-apa, tiba-tiba mau menikah. Apa jangan-jangan ?”
“Apaan ?”
Meisya memindai Una dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Na, loe hamil ya?”
“Sya, aku haus. Ambilin minum dong !” pinta Una sambil senyum.
Meisya kembali membawa nampan berisi dua gelas es jeruk, Una mengambil salah satu gelas dan meminumnya hingga menyisakan separuh isi gelas.
“Jawab Na, loe hamil kan ? Kelihatan kok dari badan loe.”
Una menunduk, “Iya Sya. Sampai sekarang aku belum bertemu ayah. Aku malu, takut dan .... “ Una menitikan air mata. “Ayah pasti kecewa sama aku,” ucap Una.
“Terus loe kapan ke Bandung, tiga hari lagi mau menikah tapi sekarang masih kelayapan.”
“Eh iya, Bira tanya kapan kita bisa ngumpul lagi ?”
“Nanti aja ya Sya, kalau aku udah balik ke Jakarta lagi.”
“Iya, gue juga masih nunggu info Mario. Gue kangen kita kumpul bareng.”
***
Una sudah tiba di Bandung, bersama dengan Huda, Rena juga Leo. Selama di Bandung mereka akan menginap di hotel tempat dilangsungkan pernikahan. Ben tidak ingin merepotkan keluarga Una, jadi semua anggota keluarga Una juga diminta menginap di Hotel.
“Ini kuncinya,” Huda memberikan cardlock pada Una.
“Saya antar ke Kamar,” ucap Leo sambil menyeret koper milik Una. Huda sendiri membawa koper miliknya juga menggandeng istrinya. Ternyata kamar milik Huda, Una dan Leo bersebelahan.
“Kamu istirahat, jam empat ada dari EO mau ketemu kamu. Kalau ayah mungkin malam baru ke sini.”
“Iya Kak.”
Setelah cukup beristirahat, akhirnya Una bertemu dengan EO yang mengurus pernikahannya. ‘Mau nikah doang aja pake EO segala,’ batin Una.
“Untuk kebayanya sudah pas ya Mbak.”
Una mengangguk, “Besok jam 9 kita mulai perawatan ya, kurang lebih jam 3 sore sudah selesai. Kalau untuk make up ada permintaan khusus ?” tanya salah satu orang EO yang saat ini berada di kamar Una.
“Aku ikut aja Mbak, sepantasnya aja. Kalian kan lebih berpengalaman,” jawab Una.
“Oke. Kalau gitu kami permisi ya Mbak Una. Selamat beristirahat.” Dua orang wanita dari pihak EO yang menemui Una terkait urusan pakaian dan make up akhirnya keluar dari kamar.
Sesuai dengan yang disampaikan Huda, bahwa Ayah mereka akan datang malam hari. Setelah Una dan yang lain menyelesaikan makan malam, Huda menyampaikan bahwa ayahnya telah sampai di lobby.
“Aku ajak Ayah ke kamarnya, nanti kamu temui beliau di kamar,” titah Huda. Una hanya mengangguk. Kini ia sudah berada di depan pintu kamar ayahnya, memberanikan diri mengetuk pintu tersebut.
Una duduk disebelah Ayahnya di sofa, sedangkan Bu Fatma dan Huda duduk di pinggir ranjang bersebrangan dengan sofa.
Una masih menunduk, "Aruna !" panggil Syamsul.
"Maafkan aku Yah, sudah mengecewakan Ayah dan Ibu," ucap Una sambil menghapus air matanya.
"Kamu tidak salah Na, Ayah yang salah. Tidak bisa menjagamu. Selama ini kamu sudah menanggung semua, seharusnya Ayah bukan kamu."
"Tapi _"
"Sesungguhnya ayah kecewa, kecewa karena tidak pernah ada saat kamu butuh kami. Ayah sudah dengar mengenai kecelakaan, juga penculikan yang kamu alami. Rasanya Ayah ingin marah karena tidak ada yang memberitahu, tapi ya sudahlah yang penting kamu selamat."
Huda menggenggam tangan Ibu Fatma yang sejak tadi terisak.
"Yang penting sekarang kamu jaga baik-baik kehamilanmu, bina rumah tangga yang baik dengan suamimu nanti. Jaga nama baik suamimu karena ia bukan orang sembarangan, kita jauh berbeda."
"Baik Yah."
Una menghampiri Bu Fatma, ia menangis dipangkuan ibu sambungnya.
"Sudah, kamu jangan menangis terus nanti matamu bengkak, jadi tidak cantik lagi," goda Bu Fatma.
Setelah cukup lama berbincang akhirnya Una dan Huda kembali ke kamar masing-masing.
Una menunggu Ben menghubunginya, tanpa terasa ia tertidur, terbangun karena ingin ke kamar mandi. Melihat jam di dinding menunjukan sudah hampir pagi, setelah selesai urusannya di kamar mandi ia mengecek ponselnya.
"Sibuk banget kali, sampai enggak sempat kasih kabar," ucap Una.
Ia mendapati sebuah pesan dengan nomor pengirim tidak dikenal, membukanya yang ternyata berisi video. Memutar kiriman video tersebut, raut wajah Una berubah saat menyaksikan video tersebut.
"Jahaaat, kalian jahaaat," teriak Una, sambil melempar Ponselnya yang entah mendarat di mana.
__________
Hai hai hai, jangan lupa ya, like like like, koment and vote, atau hadiah 🥰