
"Kejadian hari ini, adalah ulah Gema.”
Jantung Una berdetak lebih kencang, dia khawatir jika Ben akan marah dan berbuat nekat lagi.
“Walaupun CCTV dirusak, tapi CCTV yang ada dimobil sekitar menayangkan bahwa itu memang anak buah Gema. Bahkan sampai kamu dibawa mereka pun, kamu tidak bercerita. Aku butuh penjelasan,” ucap Ben lalu duduk kembali di sofa.
Saat kejadian siang tadi, Ilham mengampaikan kondisi sabotase mobil yang dialami Reza pada Ben dan segera mengutus dua orang untuk mengurusnya.
Kondisi mobil yang mencurigakan membuat rekan Reza segera mencari Una mendapati Una bertemu dengan Gema serta dibawa ke mobilnya.
Mereka siap menyerbu mobil Gema namun terlihat Gema melepaskan Una dan Una segera mencari Reza untuk pulang.
"Abang," ucap Una lirih. "Abang enggak akan macam-macam ke Gema kan?"
Ben mengernyitkan dahinya, "Kamu mengkhawatirkan aku atau Gema?"
"Ya jelas aku mengkhawatirkan suami akulah, ngapain aku perduli itu orang mau gimana. Karena aku tau Abang pasti nekat, aku takut abang kasih pelajaran ke Gema tapi nanti malah kena masalah hukum. Itu yang aku takutkan."
Ben menatap Una, "Apa yang Gema perbuat di dalam mobil?"
"Ia minta maaf, menyesal karena kita kehilangan calon anak kita. Karena permohonan maaf sebelumnya lewat pengacara Abang tolak."
"Apa yang dia pegang?"
Una memejamkan matanya sekilas lalu menghela nafas, "Pinggang, karena aku berontak dan menendang perutnya."
Ben berdiri, "Istirahatlah!" Lalu berjalan menuju pintu kamar. Una refleks langsung mengejar Ben dan memeluknya dari belakang sebelum Ben membuka pintu. Melingkarkan tangannya pada pinggang Ben, jika bukan dalam kondisi emosi Ben pasti sudah membawa Una ke ranjang dan menikmatinya.
"Abang mau ke mana? Kalian tidak merencanakan hal yang beresiko bukan?"
"Tergantung," jawab Ben.
"Abangggg," ujar Una. Ben melepaskan tangan Una dan berbalik. Mereka kini berhadapan, "Jadi, aku harus diam saja saat tau istriku kembali diganggu."
Una mengalungkan tangannya pada leher kokoh Ben, "Aku sayang abang dan tidak ingin terjadi apapun pada Abang. Aku sehat tidak ada luka apapun dan Gema hanya ingin minta maaf."
Una berjinjit untuk mengecup bibir Ben, namun Ben malah menahan tengkuknya dan melummat bibir Una kasar dan sedikit liar. Nafas Una tersengal saat Ben melepaskan pagutannya.
"Orang itu tetap harus diberi pelajaran, kamu tenang saja sayang. Aku akan lakukan dengan caraku, jika diam ia akan semakin menindas."
"Tapi ..."
"Aruna!!"
.
.
.
Una merasa bosan dan jenuh, beberapa hari ini dia mudah lelah dan mengantuk. Akhirnya ia putuskan ikut Leo menjemput anak-anak.
"Tumben mau ikut ke sekolah, biasanya enggak mau karena malas ketemu Clara," ledek Leo.
"Tau ahh, jenuh di rumah."
"Owh iya, kalian lakukan apa sama Gema? Aku takut abang kena masalah. Lagian itu orang enggak ada kapok-kapoknya ganggu rumah tangga orang."
Leo tidak menjawab hanya fokus pada kemudi.
"Ishhh, bos sama karyawan pada pintar jaga rahasia," ujar Una.
"Tenang aja, aman terkendali. Kita tidak gegabah kok. Jeruji besi tidak membuat dia jera jadi kita lakukan hal lain."
Una keluar dari mobil karena sudah berada pada parkiran sekolah si kembar dan yang dikhawatirkan pun terjadi.
"Hai Aruna," panggil Clara dengan gaya yang tidak berubah, extra ordinary.
"Hai," lirih Una.
"Hmm, kenapa lemes amat sih. Muka kamu juga pucat tau."
Una tersenyum, "Masa sih, ini belum keluar ya anak-anak?"
Clara melihat pada jam tangannya, "Sebentar lagi."
