
~ Selamat Membaca ~
Clara masih berada di apartemen Alan, faktor hormon kehamilan membuatnya ingin selalu dekat dengan Alan. Pagi ini saat masih bergelung dengan selimut, padahal Alan sudah siap berangkat ke kantor, Clara menerima panggilan telpon yang mengatakan bahwa Ben ingin bertemu dengannya.
"Alannn," teriak Clara dari dalam kamar. Alan yang sedang duduk di sofa melihat jadwalnya hari ini hanya menoleh ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka saat mendengar teriakan Clara.
Wanita itu akhirnya keluar dari kamar, masih menggunakan piyama dengan rambut acak-acakan.
"Aku kan panggil kamu, kenapa diam aja," ujar Clara langsung duduk di samping Alan.
Masih fokus pada ponselnya, "Kamu teriak bukan manggil," jawab Alan lalu melirik pada Clara, "Kamu enggak ada rencana balik ke perusahaan."
"Enggak, aku sudah hubungi papih. Gimana bisa kerja bentar-bentar pusing, ngantuk, mual. Gara-gara kamu nih."
Alan mengernyitkan dahi, "Kok aku?"
"Iya karena hamil anak kamu," ujar Clara sambil memukul lengan Alan. "Owh iya, Ben ngajak aku ketemu hari ini?"
Alan memutar tubuhnya menghadap Clara, "Untuk apa?"
"Mana aku tahu?"
"Kapan?" Alan bertanya kembali. "Siang ini," sahut Clara. Alan menghela nafas.
"Kenapa ? Kamu tidak suka aku ketemu Ben."
"It's oke for business, tapi tidak selain itu."
"Loh, kenapa tidak boleh. Ini hidup aku, aku bebas bertemu siapapun."
"Kamu masih ingin bersama Ben?" tanya Alan namun Clara hanya diam tanpa menjawab.
"Clara," ucap Alan sambil memegang kedua bahu Clara. "Aku tidak ingin menjadi satu diantara dua pilihan. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya pilihan."
"Tapi aku mencintai Ben."
Alan melangkah menuju pintu untuk berangkat ke kantor dan meninggalkan Clara, muak dengan ucapan cinta Clara untuk Ben. Namun sebelum ia membuka pintu, Alan menoleh pada Clara yang sedang menatapnya, "Kamu yakin itu cinta, kalau kamu benar-benar cinta dengan Ben mana mungkin kamu mau menghabiskan waktu denganku dan ingat, kamu mengandung anak ku Ra."
Ben mengagendakan pertemuan dengan Clara di ruang kerjanya, untuk mengantisipasi rencana jahat Clara meskipun tidak yakin karena kini Clara terlihat dekat kembali dengan Alan.
"Clara sudah ada di lobby," ujar Ilham pada Ben. "Sudah kau persiapkan semuanya?" tanya Ben.
"Sudah Pak."
Tidak lama kemudian pintu ruangan di ketuk dan masuklah Clara. Ben yang memang disibukkan dengan berkas di mejanya tidak mengalihkan pandangannya.
"Hay, Ben. Aku tidak menyangka kamu hubungi aku untuk bertemu." Clara menghampiri Ben, "Duduklah!" perintah Ben menghindari Clara memeluknya.
Clara duduk disofa dengan menyilangkan kaki membuat dress yang ia pakai tersingkap menampakkan paha mulusnya.
Ben berjalan dan duduk di sofa, "Jadi, ada apa kamu memanggilku," ucap Clara.
"Ada yang ingin kamu sampaikam terkait kejadian di Surabaya?" tanya Ben. Clara diam lalu menggelengkan kepala.
"Kamu yakin?"
"Ben, ada apa denganmu? Kita berdua tau bahwa kita mabuk dan terjadilah hal itu. Kenapa harus bertanya lagi."
"Aku rasa tidak begitu," ucap Ben. "Tidak begitu bagaimana, bahkan saat ini aku sedang hamil," sahut Clara.
Ben tertawa mendengar apa yang dikatakan Clara. "Hamil?"
"Iya, apa kamu tidak ingin bertanggung jawab terhadap apa yang telah kamu lakukan."
"Kenapa harus aku?" tanya Ben. "Kamu tidur bahkan tinggal dengan laki-laki lain sampai hamil dan kamu ingin aku tanggung jawab."
