Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Kelemahan Ben Candra



Keluarga Ben Chandra sudah berada di rumah, karena dokter telah mengijinkan pulang. Kini yang menjadi pikiran Ben adalah ia harus memberikan keterangan di kantor polisi terkait kejadian penculikan Una. Juga ia harus bertemu kembali dengan Gema. Ben hanya khawatir ia tidak bisa mengendalikan emosinya.


Aruna diminta Ben untuk beristirahat, bahkan Ben ikut berbaring di samping istrinya. Memeluk Aruna dari samping yang posisinya masih terlentang.


"Abangg," panggil Una.


"Hmmm," jawab Ben dengan mata terpejam, ia menikmati memeluk istrinya. Saat tau Una di bawa orang lalu terbaring di rumah sakit emosinya campur aduk, jadi saat ini ia merasakan lelah jiwa dan raganya.


Una merasakan hembusan nafas Ben di lehernya, ia menoleh pada Ben yang sudah terlelap dengan memeluk dirinya. Menggerakan tubuhnya kini posisi mereka berbaring berhadapan.


"Abang sudah lewati hari yang berat, bukan cuma aku yang perlu istirahat." Una memeluk Ben, mencari kenyamanan di sana dan ikut terlelap.


Padahal saat ini hari masih sore, namun pasangan itu benar-benar perlu mengistirahatkan segalanya. Leo memerintahkan baby sitter untuk menjaga si kembar agar tidak mengganggu orangtuanya.


Kini Huda dan Leo sedang merokok di samping rumah, "Sebenarnya, apa motif orang yang melakukan hal itu pada Una?" tanya Huda.


Leo terdiam, lalu menjawab, "Kadang pikiran orang kaya itu berbeda dengan kita rakyat jelata. Si Bang*sat Gema awalnya menggoda Aruna, mungkin tertarik. Dia fikir akan disambut baik oleh Aruna, Ben tidak suka miliknya diganggu. Jadi gue termasuk yang menemani untuk memberi pelajaran pada si pengecut itu."


"Bisa dibilang ini balas dendam?" tanya Huda.


"Bisa, tapi bisa juga tidak. Gue enggak ikut saat penyelamatan Aruna, langsung mengamankan anak-anak. Info dari yang lain, Gema memang sengaja mancing Ben untuk datang."


Huda menghela nafas, "Mendengar Una berada situasi begini, sempat menyesal memberikan mereka restu," ujar Huda.


"Enggak dapat restu juga pasti bakalan terus usaha sampai dapat. Gue saksinya se gigih apa dia mendapatkan Aruna."


Esok pagi,


"Aku bisa sendiri," ucap Una saat Ben akan membantunya untuk mandi.


"Perban ini tidak boleh basah, biar aku bantu." Kedua pergelangan tangan Aruna yang terluka karena diikat masih dalam balutan perban. Setelah membantu Una membersihkan tubuh, Ben mengganti perban luka tersebut.


"Mamiiih," panggil Nessa naik ke atas ranjang.


"Selamat Pagi sayangnya Mamih," Una lalu mencium kedua pipi Nessa dan menggesekkan hidung mereka lalu tertawa. Ia juga melakukan hal yang sama pada Nevan.


"Hey, hey, Nessa!" Tegur Ben saat Nessa lompat-lompat di ranjang seakan berada di atas trampolin.


"Anak-anak enggak berangkat sekolah, Bang?"


"Tidak, sudah diurus ijinnya oleh Leo." Ben tidak ingin Una larut dalam kesedihan jadi membiarkan anak-anak mendampinginya.


"Mamih," panggil Dewa berada di tengah pintu dan memegang handlenya.


"Kemari Nak," pinta Una, Dewa langsung memeluk Una. "Mamih enggak apa-apa, kamu enggak usah khawatir ya."


Akhirnya Una berbaring di ranjang di temani ketiga anaknya, bercerita tentang hal-hal lucu dan apapun yang membuat anak-anaknya tertawa.


Sedangkan Ben, Ilham dan Leo sudah berada di ruang kerja Ben. Menceritakan hasil penyelidikan mereka. "Jadi karena latar belakang orangtuanya dia berani macam-macam," ucap Ben. "Apapun alasannya, yang dilakukan Gema tetap kejahatan," ujar Ben.


Ayah dan Ibu Una dari Bandung datang berkunjung setelah mendengar apa yang terjadi pada Una, Devi pun ikut serta.


Mereka berada dalam ruang keluarga, sedang beramah tamah. "Devi, baiknya kamu temani Dewa. Dia juga pasti kangen kamu," titah Una. Devi beranjak mencari Dewa, "Aku kangennya sama Papih Dewa," ucap Devi lirih.


Ben yang melihat Una tidak nyaman sejak tadi dalam posisi duduk, akhirnya mengantarkan Una ke kamar. "Kamu masih harus banyak istirahat sayang," ujar Ben.


