Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Calon Besan



Hai, untuk yang baru bergabung dan baca maraton, terima kasih banget deh selalu memberi jejak disetiap episodenya, nantikan terus kisah Aruna ya, 😊


______


Dua bulan sudah berlalu, kedua baby Una dan Ben semakin sehat. Dengan pipi chubby dan berat sesuai umur mereka. Ben mempekerjakan dua orang baby sitter, yang bekerja bergantian untuk membantu Una merawat anak-anak mereka.


Una merasa lebih tenang karena satu bulan lalu Arabela pulang ke Singapura dan kemarin Ibunya menghubungi Ben bahwa Dean melamar Arabela. Paling tidak sampai saat ini, tidak ada bibit-bibit pelakor yang mencoba merebut Ben darinya.


(Yang kemarin bilang Arabela ular phyton, udah aman ya Bun. Sudah dapat jodohnya 😄)


"Wah, Nessa sudah wangi," ucap Una melihat Nessa sudah selesai dipakaikan baju. Sedangkan ia baru saja selesai memandikan Nevan.


"Hmm jagoan Mamih kedinginan ya," Una segera mengeringkan tubuh Nevan dengan handuk. Kini keduanya sudah rapih dan wangi khas bayi.


"Wahhhh, sudah cantik dan ganteng nih. Mau kemana sih ?" tanya Firda seakan berbicara pada bayi yang bisa menjawab pertanyaannya.


"Jadi ke Rumah sakit Bu?" tambahnya.


"Iya, kamu temani Mbak jagain mereka. Aku ganti baju dulu," ucap Una. Menuju kamarnya melalui conection door lalu menutupnya kembali. Ben yang sedang memakai dasi terlihat kesal.


Una tersenyum, menghampirinya dan mengambil alih dasi yang berada di kerah kemeja Ben. "Bayi besar aku, kayaknya ngambek nih."


"Ck, kamu tuh sekarang mengutamakan si kembar terus, aku dilupakan." Ben menarik pinggang Una menempel pada tubuhnya.


"Mana ada seperti itu, Abang. Jangan suka cemburu sama anak sendiri."


"Gimana enggak cemburu, kamu dimonopoli sama mereka."


Una mengambil jas yang sudah disiapkan membantu Ben mengenakan, "My baby giant, merajuk." Lalu berjinjit dan mencium singkat bibir Ben. Ternyata Ben tidak puas dengan kecu_pan singkat yang diterima. Ben menahan tengkuk Una, dan melu mat bibir yang merona dan menggoda.


Ben mengernyitkan dahinya saat mereka melepas pagutannya, "Sepertinya masa nifas kamu sudsh lewat jauh ya?"


"Abang, ini udah siang. Nanti telat," Una memutar tubuh Ben dan mendorongnya untuk segera melangkah.


"Aruna! Jangan mengalihkan pembicaraan."


Namun Una sudah melesat ke dalam walk in closet.


"Nanti malam Aruna!" Ucap Ben dengan lantang.


.


.


.


Hari ini adalah jadwal imunisasi kedua untuk si kembar. Berjalan di koridor rumah sakit menuju ruang dokter, Una bersisian dengan baby sitter yang menggendong Nessa, sedangkan Nevan digendong Firda yang berjalan di belakang Una bersebelahan dengan Leo.


"Fir, lo udah pantes jadi ibu," ucap Leo sambil berjalan.


"Masa sih?"


"Pepet terus sampai dapet," ejek Una pada Leo.


Leo berdecak, "Iya, makanya cepetan jawab iya, dari pada gue keburu sama yang lain."


"Aku cari laki-laki mapan, udah lelah hidup susah," jawab Firda


"Hmm, dasar matre."


"Bukan matre tapi realistis."


"Sudah-sudah, kalian itu kaya Tom and Jerry, berantem terus," ujar Una, "aku sumpahin kalian berjodoh."


"Aamiin," sahut Leo. "Eh, ini maksudnya melamar tidak langsung ya?" tanya Firda.


"Enggak tau, udsh lewat," jawab Leo.


Selesai mengimunisasi kedua bayinya, Una kembali melewati koridor menuju mobil yang akan membawa mereka pulang. Tidak disangka ia bertemu dengan Alan dan Clara.


"Wow, Aruna, mereka bayimu?" tanya Clara dengan perut yang sudah sangat membola dan mengapit lengan Alan posesif. Alan menatap Aruna lalu beralih pada kedua bayi Aruna.


"Iya," jawab Una sambil tersenyum. Tidak menyangka jika Alan dan Clara akhirnya bisa bertahan sampai dengan saat ini. Mengingat apa yang mereka berempat pernah lalui.


