
Ponsel Ben bergetar, melihat layar yang menampilkan nama pihak yang melakukan panggilan.
"Halo bos."
"Hm."
"Nona Arabela sudah tiba di Bandara Bos."
"Pastikan sampai ia naik pesawat."
"Oke Bos."
"Siapa yang mau naik pesawat?" tanya Una.
"Seseorang."
Una memicingkan matanya sedangkan Ben terkekeh. "Seseorang yang sedang aku usahakan pulang ke asalnya biar tidak mengganggu hubungan kita apalagi menyakiti kamu baik fisik ataupun perasaan lagi," ungkap Ben.
"Siapa ?"
Ben mengedikkan bahu, "Coba tebak !" Lalu memeluk Una, meletakan dagunya pada bahu Una. Terasa hembusan nafasnya di kulit Una juga aroma parfum khas dari Ben mengusik penciuman Una.
"Bang, nanti jadi telat berangkat."
Huftt, Una benar. 'Kelamaan begini aku bisa melakukan hal lain lagi,' batin Ben. Ben melepaskan Una, "Siapa yang naik pesawat?"
Astaga, pekik Ben dalam hati. Apa Una belum paham juga. "Kamu benar-benar tidak tau atau bagaimana sih?" Ben menyilangkan tangannya di depan dada.
"Aku tanya karena memang tidak tau, nyebelin banget sih," Una memasang wajah cemberut lalu duduk kembali di meja makan.
"Arabela. Aku memulangkan Arabela." Ucap Ben sambil mengusap kepala Una.
"Aku berangkat ya?"
Una mengangguk, Ben mencium pipi Una lalu berjalan menuju pintu. Una menghela nafas, dalam hatinya ia sebenarnya tidak ingin Ben harus memaksa Arabela pergi. Dia dan Huda juga bukan saudara kandung tapi hubungan mereka baik, seharusnya Ben juga bisa dekat dengan Arabela. Tanpa diketahui oleh Una bahwa Ben memiliki semua bukti dari kelakuan jahat Arabela pada Una.
Tidak bekerja membuat Una semakin mati gaya, sejak Ben berangkat dia sudah lakukan kegiatan rumah tangga. Mulai dari loundry, sapu, ngepel dan lainnya. Namun itu hanya sebentar karena lingkup rumah tangganya baru ada dirinya dan Ben sehingga tingkat keberantakan rumahnya masih sangat kecil.
Una sejak satu jam lalu duduk disofa dengan remote di tangannya, channel tv sudah berganti-ganti dan tidak ada acara yang menarik baginya. Bukan acara tv yang tidak menarik tapi karena dia tidak terbiasa menonton tv.
Una berselancar di dunia maya dengan ponselnya, ia membuka media sosialnya. Wajahnya sedikit tersenyum melihat beberapa foto hasil tag dari Meisya.
Foto-foto pertemuan mereka, walaupun Una sekarang menyesal karena kemarin meninggalkan teman-temannya karena tindakan Alan yang membuat emosi Una mengalahkan logika.
Setiap hari itulah yang dilakukan Una setelah Ben pergi ke kantor, pekerjaan rumah tangga lalu berselancar di dunia maya. Menyaksikan video tentang merawat bayi karena saat ini ia sedang mengandung jadi merasa perlu mengetahui seluk beluk perawatan bayi. Video tentang resep masakan baik lauk pauk atau cemilan, yang tidak jarang langsung ia coba. Juga salah satu hiburannya adalah video musik, Una akan ikut bernyanyi jika ia menyaksikan video musik.
Una menutup laptopnya merasa bosan dengan aktifitas rutinnya saat ini. Ben meminta Una menggunakan laptop di meja kerja yang ada di kamar dari pada Una harus menghabiskan waktu dengan ponsel.
Perut Una yang semakin kelihatan membuncit karena umur kehamilannya juga karena ada dua janin membuat bentuk perut Una lebih besar dibandingkan umur kehamilan pada umumnya.
Clara, jangan ditanya tentang usahanya mendekati Ben, selalu saja ada alasan untuk menemui Ben. Sesuai dengan janjinya Ben mencoba menghindar sebisa mungkin. Ada saja pertemuan yang tidak mungkin Ben frontal menolak bertemu Clara. Sedangkan Alan lebih sulit melancarkan usahanya karena Una yang jarang terlihat beraktifitas di luar.
Una berencana menyusul Ben di kantor, tetiba ia ingin makan siang bersama. Apalagi Ben mengatakan jadwal ia ke luar kota mulai padat kembali.
Mengenakan dress hamil berwarna navy dengan flatshoes berwarna senada juga membawa clutch, Una diantar oleh Leo menuju kantor.
