Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Mengakhiri Kesepakatan



"Saya bisa pulang sendiri Pak," ujar Devi, "saya kan bawa motor." Ucap Devi saat keluar dari lift lalu berbelok ke pintu parkiran basement. Berbeda dengan Ilham yang mobilnya ada para parkiran vip tidak jauh dari lobi.


Ilham hanya memandang punggung Devi yang berjalan menjauhinya. Diakui Devi memiliki paras yang cantik meskipun lebih cantik Aruna. Hanya jalan hidupnya yang harus menikah muda dan tidak bisa bertanggung jawab terhadap anaknya membuat orang menilai tidak baik.


Bahkan terang-terangan ia ingin memiliki suami yang bisa memenuhi semua keinginannya, sampai menyatakan siap menjadi istri kedua dari kakak iparnya.


Berbeda dengan kalimat sombongnya saat di kantor, ia pulang ke apartement. Bukan apartement mewah yang pernah Ben dan Aruna tempati melainkan apartement sederhana. Ben benar-benar ingin merubah karakter adik iparnya.


Esok paginya, karena hari minggu anggota keluarga Ben terlihat lebih santai karena libur. Bahkan Una baru saja keluar dari kamar, saat asisten rumah tangganya menyiapkan sarapan.


"Anak-anak belum bangun Bik?" tanya Una.


"Sepertinya sudah Bu, sedang sama Bapak di samping."


"Yuhuuuu, pagi kakakku," teriak Devi yang baru saja tiba. Una menoleh ke arah suara mendapati Devi yang berjalan ke arahnya, "Apaan sih, pagi-pagi udah berisik."


"Dewa mana? Aku mau ajak dia pergi."


"Pergi ke mana?" Ucap Una, baginya Dewa sudah seperti anaknya sendiri.


"Ke mana aja, yang jelas seharian ini aku mau habiskan waktu sama anak aku, masa enggak boleh sih."


"Bukan enggak boleh, biar bisa dikondisikan keamanan dan kesehatannya. Memang kamu tau makanan apa yang buat dia alergi atau kondisi apa yang buat dia tidak nyaman?"


"Yah kasih tau dong!"


Una hanya geleng kepala melihat kelakuan adiknya. Duduk pada ruang tamu sambil menunggu Dewa yang bersiap. Ternyata Ilham datang, sepertinya ada janji dengan Ben.


"Abang sedang sama anak-anak, aku panggilkan dulu," tutur Una. Yang dijawab Ilham dengan mengangguk. Lalu duduk di salah satu sofa.


"Heran, di kantor ketemunya Bapak, libur juga ngelihat Bapak lagi. Bosan saya," ujar Devi. "Kalau bosan jangan dilihat lah," tukas Ilham.


Ilham memindai Devi dari ujung kepala sampai ujung kaki, "Mau kemana kamu?"


"Kemana ajalah, bukan urusan Bapak juga."


Ilham mendengus mendengar jawaban Devi.


Ternyata Ilham datang menyampaikan informasi tentang Lena. Setelah kasus Gema, Lena berulang kali mendatangi perusahaan untuk bicarakan kerjasama, namun Ben tidak pernah bersedia menemui.


"Paling minggu-minggu ini dia akan datang lagi untuk nego kerjasama," ujar Ilham.


"Hmm."


.


.


.


Hari ini Una diminta Ben ikut ke kantor, tanpa menolak Una memgikuti saja apa yang diminta suaminya.


Berjalan melewati resepsionis dengan menggandeng lengan Ben dan tersenyum ketika ada yang menyapa mereka.


Sejak Una masih menjadi karyawan, Ben banyak dipuja-puja oleh para wanita termasuk saat ini, para karyawan wanita terlihat senyum simpul atau menyapa genit. "Abang, itu karyawan baru? Aku baru lihat deh."


"Mungkin, aku tidak hafal," jawab Ben tanpa menoleh pada orang yang ditunjuk oleh Una. "Cantik deh Bang," ujar Una.


"Bagi ku, kamu paling cantik."


Una hanya tersenyum mendengar kalimar gombal Ben.


"Wow pasangan fenomenal. Pagi pak," sapa Abil.


"Hmm," jawab Ben.