"Cewek atau cowok?" tanya Clara.


"Keduanya."


"Ahhh, gimana kalau nanti mereka dewasa kita jodohkan. Sayang, bayi kita laki-laki kan?"


Alan menoleh pada Clara.


"Hah, dijodohkan?" Una menatap heran pada Clara


"Kan lucu sayang, bolehkan Aruna? Enggak kebayang ya nanti kalau kita besanan, jadi mertua anak kita adalah mantan dari orangtuanya begitupula sebaliknya," tutur Clara sambil tertawa.


Senyum di wajah Una hilang bahkan saat ini ia memasang wajah kesal. Alan melihat hal itu, segera pamit pada Aruna lalu mengajak Clara melanjutkan tujuan mereka.


Una mengepalkan kedua tangannya, lalu menoleh ke belakang pada pasangan konyol yang baru saja merusak moodnya.


...***...


Malam harinya,


Una menutup pintu penghubung kamar baby twin dengan kamarnya setelah ia menidurkan dua bayi menggemaskannya.


Ia baru merebahkan diri di atas bed, saat Ben masuk ke kamar. "Tidak usah bangun, aku mau langsung mandi," ucap Ben.


Terdengar air mangalir dari shower, mata Una baru saja terpejam saat terasa pergerakan disisinya. Harum aroma sabun terasa di hidung Una, lalu tangan yang sangat terampil sudah menjelajah di beberapa titik sensitif tubuh Una.


"Abang," ucap Una, suara yang keluar dari mulut Una terdengar sangat parau karena mengantuk namun sangat menggoda di telinga Ben.


"Sayang," ucap Ben, "sepertinya kamu lelah sekali hmm?"


Una mengangguk masih dengan mata terpejam, "Oke, tidurlah," titah Ben.


Cup


Ben mendaratkan bibirnya pada pipi Una. "Minggu depan Arabela menikah dengan Dean, aku harus hadir. Apa kamu bisa ikut?"


Ben mengelus rambut Una, "Kamu lelah sekali sayang, sudah lelapkah?"


"Hmm."


"Kalau memungkinkan kamu ikut ke Singapur ya, Ibu juga ingin bertemu dengan menantunya."


Kedua mata Una langsung terbuka, mendengar kata menantu entah mengapa pikirannya langsung teringat tutur kalimat Clara. Ia langsung duduk, "Loh, kenapa?" tanya Ben yang ikut bangun dan duduk.


"Abang, tau enggak tadi di Rumah sakit aku bertemu siapa?"


"Tidak, karena aku tidak ikut ke Rumah sakit. Siapa? Orang penting dalam kehidupan kita?"


"Arggghh," Una mengepalkan kedua tanganya karena emosi.


"Hey, ada apa?"


"Ini bukan orang penting tapi orang yang harus di blacklist dalam hidup kita. Sepertinya kita harus memohon pada Tuhan agar tidak ada moment kebetulan bertemu dengan pasangan fenomenal ini."


"Pasangan fenomenal? Siapa?"


"Huhh, pokoknya aku kesel Bang, jangan sampai omongan dari mulut ibu hamil itu terealisasi. Aku enggak mau punya besan mereka," rengek Una sambil memegang lengan Ben dan menggoyang-goyangkannya.


"Aruna, please cerita yang runtut, aku enggak paham alurnya dan tidak bisa menerka siapa yang kamu maksud."


"Tadi tidak sengaja kita bertemu Alan dan Clara," ujar Una sambil cemberut.


"Lalu." Ben melipat kedua tangannya di dada.


"Clara bilang bayinya laki-laki," ucap Una masih dengan bibir manyunnya.


"Masalahnya apa? Anak kita pun salah satunya laki-laki."


"Dia bilang kalau anak-anak kita dewasa, mau menjodohkan anak-anak."


"Tunggu, maksudnya Clara ingin menjodohkan anaknya dengan anak kita?"


Una mengangguk.


"Kamu setuju?"


"Ya enggaklah, Abang tau enggak dia bilang, 'Enggak kebayang ya nanti kalau kita besanan, jadi mertua anak kita adalah mantan dari orangtuanya begitupula sebaliknya' nyebelin kan?"


"Ketemu dia aja, aku selalu kebayang kalau Abang dan Clara pernah bahkan sering ... ahhh pokoknya aku kesel banget deh."


"Aku enggak mau berbesan dengan mereka, Bang." Una kembali merengek sambil menggoyangkan lengan Ben.


Ben hanya bisa menghela nafas pelan dan bingung kenapa istrinya mempermasalahkan hal yang belum jelas dan masih jauh ke depan.


"Abangggg!"


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