Sampai di depan ruang kerja Ben, "Selamat Siang Bu," sapa Nora sekretaris Ben. “Siang, Mbak. Suami saya ada di dalam?”
“Ada Bu, sedang briefing dengan Pak Bian dan Pak Ilham.” Una mengetuk dan membuka pintu, Ben menopang wajah dengan tangan kanan yang bertumpu pada sofa saat Una menampakkan diri di balik pintu yang terbuka.
"Bucin,” ucap Bian, Ilham yang terkekeh. “Perjuanganya jungkir balik bos,” sahut Ilham.
“Berisik, kayak sendirinya enggak bucin aja, cepat punya istri Ham, biar ikutan bucin.”
"Kalau saya punya istri enggak bisa standby 24 jam Pak,” jawab Ilham. Ben berdecak, “Dulu Bian juga bilang begitu, jangan kebanyakan tebar pesona apalagi celap celup sana-sini.”
"Pengalaman pribadi ya Pak,” ujar Bian.
"Ngaco kamu, mau dipecat kali.” Bian terbahak, “Jangan dipecat, mutasi aja. Kalau bisa fasilitas lengkap biar bisa bawa keluarga.”
"Fokus lagi, jadi schedulenya begitu. Fix kan saja yang tadi kita bahas.”
“Untuk permohonan perubahan kontrak dari ....” ucapan Bian terhenti. Ben menatap memo yang ditulis Bian, Ben menghela nafas membaca nama Clara.
"Mau dirubah gimana sih? Kan sudah baku sesuai kontrak.”
“Namanya juga usaha Pak,” ujar Ilham,
“Usaha nikung,” sahut Bian lirik.
"Jadwalkan saat saya sedang ke luar kota, jadi nanti urus sama kamu,” titah Ben pada Bian.
“Saya minta Nora persiapkan akomodasi untuk lusa ya pak, mau bawa istri gak Pak?”
Ben berfikir dengan usulan Ilham untuk membawa Una ke Surabaya dua hari lagi, menoleh pada Una yang sedang asyik menatap layar laptop. “Saya tanya dulu, nanti sore ingatkan lagi.”
“Siap bos.”
“Ya udah Ham, kita keluar. Bentar lagi ada adegan uwu, nanti loe pengen.” Ilham berdecak, lalu berdiri dan keluar ruangan bersama Bian.
Ben menghampiri Una, “Mau makan dimana?”
"Kantin, aku kangen makan dikantin. Sekalian bisa ketemu sama yang lain,” jawab Una. “Oke.” Ben sebenarnya kurang setuju, karena ia tidak ingin istrinya akan jadi pusat perhatian di kantin, terutama pandangan para pria kepada istrinya.
Menggenggam jemari Una berjalan beriringan, namun sebelum membuka pintu Ben menghentikan langkahnya mendekap Una lalu memberikan pagutan pada bibir Una sangat menuntut dan dalam sampai Una memukul dada Ben agar melepaskannya.
Ben hanya terkekeh melihat Una cemberut karena tindakan refleksnya, “Ayo, nanti keburu ramai.” Ucapan Ben benar, saat ini sudah jam makan siang dan hampir separuh meja di kantin telah terisi. Masih dengan menggenggam jemari Una, menuju meja kosong. Dan lagi-lagi dugaan Ben benar, mereka menjadi pusat perhatian. Banyak mata menatap ke arah mereka.
“Kak Una!” Una menoleh ke arah suara cempreng milik Rahmi. Una tersenyum dan melambaikan tangannya, menoleh pada Ben seakan mememohon ijin menghampiri Rahmi. Ben berdecak, “Ya sudah, kita duduk di sana.”
"Makin bohay aja Na,” seru Abil.
“Kamu tuh makin bawel,” jawab Una. “Mau makan apa?” Una hendak menjawab namun disela kembali oleh Ben, “Jangan bakso.”
“Gak boleh pedas.”
“Jangan cukup full karbo.” Ben terus bicara, Una menatap Ben dengan wajah datar. Rahmi menjatuhkan sendoknya, “So sweet banget sih Kak.” Abil terkekeh melihat drama dihadapannya.
Vino yang baru saja datang menyapa Ben juga Una. Ben tersenyum melihat keceriaan Una saat berinteraksi dengan rekan kerjanya dulu, se simple itu untuk membuat istrinya bahagia.
Ponsel Ben bergetar, sebuah notifikasi pesan masuk, ia mengerutkan keningnya saat membaca pesan tersebut.
_______
Good morning, salam cinta dengan kasih Like dll. 💕 lope yu Gaes 🥰