Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Tidak ingin minta maaf



"Keluarga Nona Aruna!" panggil dokter yang baru saja keluar dari IGD.


"Saya dok." Huda menghampiri dokter


"Mari ikut saya."


"Luka sobek di dahinya sudah dijahit, jika nanti dia sudah bangun dan ada keluhan di kepalanya perlu kita observasi lebih lanjut. Saat ini yang mengkhawatirkan adalah kondisi kehamilannya."


"Apa dok, hamil ?"


"Betul, berdasarkan catatan kesehatannya usia kandungannya sudah lebih dari 11 minggu, tekanan darahnya rendah juga kekurangan nutrisi mungkin karena mual muntah jadi asupan makannya kurang. Saya sarankan sementara dirawat, nanti akan di awasi oleh dokter kandungan juga memastikan benturan di dahinya tidak berakibat fatal."


Huda hanya termenung mendengarkan penjelasan dokter, dia terkejut mendengar bahwa Una saat ini sedang hamil.


"Bapak silahkan ke bagian administrasi untuk mengurus rawat inap pasien," pinta salah satu perawat pada Huda.


"Baik sus."


Huda menemui Leo dan Vanya, "Una akan di rawat, Mbak Vanya baiknya kembali ke kantor.


Duduk di sofa memandang Una yang masih terlelap di hospital bed. Ia masih bingung harus menghubungi siapa terkait Una yang masih terbaring. Mengabarkan istrinya tidak mungkin, karena Rena juga sedang mengandung bahkan perutnya sudah membola. Mengabarkan Ayah Syamsul pun bukan solusi karena mereka di Bandung hanya akan membuat panik dan tidak tega jika membiarkan orangtua mereka ke Jakarta.


Tidak lama kemudian, pintu dibuka membuyarkan lamunan Huda. Ben masuk berjalan dengan tergesa menatap Una yang masih tergolek lemah.


"Apa kata dokter ?" tanya Ben pada Huda.


"Kita bicara di luar." Huda ke luar kamar rawat Una di ikuti Ben. Posisi kedua pria itu kini berhadapan, Huda menunduk menggaruk dagunya terlihat seperti yang ragu akan mengatakan sesuatu.


Namun tanpa diduga, buggghhh. Huda melayangkan kepalannya pada wajah Ben. Ben yang mendapatkan serangan mendadak dan tidak siap akhirnya tersungkur. Leo yang masih berada di sana pun terkejut dengan gerakan tiba-tiba Huda.


Ben kembali berhadapan dengan Huda, ujung bibirnya sedikit luka dan mengeluarkan darah. Leo yang masih berada di sana bersiap menengahi jika Huda akan kembali memukul Ben.


"Bagaimana kondisi Una ? Lakukan visum aku tidak perduli jika Ara harus dilaporkan, selama Una yang menginginkannya."


Huda mencengkram kerah kemeja Ben, "Bukan itu masalahnya, adikku terbaring lemah karena tekanan darah yang sangat rendah juga kurangnya asupan nutrisi. Kau tau karena apa ? Karena dia sedang hamil !!" tutur Huda.


Posisi ketiga pria yang berada di depan ruang rawat yang tampak sedang berseteru membuat pengunjung rumah sakit yang berada di sekitar itu menoleh ke arah mereka.


"Ha_mil," ucap Ben terbata.


Huda masih mencengkram erah kerah kemeja Ben.


"Bang, sebaiknya lepaskan dulu. Dibicarakan baik-baik, tidak enak dilihat orang. Daripada nanti kita diusir karena membuat keributan," cetus Leo.


Huda melepaskan Ben, raut wajah Ben berubah. Terbayang wajah pucat serta ucapan dan tingkah laku Una belakangan ini yang menurut Ben mengesalkan.


Ben mengusap wajahnya, dan menghembuskan nafas kasar. "Aku harus bertemu Una."


"Kenapa ? Apa kau meragukan Una atau ingin mengelak dari tanggung jawab."


"Kau pikir aku tidak mau bertanggung jawab, anak yang dikandung Una adalah anakku. Kau tidak tau bagaimana aku berusaha menemukan Una beberapa tahun yang lalu dan bagaimana aku membujuknya agar mempertemukanku dengan orangtua kalian."


Penjelasan Ben membuat Huda sedikit lega. Tinggal ia memikirkan bagaimana menyampaikan hal ini pada ayahnya.


Ben duduk di samping ranjang Una, mengelus perut Una yang masih rata dan mencium punggung tangan wanita yang akan menjadi Ibu dari anaknya.


"Hmm," Una bergumam. Matanya mengerjap perlahan menyesuaikan dengan cahaya sekitar.


Ben tersenyum, "Hello, my queen." Ben berdiri dan mencium kening Una. "Masih pusing ?"


Una menggeleng, "Om, tadi __"


"Sttt, aku panggil dokter dulu."