Aura Ben benar-benar turun pada Nevan. Kemudian menyusul Nessa yang berjalan santai sambil berpegangan tangan dengan Arka kedua bocah itu tertawa-tawa entah karena hal apa.
Una hanya menggelenggakan kepalanya melihat kelakuan Nessa, "So Sweet banget ya mereka," ucap Clara.
"Mamiiiih," panggil Nessa.
Sebelum berpisah dengan Arka, Nessa melambaikan tangannya pada putra Clara dan Alan.
"Kita langsung pulang Mih?" tanya Nevan.
"Gimana kalau kita temui papih, untuk ajak makan siang," ucap Una sambil menggandeng kedua anaknya kiri dan kanan.
"Aku mau," ucap Nessa. "Aku juga," ujar Nevan.
Saat berada di lobi mereka bertemu Abil, "Eh ada fotocopynya Ben Candra," ujar Abil. "Gemesh amat sih," Abil mencubit hidung Nessa. "Kalau sudah besar jangan ke mana-mana ya, jadi menantu Om Abil aja."
"Telat, Bil. Nessa udah minta menikah sama anaknya Clara dan Alan," canda Una.
"Yaelah Na, masa lo besanan sama mantan. Masih mending sama gue kali," ejek Abil.
"Tau ahhhh."
Nevan dan Nessa melepaskan pegangan tangan Una ketika mereka keluar dari lift. Meja Nia yang berada di luar ruangan Ben terlihat kosong, Nevan meraih handle pintu, menekannya dan mendorong pintu ruang kerja Ben.
"Papiihhhh," teriak Nessa berlari menghampiri Ben di meja kerjanya. Nia yang berada di sebelah Ben dengan sedikit menunduk mendengarkan arahan Ben mengenai berkas dihadapannya. "Hai princess Papih," mengangkat Nessa pada pangkuannya membuat Nia bergeser. "Hai, my prince," sapanya pada Nevan.
"Nia, kita lanjutkan nanti."
Nia berjalan melewati Una, bahu mereka beradu, sepertinya Nia sengaja melakukan itu. Una menoleh pada Nia, tangannya terulur ingin menjambak rambut wanita itu namun diurungkan.
Ben menghampiri Una sambil menggendong Nessa, lalu mencium kening istri tercintanya. "Abang sudah makan belum?" tanya Una.
"Belum sayang, kalian mau makan apa?" tanya Ben pada si kembar. "Aku mau jus semangka Mih," ujar Nessa. "Itu minum bukan makan," sahut Nevan.
Ben masih menggendong Nessa dan menggandeng Nevan saat berjalan melewati Nia. Sedangkan Una berjalan di belakang Ben, Nia melihat sinis pada Una.
"Sok cantik kamu," ujar Una.
"Memang cantiklah, enggak kayak kamu. Muka pucat begitu enggak ada menariknya. Kampungan, kok Pak Ben mau menikah sama kamu," ledek Nia.
"Mulut kamu murahan banget, sepertinya sama seperti kamu yang murahan," sahut Una.
Ben yang sudah akan masuk ke lift menyadari Una tidak mengikutinya menoleh ke belakang.
"Aruna," panggil Ben.
Una yang kesal dengan ejekan Nia mengambil gelas yang ada di meja Nia dan menyiramkan isinya pada wajah Nia.
Ben menurunkan Nessa lalu menghampiri Una dan Nia. "Ada apa ini?"
"Dia siram wajah saya Pak," ujar Nia. Ben menoleh pada Una yang berjalan menjauh. "Aku mau pulang," lalu menggandeng Nessa dan Nevan.
"Aruna," ucap Ben sambil mengejar istri dan anak-anaknya. "Kenapa?" tanya Ben saat mereka berada di lift.
"Abang kenal aku, enggak mungkin aku seperti tadi kalau ia tidak mulai duluan." Ben menghela nafas lalu mengelus punggung Una.
"Aku mau pulang, tidak akan ganggu kerja Abang."
"Hey, jangan begitu, anak-anak nanti kecewa.
Una terdiam, "Tapi aku sudah tidak berselera untuk makan, kepala aku pusing," jawab Una.
"Kita ke ....Aruna," ucap Ben sambil merengkuh Una yang tiba-tiba semaput.
follow ig author ya : dtyas_dtyas
atau fb : dtyas auliah
_______________
Bubar dulu bubar,,, tidur udah malemmm
jangan lupa jejakkksss, untuk yg baca maraton thanks yaa. Yang masih setia lope lope banget buat kalian