Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Tidak Nyaman



Una terkejut orang yang dihindari malah ada di sini. Ia belum punya pengalaman menghadapi manusia macam ini. Didiamkan bikin risih, mau langsung di pukul nanti disebut menganiaya. 


"Permisi," ujar Una lalu berjalan melewati pria itu. Namun tanpa diduga tangan Una ditarik membuat mereka kini berhadapan.


"Eh, yang sopan ya Mas," ketus Una. 


Pria itu terkekeh, "Kamu kalau marah begitu jadi makin imut," ujar Gema. Una menarik tangannya namun cengkraman tangan Gema sangat kuat, "Lepaskan," ujar Una sambil berontak.


"Kalau enggak aku lepas, gimana?" 


Una menatap aneh pada pria dihadapannya, "Ya, aku teriak, lepas atau aku adukan pada suamiku." 


"Ahhh, pria yang tadi benar suamimu?" tanya Gema.


Una menghempaskan tangan yang dicengkram, membuat tubuhnya sedikit limbung dan grapp, tubuh Una tidak terjatuh karena berada dalam pelukan Gema. 


Una langsung mendorong pria itu, "Anda berani sekali menyentuhku," teriak Una.


"Kalau tidak aku sentuh kamu sudah terjerembab." 


"Dasar gila," ucap Una sambil berlalu. 


"Hey, aku dengar. Apa kamu mau mengadu pada suamimu?" tanya Gema sambil berjalan mensejajari Una. 


Memasuki ball room tempat berlangsung acara, Una mencari Ben. Ia menghela nafaa saat melihat Lena masih berada di samping Ben walaupun masih ada beberapa orang lagi di sekitar mereka. 


Una menyentuh punggung Ben, "Hey, sayang. Kenapa lama?" tanyanya. 


"Kalau lama kenapa enggak disamperin, malah asyik hahahihi sambil mabuk," batin Una. Ia lalu kembali memeluk lengan Ben dan mengambil gelas yamg dipegangnya. "Sudah cukup minumnya ya." 


Ben tersenyum, Una berbisik, "Aku mau pulang." Ben mengangguk, lalu mohon diri pada Lena dan beberapa rekan mereka. 


"Buru-buru sih, masih lanjut loh. Aku sudah siapkan banyak stok ini," Lena menggerakan gelas berisi alkohol. 


"Aku enggak bisa banyak minum sekarang, harus jadi contoh yang baik untuk anak-anakku." 


"Anak berapa Ben?" tanya rekan yang lain. 


"Tiga, ini mau nambah lagi," ucap Ben sambil mengerlingkan matanya ke pada Una. 


Setelah pamit pada rekan-rekannya Ben memeluk pinggang Una meninggalkan tempat acara. Tidak jauh dari pintu keluar Una melihat pria yang tadi mengganggunya melihat ke arah mereka.


"Abang," panggil Una yang kepalanya bersandar pada bahu Ben. Berada pada mobil yang membawa mereka pulang.


"Hmm," Ben mengusap lembut kepala Una. "Kenapa?" tanya Ben. "Teman Abang tadi ada kerja sama dengan perusahaan?"


"Siapa? Lena?"


Una mengangguk, "Iya, kerjasama baru. Kenapa ? Cemburu?" Una tidak menjawab. "Tenang saja sayang, kamu sudah merubah duniaku. Aku tidak akan berpaling," ucap Ben sambil mencium kening Una.


Bukan Lena sang mantan Ben yang dikhawatirkan Una, tapi rekan pria yang punya tatapan mesum pada Una.


Sesampai mereka di rumah, Una mengecek keadaan anak-anaknya. Membetulkan posisi selimut Nessa, menyimpan ponsel yang masih digenggam Nevan dan meletakan buku yang dibaca Dewa lalu ketiduran.


Una mengganti gaunnya dengan piyama tidur dan berbaring di sisi Ben yang sudah mulai mengantuk. "Sayang, kamu sudah tidur?"


"Hampir," jawab Ben. "Besok kita ke Bandung ya, Dewa sudah kangen ibunya," ajak Una.


"Hmm," Ben memeluk Una dari samping dan membenamkan wajahnya diceruk leher Una dan tertidur.


Esok hari menjelang siang, keluarga Ben siap berangkat menuju Bandung. Selain memang akan menjenguk orang tua Aruna, juga mengantarkan Dewa bertemu Ibunya.


Dua mobil sudah siap berangkat, MPV premium yang membawa anak-anak dan kedua baby sitter serta SUV yang membawa Una, Ben serta Reza yang bertugas seperti Leo.