Dokter menyatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan luka di dahi Una.


"Aku enggak suka makanannya. Lihat aja bentuknya enggak menarik bikin hilang selera makan aku," rengek Una saat Ben akan menyuapkan bubur.


"Kamu mau makan apa ?"


"Nasi padang."


Setelah kamu diperbolehkan pulang, kita makan nasi padang.


"Aku maunya sekarang."


Ben menghela nafas, "Una, kamu sedang sakit jadi kita makan apa yang direkomendasikan dokter."


Perdebatan mereka terhenti saat ponsel Ben berdering, mereka menoleh pada layar ponsel yang menampilkan nama pemanggil di ujung sana.


"Kok enggak di jawab?"


"Makan ya," jawab Ben menyodorkan suapan ke depan mulut Una.


"Tapi jawab telponnya."


"Iya."


Una duduk di pinggir ranjang, mengusap rahang pria yang sedang menatapnya. "Om, jangan khawatir. Aku enggak akan memperpanjang soal Ara. Walaupun dia salah tapi aku sudah maafkan."


"Aruna, kamu pikir aku terbebani dengan hal itu ?"


Una mengangguk.


"Bukan itu yang aku pikirkan. Kamu tidak mau menyampaikan sesuatu padaku ?"


Una mengedikan bahu, "Apa ?"


"Ini," Ben meletakkan tangannya di perut Una.


Una terkejut, raut wajahnya berubah khawatir, "Om, sudah tau?" tanya Una.


"Hm, sampai kapan kamu mau sembunyikan ?"


Una hanya menunduk tanpa menjawab. Ben menggenggam erat jemari Una. "Kamu tidak perlu khawatir, kehamilanmu semakin membuka peluang untuk aku memilikimu seutuhnya."


Una mengangkat wajahnya menatap pada Ben, "Om benar-benar mau menikahi aku ?"


"Iya."


"Om serius?"


"Iya."


"Tapi keluargaku bukan__"


"Itu bukan persoalan."


Ben merentangkan kedua tangannya, Una memeluk Ben dengan posisi ia duduk dan Ben berdiri.


Una melepaskan pelukannya, "Bagaimana dengan kak Huda ? Ayah belum tau Om, aku takut."


"Huda sudah tau, kau pikir ini karya siapa ?" Ben menunjuk pada lebam di pipinya.


"Kak Huda, memukul Om Ben ?"


"Iya, sepertinya dia khawatir aku tidak akan mengakui anak kita."


Una menggelengkan kepala, "Anak-anak kita," ucap Una sambil tersenyum.


Raut wajah Ben berubah, "Maksudnya?"


Una mengacungkan dua jari seperti tanda peace.


"Dua? Kembar ? Anak kita kembar ?"


Una kembali tersenyum dan mengangguk. Ben kembali meraih Una dalam peluknya. Mengecup puncak kepala Una berkali-kali.


***


Dokter sudah memperbolehkan Una pulang setelah dua hari di rawat, itupun dengan segala macam masukan mana yang boleh dilakukan dan tidak, juga apa saja yang boleh dikonsumsi dan tidak baik untuk tubuhnya saat ini.


"Kenapa aku pulang ke rumah Kak Huda?" tanya Una pada Huda.


"Sampai kamu menikah dengan Ben, akan tinggal di rumahku. Agar mudah mengawasi dua wanita hamil."


Huda yang akan membawa Una pulang diantar Leo, Ben sedang menjemput ibunya di bandara. Esok hari Ben akan bertolak ke Bandung untuk menemui orangtua Una sekaligus melamar dan merencanakan pernikahannya.


Ben, Arabela beserta Ibunya berada di salah satu apartement milik Ben yang akan ditempati sang Ibu selama berada di Jakarta.


Kini ketiga orang tersebut berada di ruang keluarga duduk pada sofa yang ada.


"Aku tidak mengerti jauh-jauh kamu kuliah ketika pulang ke Jakarta kalap seperti orang gila."


Arabela hanya menunduk dengan wajah datar tanpa rasa bersalah.


"Besok kamu temui Aruna dan keluarganya, sampaikan permintaan maaf dan penyesalanmu," ujar Ben.


"Aku hanya bantu kakak, dia enggak pantas dampingi kakak."


"Pantas atau tidak itu urusanku."


"Ara, dengar apa kata Ben, ibu tidak ingin kalian bertengkar. Segera temui Aruna untuk minta maaf, Ben akan menikahinya. Tidak baik jika kalian masih berseteru."


"Tidak, aku tidak akan minta maaf. Lihat saja, suatu saat kak Ben akan menyadari bahwa yang aku sampaikan itu benar."


"Arabela!!


______


Haiiiii, seperti biasa ya, hadiahnya 🤭, like koment vote juga boleh


Selamat bermalam minggu bagi yang merayakan 🤣🤣