Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Diculik Alan



Enjoy reading 😎


Kedua pasangan ini menuju ruangan yang sama dan dokter yang sama di poli kandungan. Berjalan menuju satu titik, dari arah yang berlawanan.


Una masih dengan wajah ceria memeluk lengan Ben menuju poli kandungan yang jaraknya tinggal beberapa meter.


Di arah berlawanan, Clara dengan raut wajah berbanding terbalik dengan Una. "Oh, shittt," ucap Clara saat ia melihat pasangan yang terlihat sangat bahagia. Ia lalu menarik lengan Alan dan berjalan berbalik menjauh dari tujuan awalnya.


"Loh, mau ke mana Ra? Bukannya ruangannya di sana ya? Petunjuk arahnya ke sana."


"Ish udah jangan bawel," jawab Clara. Clara mengajak Alan bersembunyi di balik tembok yang ia sendiri tidak mengetahui itu ruangan apa.


"Ini ngapain kita di sini?" tanya Alan. Clara menyembulkan kepalanya memastikan pasangan yang ia lihat itu adalah Aruna dan Ben. "Oh my god, kenapa bisa bareng begini sih. Coba kalau kita sampai lebih dulu, bisa ke gap." Clara berdecak lalu berjalan meninggalkan Alan.


Alan yang bingung dengan situasi itu lalu mengejar Clara, "Kamu enggak jadi ke poli __"


"Enggak." Clara terus berjalan. Alan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sambil berjalan mengikuti Clara.


"Ada Aruna dan Ben, jadi lebih baik kita menghindar dari pada gagal rencana."


"Ada Aruna? Di mana?" Alan menengok ke belakang.


Clara kembali menarik lengan Alan dan mempercepat langkahnya menuju mobil.


"Kenapa harus menghindar sih? Aku juga perlu bertemu dengan Aruna."


Clara melirik sinis pada Alan, "Terus kalau enggak menghindar, kita pasrah aja ketemu mereka? Enggak sekalian aja kamu sampaikan rencana kita untuk memisahkan Aruna dan Ben."


Alan fokus mengemudi meninggalkan area rumah sakit, "Itu rencana kamu bukan rencana aku."


"Tapi untuk kepentingan kita."


"Aku enggak yakin akan berhasil."


"Ya udah berhenti di depan, aku mau turun dan kamu bisa balik lagi ke rumah sakit. Cari Aruna, puas-puasin ketemu sama dia."


"Yang bisa memuaskan aku cuma kamu."


"Aduhhh, sakit Ra." Alan mengelus tangannya yang dicubit Clara.


"Apa sih kurangnya aku dibandingkan dengan Aruna, sampai Ben berpaling dan kamu juga tergila-gila dengan Aruna."


"Bukan kurang, tapi memang kalian itu berbeda. Kalau Aruna itu cantik, imut, gumush-gumush gimana gitu. Tapi kalau kamu, uwoww dan ruar biasa."


"Itu sih kesimpulan mesum."


"Yang mesum itu yang enak Ra."


"Tau ah, cepetan nyetirnya aku udah lapar."


Alan fokus pada jalan di depan, "Mau makan apa?"


"Bakso isi keju."


"Hmmm."


Masih bertempat di rumah sakit, Una dan Ben menunggu giliran namanya dipanggil untuk pemeriksaan.


Ketika namanya dipanggil, Una masuk ke ruang pemeriksaan ditemani oleh Ben.


"Ibu Aruna, silahkan berbaring dulu kita USG ya."


Una berbaring dibantu perawat, bawah perutnya dioles gel. Dokter menggerakan alat usg pada perut Una sehingga tampak pada layar dua janin yang tampak sedang bergerak dan mengisi rongga rahim.


Ben yang menggenggam tangan kiri Una takjub melihat darah dagingnya yang sudah membentuk. "Sehat ya, berat dan ukurannya normal. Coba kita cek jenis kelaminnya."


"Jadi yang ini sepertinya perempuan dan yang satu lagi.. sebentar...wow laki-laki ya. Sepasang nih Bu."


Una dan Ben duduk di depan meja dokter, Una memandang hasil USGnya dengan mata berkaca-kaca. Dokter yang menyampaikan saran untuk kebaikan kehamilan kembar didengarkan oleh Ben, bahkan Ben yang banyak bertanya karena Una masih takjub dengan hasil pemeriksaan yang mengatakan jenis kelamin anak-naknya.


"Bulan depan kontrol lagi ya Bu, jaga kesehatannya. Jangan lupa minum vitaminnya ya," ucap Dokter.


