
Braakkk,
"Auw, ahhhh."
Terjadi tabrakan antara motor yang dikendarai Una dan kendaraan di depannya.
"Mbak," ucap salah satu warga di sekitar kejadian.
"Angkat motornya, kakinya terjepit," ucap yang lainnya.
"Mbak, bisa berdiri enggak?"
"Hati-hati mbak, melamun ya?"
*****
Sudah satu minggu berlalu sejak Una mengalami kecelakaan motor, meskipun hanya luka-luka luar baik di kaki dan tangannya. Semenjak kejadian itu Huda melarang Una membawa motor untuk sementara waktu, walau motornya sudah selesai diperbaiki.
Namun yang menjadi pemikiran Una adalah kendaraan di depannya yang juga sebuah motor mengalami kerusakan. Saat kejadian Una dibantu Leo yang memang masih diminta Ben untuk terus mengawasi Una, Leo yang menghandle urusan motor dan membawa Una ke rumah sakit.
Tidak menggunakan motor membuat Una harus berangkat lebih pagi menuju kantor, turun di halte tidak jauh dari gedung tempatnya bekerja, lalu berjalan kaki.
Saat menunggu lift ia melihat Bian tiba di Lobby, Una menghampiri Bian.
"Selamat pagi pak," sapa Una.
"Selamat pagi nona Aruna," balas Bian sambil tersenyum.
"Hm, boleh minta waktunya pak, ada hal yang perlu saya bicarakan."
"Oke, silahkan tunggu di ruangan saya. Nanti saya menyusul."
"Baik pak."
Una masuk ke dalam ruangan Bian diantar oleh Maya sekretaris Bian.
"Silahkan duduk Mbak," ucap Maya pada Una.
"Terima kasih." Una duduk di sofa ruangan Bian. Una menemui Bian ingin menanyakan tentang Leo, agar ia dapat menghubungi pria tersebut. Karena Leo pernah berada di rumah sakit setelah kejadian penculikan, jadi Bian pasti mengenal Leo yang juga bawahan Ben.
5 menit
10 menit
Pintu dibuka, "Bian, sudah __" Ben yang masuk ruangan Bian terkejut melihat Una. Menatap Una lalu menoleh pada meja kerja Bian yang kosong.
Una pun berdiri, "Selamat pagi Pak," sapa Una.
"Hm, sedang apa di sini ?" tanya Ben.
"Tadi saya diminta tunggu di sini."
"Untuk urusan apa ?"
Una menggaruk tengkuknya, tidak dapat menjawab. Ben memindai dari ujung kepala sampai kaki Una. Terlihat di lutut gadis itu luka yang baru saja sembuh, juga di mata kaki bekas luka yang agak panjang.
'Bekas luka seperti ini, Leo bilang tidak parah.' batin Ben.
"Urusan apa ?" ulang Ben pada Una dengan lengan dilipat di dada.
"Yang jelas bukan urusan Bapak," sahut Una lirih namun dapat didengar oleh Ben.
'Semua hal terkait kamu, itu urusanku,' ucap Ben dalam hati.
"Ikut aku!"
"Saya tunggu di sini saja."
"Mau sampai kapan ? Ben sedang bertemu klien. Tadi dia mengirim pesan minta aku datang ke ruangannya, sudah mulai kurang ajar dia."
"Kalau begitu saya kembali nanti saja," ucap Una mengenakan kembali tas kerjanya.
Ben memijat dahinya pelan.
"Permisi pak." Una mengangguk saat melewati Ben. Tanpa diduga Ben menarik tangan Una dan mereka kini berhadapan.
"Ada urusan apa dengan Bian ? Jangan buat aku berasumsi negatif."
"Saya perlu bertemu Leo."
"Untuk apa ?"
"Rahasiaaaa" seru Una lalu berbalik dan berlari keluar dari ruangan Bian.
"Sshhiiit," ujar Ben lalu keluar dari ruangan Bian.
"Tumben, biasanya datang duluan terus," tanya Abil saat melihat Una menuju meja kerjanya.
"Hm, ada urusan."
...
Sore hari, ketika jam dinding menunjukan sudah berakhirnya jam kerja, Una duduk di kursi depan meja Abil.
"Bil, ingat enggak sama Leo?"
"Bang Leo?"
"Iya kali, yang waktu dikepoin Rahmi."
"Iya, bang Leo. Kenapa ?"
"Ada urusan sama dia, punya kontaknya enggak ?"
"Urusan apaan ? Loe enggak ikutan naksir kayak Rahmi kan ?"
"Yah enggaklah."