"Hmm."


Tok tok, Devi membuka pintu kamar Una.


"Loh, kenapa ke sini bukan temani Dewa." Devi duduk di pinggir ranjang Una. "Mereka lagi main."


"Manja banget sih Kak, takut ya kalau aku dekati kak Ben," ucap Devi.


"Manja gimana? Badan aku memang belum fit. Lagian aku manja sama suami sendiri kok," ujar Una.


"Aku kan cari yang paket komplit, ganteng, kaya biar hidup aku senang. Ganteng doang mah percuma," tutur Devi. "Kak, temannya Kak Ben itu gagah banget, macho gitu kelihatannya, siapa namanya?"


"Teman Ben, yang mana?" tanya Una, mengingat Ben menambah orang untuk menjaga keluarganya.


Devi berdecak, "Yang pakai kaca mata," ucap Devi.


"Ilham?"


"Ya mana aku tau, makanya aku tanya."


"Iya Ilham," jawab Una.


"Sudah punya istri kak?" Devi antusias bertanya.


"Hmm, enggak tau ya."


"Aruna," panggil Ben saat masuk ke kamar. "Aku bawa kamu ke kamar untuk istirahat, bukan untuk ngobrol."


"Ini juga istirahat," jawab Una.


"Hmm, manja," ledek Devi sambil berlalu keluar dari kamar.


"Kalian perdebatkan apa lagi?" tanya Ben. Una hanya tersenyum, "rahasia."


...~****~...


Ben dan Una hari ini berencana mendatangi kantor polisi untuk memberikan kesaksian. Namun disanggah oleh pengacara Ben.


"Keluarga dari Gema ingin bertemu Pak Ben dan Ibu Aruna."


"Aku tidak akan menyetujui perdamaian," ucap Ben. "Baiknya kita putuskan setelah mendengar apa yang ingin disampaikan oleh pihak mereka Pak," sahut pengacara Ben.


Selama perjalanan menuju titik pertemuan dengan keluarga Gema dan pengacara keluarganya, raut wajah Ben sudah menampakan raut wajah kesal dan emosi. Aruna mengusap punggung tangan Ben memberikan ketenangan, Ben menoleh dan merangkul Aruna.


Ternyata Gema bukan dijadikan tersangka tapi sebagai saksi, salah satu bawahannya yang mengakui sebagai dalang kejahatannya. Keluarga Gema dan pengacara meminta Ben dan Aruna menyepakati hal itu karena mereka juga memiliki saksi pengeroyokan Gema yang dilakukan oleh Ben.


Ben tertawa, "Jangan harap aku akan berdamai, aku akan pastikan kamu dipenjara," ucap Ben.


"Pak Ben Candra, sebaiknya anda sepakati kerjasama kita, kamu lihat aku sudah berikan pelajaran untuk anakku dan aku pastikan dia tidak akan melakukan hal itu lagi," Ayah Gema menunjuk wajah anaknya yang sudah babak belur.


"Bagaimana kalau kalian berada di posisi aku, bagaimana kalau istri kalian, ibu kalian atau saudari kalian mengalami apa yang istri ku alami. Kami bahkan kehilangan calon bayi kami," ungkap Ben dengan berapi-api. Una yang duduk disampingnya hanya menunduk dan berurai air mata. Ia lebih takut melihat Ben marah seperti ini, dibanding ketakutan melihat Gema yang audah berbuat jahat padanya.


"Tapi Pak Ben, jika Ibu Aruna memberi kesaksian bahwa yang menyakitinya adalah Gema maka kami akan tuntut anda juga, anda pun akan berada di penjara," tutur pengacara Gema.


Ben tertawa "Aku tidak perduli, selama dia dinyatakan bersalah," jawab Ben. Una menggelengkan kepalanya menoleh pada Ben. Sedangkan Gema sejak tadi ia memperhatikan Una, terlihat perban di pergelangan tangan wanita itu juga memar didahinya.


"Kau..." ucap Ben.


"Pak Ben," sela pengacara Ben, "kami akan pertimbangkan, yang jelas besok kami akan segera menyampaikan kesaksian."


"Pak Ben, kita sesama pebisnis, lebih baik kita buat nama kita bersih. Masalah anak saya, saya pastikan dia menyesal atas perbuatannya." Ucapan Ayah Gema membuat emosi Ben semakin tersulut, "Maksud anda saya harus membiarkan dia bebas berkeliaran, kamu seharusnya ...."


Aruna memeluk Ben, membuat pria itu menghentikan teriakannya, "Abang, kita pulang dulu," ujar Una dengan mata sembab. Ben menatap istrinya, Aruna sudah menjadi kelemahan dari seorang Ben Candra.


follow ig author ya : dtyas_dtyas


atau fb : dtyas auliah


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