Kini mereka telah berada di mobil kembali menyusuri jalan ibukota.


"Ini kita mau ke mana?"


Leo membawa mobil itu memasuki kawasan perumahan, yang menurut Una itu perumahan mewah. Bahkan ketika masuk ke dalam komplek ada portal yang dijaga ketat dengan pemeriksaan identitas.


Mobil itu terus menelusuri komplek melewati rumah-rumah yang terlihat megah sampai akhirnya Leo menghentikan mobilnya dan membunyikan klakson. Tidak lama kemudian gerbang dibuka oleh laki-laki yang menggunakan seragam security.


Una masih dalam mode bingung, siapa yang akan dikunjungi. Mobil di parkir pada carport yang tersedia. Ben mengajak Una turun, mereka disambut seorang laki-laki paruh baya.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya."


Ben hanya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam rumah, laki-laki yang menyambut mereka menjelaskan keadaan rumah.


Saat berada di ruang keluarga, Una duduk pada sofa yang tersedia. Ben yang duduk disebelahnya mulai menjelaskan, "Rumah ini aku beli setahun yang lalu, lebih tepatnya Bian yang urus pembeliannya. Tadinya untuk investasi, tapi sepertinya kita akan pindah kemari. Apa kamu keberatan?"


Una menggelengkan kepala, "Kalau kita pindah ke sini, apartement gimana Bang?"


"Yah seperti yang aku bilang tadi, itu investasi. Ada beberapa unit atas nama aku, lain kali kita cek."


Una hanya mengangguk, "Untuk rumah ini bisa kamu cek-cek dulu, kalau oke aku akan proses untuk balik nama legalitasnya. Ini sebagian sudah ada peralatan, tapi nanti bisa kamu sesuaikan bisa diganti jika tidak suka," ungkap Ben.


Una berkeliling untuk melihat-lihat seluruh keadaan rumah ditemani Firda. Sore harinya mereka pulang kembali ke apartement.


Alan kembali menemui Bira, "Gue enggak berani," ucap Bira mengangkat kedua tangannya. "Aruna sekarang kemana-mana dijaga cuy, enggak berani gue."


"Loe hubungin Una, bilang gue perlu ketemu dia. Kalau gue yang hubungin dia enggak respon."


"Nah itu udah jelas, Una enggak mau diganggu sama loe."


"Ayolah, bantu gue."


"Gini ya, gue enggak bisa menjembatani pertemuan loe sama Una. Mending loe temuin saat Una lagi di luar."


Alan nampak berfikir, sepertinya ide Bira adalah solusi untuknya bertemu Una.


Akhirnya, Alan mengikuti saran Bira. Una yang sedsng berada supermarket sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari di temani Firda. Leo mengikuti tidak jauh dari mereka.


Alan mencari celah untuk menemui Una, namun nihil. Kedua orang yang memang ditugaskan menjaga Una selalu berada di sekeliling Una.


Leo sedang menyalakan mesin mobil, saat Firda memasukan barang belanjaan ke bagasi. "Aduh, aku ke toilet dulu ya," ujar Una.


"Sebentar saya antar," jawab Firda saat ingin menutup bagasi mobil.


"Enggak usah, sebentar aja kok." Una sudah berjalan kembali masuk ke area supermarket.


Leo yang melihat Una menjauh, keluar dari mobil. "Nyonya Bos kemana?"


"Ke toilet."


"Loe enggak antar."


"Katanya enggak usah."


"Tutup pintunya, kita susul aja." Leo lalu menekan kunci mobil dan bergegas mengejar Una dikuti Firda.


Una keluar dari toilet, semenjak perutnya semakin besar keinginan ke toilet semakin sering. Tanpa diduga olehnya seseorang menarik sikunya, karena terkejut Una reflek memukul orang tersebut.


"Una, ini aku Alan."


Una mendongakan wajahnya, menatap Alan.


"Lepaskan aku Kak," ucap Una.


"Kita perlu bicara Na." Alan memaksa Una ikut dengannya tanpa melepaskan tangan Una.


Una menoleh sekitar, dalam hatinya ia menyesal karena menolak tawaran Firda yang ingin mengantarkannya.


"Kak, aku harus ijin dulu kak."


Alan tidak menggubris ucapan Una, ia membawa Una menuju mobilnya dan mengemudi menuju ke suatu tempat.


______


Haiiiiii, jangan lupa jejak cinta dengan like, komengar, bintang 5, favorite dan vote ya. Salam sayang dari Author 💕