"Rese, ada enggak kontaknya?"
"Na, kalau loe mau ketemu bang Leo, cukup loe berjalan Udah gitu berbalik, kalau ada mobil berhenti enggak jauh dari loe, samperin. Nah disitu pasti ada bang Leo."
Una terlihat bingung dengan penjelasan Abil. "Ya udah, aku pulang. Gak solusi ngomong sama kamu mah, ngan lier nu aya."
"Eh dikasih taunya."
Una sudah berada di kompleks menuju rumah kostnya, sambil berjalan kaki memikirkan penjelasan Abil.
'Jalan, terus berbalik,' batin Una sambil ia memutar tubuhnya, 'Kalau ada mobil tidak jauh dari aku, samperin'.
Una melihat ada mobil tidak jauh darinya saat ini, menghampiri mobil tersebut. Lalu mengetuk kaca pintu pengemudi, karena mobil tersebut masih dalam keadaan hidup dan terlihat pengemudi walaupun tidak jelas wajahnya karena kaca yang gelap.
Tok tok tok
Una mengetuk kembali, tidak lama kaca turun menampilkan wajah pria pengemudi mobil tersebut.
Una menutup mulutnya dengan kedua tangan, "Daebak, kenapa Abil bisa tau kalau Bang Leo yang ada di dalam mobil."
Leo menoleh pada Una, 'Pake ketauan lagi, bisa marah si Bos,' batin Leo.
"Bang, bisa turun enggak, saya ada perlu sebentar."
Leo menatap sekitar, ia lalu keluar dan membuka pintu kursi belakang pengemudi, "Silahkan, kita bicara di tempat lain."
Bertempat di salah satu cafe tidak jauh dari tempat Una tinggal, Leo dan Una duduk berhadapan di salah satu meja.
Pelayan mengantarkan iced lemon tea untuk Una dan Capucino iced pesanan Leo.
Leo berdehem, "Silahkan Nona." Leo melipat tangan di dada mempersilahkan Una berbicara.
Una yang sedang memandang Leo dengan bertopang dagu. 'Pantesan Rahmi ganjen sama Bang Leo, ganteng juga sih,' batin Una.
"Nona Aruna."
"Eh iya, yang bantu aku waktu kecelakaan kan Bang Leo ya, aku mau ganti semua biayanya."
"Tidak perlu Nona," jawab Leo.
"Kenapa ?"
"Karena bukan saya yang membayar semua."
"Siapa ?"
Leo tidak menjawab, ponsel di sakunya berdering.
"Ponselnya berdering, kenapa enggak dijawab?" tanya Una.
Leo mengeluarkan ponselnya dan menjawab panggilan yang ternyata dari Ben.
"Halo"
"Apa Aruna sudah sampai rumah, aku belum dapat kabar."
"Maaf pak, belum."
"Ke mana dia ?"
Leo berdehem, "Dia ada dihadapan saya Pak," sahut Leo pelan.
"Untuk apa dia menemuimu, sshitt. Leo jangan macam-macam denganku."
"Bukan begitu pak, dia menanyakan terkait kecelakaan."
Una menatap Leo curiga, "Bang Leo," panggil Una sedikit kencang hingga terdengar oleh Ben.
"Bang Leo? Dia panggil kamu bang Leo. Ada di mana kalian ?"
Leo memijat dahinya. "Saya share location pak." Lalu panggilan berakhir.
Una menyilangkan kedua tangan di dada. "Nanti Nona tanya langsung ke beliau," jawab Leo.
10 menit kemudian Ben tiba di caffe, mencari keberadaan Una dan Leo. Saat matanya melihat sosok yang sangat dicintainya
Menghampiri kedua orang tersebut lalu duduk disebelah Leo.
"Jadi, pak Ben mengawasi saya lewat Bang Leo."
Ben hanya menatap Una tanpa menjawab.
Una berdiri, lalu berjalan meninggalkan Ben dan Leo.
Ben mengejar Una, "Aku antar kamu pulang."
"Enggak perlu." Una sudah keluar dari parkiran caffe.
"Aruna," panggil Ben.
Una berbalik, "Jangan ganggu saya pak, jangan pernah terlibat dengan kehidupan saya. Apapun yang terjadi pada saya, jangan ikut campur."
________
Yuhuuuuu 🥰
panteng teruss, chapter-chapter berikutnya ada kejadian yg bikin Ben makin cinta sm Una.
Uwu banget pokoknya
Jangan lupa like, koment, vote, hadiah
Peluk cium dari Ben sama Leo 🤣🤣🤣