"Apa maksudmu Ben, kita berdua tau waktu di Surabaya__"
"Ben, kamu membentakku."
"Aku bahkan bisa memukulmu jika perlu karena kamu sudah mengganggu kebahagianku dan Aruna." Ben sudah emosi terlihat dari apa yang diucapkan dan nada bicaranya.
"Kau meminta orang merusak cctv dan menghapus rekaman dilantai kamar tempat aku menginap, bahkan kamu juga membayar seseorang agar bisa membuka pintu kamarku. Belum lagi kamu menambahkan obat pada minumanku."
Clara merasa tercekat, dia tidak menyangka Ben bisa mengetahui semua perbuatannya. "Ben, mengapa kamu tega menuduhku. Aku tidak__"
Brakk, terdengar pintu didorong kalu ditendang hingga terbuka lebar.
"Papih," pekik Clara.
"Dasar anak nakal, buat malu keluarga saja." Seorang pria paruh baya dengan suit kerja seperti Ben mendekati Clara.
"Sejak kapan papih ada di Jakarta?"
"Bahkan kamu tidak tau agendaku, sibuk apa kamu Clara. Bahkan bisnis papih tidak kau urus malah sibuk mengejar pria beristri. Apa kamu tidak punya harga diri."
"Papih tidak tau, aku dan Ben itu sudah_" pria itu menarik tangan Clara. "Ikut aku, tunjukan mana pria yang sudah menghamilimu sampai kamu malah mencari pria lain untuk tanggung jawab."
"Papih stop," ujar Clara sambil terus berjalan karena tangannya masih di tarik oleh Adam Zudith ayah dari Clara.
Ben tersenyum, ternyata rencananya berhasil. Saat semalam ia mendengar bahwa Paman Adam yang memang masih rekan bisnis mendiang Ayah Ben berada di Jakarta, ia meminta Ilham mengatur pertemuannya dengan Clara dan Adam.
Adam yang berada di ruangan lain namun bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Clara dan Ben karena ada alat yang dipasang oleh Ilham.
"Satu masalah beres," ujar Ben. Setelah ini Ben sudah mengundang beberapa teman Aruna. Ia sedang merencanakan sesuatu untuk istri tercintanya.
Sore hari, Clara tiba di apartement Alan. Wanita itu kesal karena sejak tadi siang ponsel Alan tidak dapat dihubungi dan tidak ada pula di apartemennya.
"Kemana sih? Bisa ngamuk papih kalau aku tidak bisa membawa Alan kehadapannya." Ditunggu sampai malam, Alan tidak jua datang. Bahkan Clara sampai tertidur karena menunggu Alan.
Ternyata malam itu Alan pulang ke rumah orangtuanya. "Ingat pulang kamu?"
"Please Bun," Alan yang datang dengan baju sudah sedikit kusut dan rambut acak-acakan duduk di salah satu kursi meja makan bergabug dengan ayah dan bundanya.
Ayah Alan melirik sambil menikmati makan malamnya. "Saham perusahaan turun akibat ulahmu tidak pernah kamu seberantakan ini. Masalah apa lagi sekarang?"
"Aku sebentar lagi akan menjadi ayah."
Kedua orangtua Alan saling menoleh lalu menatap anaknya yang sedang menunduk.
"Apa maksudmu Alan?" tanya sang Ayah.
"Ayah, wanita itu hamil. Hamil anakku, tapi..."
"Jangan bilang kamu tidak ingin tanggung jawab, aku tidak pernah mengajarkan kamu jadi laki-laki brengsk," ucap Ayah Alan.
"Aku ingin menikahinya Yah," jawab Alan. Bunda Alan menghela nafas, "Lalu apa yang kamu tunggu?"
"Bawa wanita itu bertemu dengan kami besok, lalu aku akan temui orangtuanya untuk melamar," ujar Ayah Alan.
"Serius Yah?" Alan bertanya dengan antuaias. "Apa kamu pikir ayahmu ini berbohong. Dasar anak manja, aku pikir kamu sudah gentle berani merebut wanita yang mencintai pria lain bahkan sampai tinggal bersama. Ternyata cemen," ejek Ayah.
"Ayah mengawasiku lagi?"
"Nikahi Clara dan jangan kau ganggu istri Ben Chandra, kamu bukan siapa-siapa bersaing dengan pria itu."
Alan berdecak, ternyata ayahnya sangat mengenal Ben Chandra.
__________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