Una hanya melambaikan tangannya dan tersenyum, "Makin mesra aja Na. Eh Ibu Una," seru Abil saat mereka berada dalam lift.


"Harus dong."


"Lalu aku di sini ngapain?" tanya Una saat sudah berada dalam ruangan Ben. "Duduk disitu jadilah semangat aku hari ini, atau mau duduk di ini?" Ben menepuk pangkuannya.


"Hmm, bahaya, aku di sini aja."


Ben melepas jasnya lalu fokus pada tumpukan map di mejanya dan Una membuka lembaran majalah yang ada di meja sofa.


Tidak lama kemudian, masuklah Ilham. "Pak, sekretaris Bapak yang baru sudah masuk. Saya kenalkan sekarang atau ..."


"Boleh," jawab Ben.


Ilham kembali masuk dengan seorang wanita lebih muda dari Aruna, dengan suit yang ketat di badan membuatnya terlihat seksih. Una menoleh sekilas, wanita itu pun melirik pada Una.


"Beliau Pak Ben, pemilik perusahaan."


"Perkenalkan Pak, saya Nia sekretaris pengganti. Semoga bisa kerja sama dengan Bapak."


"Hmm," jawab Ben ia memindai Nia dengan melipat kedua tangannya di dada. "Kamu tanya Ilham sortir tamu yang ingin bertemu denganku termasuk tugas rutin kamu."


"Baik, Pak."


"Juga pakaian kamu, ikuti standar berpakaian di sini, tanya pada HRD."


"Selamat Pagi," terdengar sapaan seseorang yang masuk karena pintu memang tidak ditutup. Semua yang ada di ruangan menoleh pada Lena yang melenggang masuk.


"Wah, ternyata ramai, mudah-mudahan saya tidak mengganggu," ucapnya.


"Kamu boleh kembali ke tempat kamu," titah Ilham pada Nia. Lena duduk di kursi sebrang meja Ben, sedangkan Ilham berdiri di samping meja Ben.


"Ben, aku kemari untuk membahas ulang kerjasama kita."


"Apa yang mau dibahas, aku sudah mengeluarkan surat penolakan kerjasama," tutur Ben. "Ayolah Ben, masa kamu mau membiarkan keuntungan hilang begitu saja."


Ben tertawa, "Lena, sebelumnya perusahaan milik aku sedang baik-baik saja dan tanpa kamu tetap oke."


"Ben, alasan kamu seperti ini tidak profesional."


"Bagian mana yang tidak profesional jika seorang tim kamu melewati batasan pribadi aku?" tanya Ben.


"Tapi sekarang sudah kondusif kan? Toh Gema sudah mendapatkan hukuman, jangan membesarkan masalah sepele."


Una geram mendengar ucapan Lena. Ia berdiri dan menghampiri Ben, "Apa kamu bilang, sepele? Aku kehilangan calon bayiku kamu anggap sepele. Kamu itu perempuan, dimana empatimu sebagai sesama perempuan. Kalau kamu dilecehkan juga, apa kamu akan diam?" tutur Una dengan emosi. Ben sudah berdiri mengelus punggung Una. "Sudah sayang, tenang. Aku bisa handle ini."


Lena mencibir, "Dimana-mana seorang istri harus mendukung suaminya bukan menghambat."


"Kamu ..." ucapan Una terpotong karena Ben mengatakan, "Lena, kerjasama kita batal. Apapun alasannya itu adalah hak kami. Sebaiknya kamu keluar, karena aku juga sibuk."


"Ben, coba kamu kaji lagi peluang ini. Kamu yakin akan tidak mengambil peluang ini?"


"Maaf, Ibu silahkan keluar. Sudah jelas jawaban dari pimpinam saya" titah Ilham pada Lena.


Lena menatap tidak suka pada Una karena kerjasamanya harus gagal disebabkan Una. Lalu meninggalkan ruang kerja Ben diikuti oleh Ilham.


Ilham menuju ruangannya namun tidak mendapati Devi disana, Ilham sedang membuat jobdesk khusus sekretaris Ben yang baru saat Devi datang.


"Dari mana kamu? Kerja hilang-hilangan mulu."


"Yaelah ditinggal bentar aja udah kangen," ejek Devi membuat Ilham menoleh.


follow ig author ya : dtyas_dtyas


atau fb : dtyas auliah


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