"Mamih, aku mau di depan," rengek Nessa. "Di belakang, sayang. Kak Dewa yang di depan ya."


Ben menarik tangan Una agar segera masuk ke dalam mobil, saat mobil lainnya sudah melewati gerbang rumah mereka.


Dalam perjalanan Una lebih banyak diam, Ben yang terbiasa dengan celoteh dan keluhan Una bahkan kadang protes terhadap banyak hal merasa aneh dengan diamnya Una. Bahkan kini istri tercintanya terlihat terlelap dibahunya.


Di tengah perjalan, "Pak, mobil di depan mau berhenti di reat area terdekat, katanya anak-anak mau ke toilet," ucap Reza saat menerina telpon dari mobil yang membawa anak-anak.


"Oke, kita ikut berhenti. Nanti kamu bantu pantau anak-anak," titah Ben pada Reza.


Memasuki rest area, kedua mobil sudah terparkir. Si kembar berjalan terburu-buru sambil menarik lengan para baby sitternya.


"Sayang, mau turun?" tanya Ben menepuk pipi Una. Una mengerjap, "Sudah sampai?"


"Belum, anak-anak ke toilet." Una pun akhirnya menyusul anak-anak. Sedangkan Ben memilih duduk pada kursi dengan meja bulat di depan mini market.


Ben menenggak isi botol air mineralnya dan membuka ponselnya sambil menunggu anak-anak. Tanpa di duga, ada sebuah mobil mewah lain parkir tepat disebelah mobil Ben.


"Ben," panggil seorang wanita yang baru saja turun dari mobil. Ben yang saat itu mengenakan kaos putih lengan pendek yang pas di badan serta celana chinos berwarna cream membuatnya terlihat menawan.


"Aku tidak menyangka kita bertemu lagi." Ucap Lena sambil duduk di sebelah kursi yang ditempati Ben, Gema asisten Lena pun ikut turun dari mobil. Ia melihat sekeliling berharap menemukan wanita yang semalam datang bersama Ben.


"Kalian mau ke mana?" tanya Ben sambil melipat kedua tangan di dada.


"Aku ada usaha di daerah Lembang, dua minggu sekali pasti ke sana." Ben mengangguk mendengar penjelasan Lena.


"Kamu sendiri?" Ben tertawa, "semua anggota keluarga 'ku diboyong semua."


Tidak lama datanglah Una dan rombongannya, "Aku maunya rasa strawberry," jerit Nessa.


"Coklat, Mih," ujar Nevan. "Kalian pilih sendiri di minimarket," ucap Una. Una yang saat itu mengenakan celana kulot salur pendek dan kaos hitam. Terkejut melihat Lena ada di sana dan pria yang semalam, sedang bersandar pada mobil dengan rokok terselip di antara jari tangannya.


Melihat ke arah Una dan memindainya, senyum simpul terbit di bibir pria itu membuat Una bergegas menghampiri Ben.


"Hai, Aruna. Kita bertemu lagi," ucap Lena.


Una mengangguk, "Kalian sebenarnya mau ke mana?" tanya Lena.


"Menjenguk mertuaku," jawab Ben. Una menghampiri anak-anaknya yang sedang menikmati ice cream, duduk pada kursi agak jauh dari Ben.


"Ayo cepat dihabiskan, kita jalan lagi," ucap Una pada anak-anaknya. "Mih, kita langsung ke rumah kakek?" tanya Dewa.


"Iya."


Una kembali mengatur posisi duduk anak-anaknya, "Jangan nakal, dengar apa kata Mbak ya." Pesan Una pada anak-anaknya. Lalu mobil pun berangkat kembali.


Una merogoh sakunya mencari ponsel, "Perasaan tadi ada," ucap Una.


"Cari ini?" tanya Gema sambil memperlihatkan sebuah ponsel. "Tadi jatuh saat kamu gendong bocah imut sama imutnya dengan kamu."


Una menerima ponsel yang disodorkan oleh Gema, "Terima kasih," ucap Una.


"Jangan sungkan, aku sudah menyimpan kontakmu. Kita bisa lanjut komunikasi nanti," ucap Gema lalu berjalan meninggalkan Una.


Una tidak menyangka dengan ucapan yang baru saja didengarnya, ia kesal lalu masuk ke dalam mobil. "Sudah tau aku punya suami, masih aja berani menggoda," ucap Una dalam hati.


"Pak, panggil Pak Ben, saya malas ke sana," titah Una pada supirnya.


to be continue


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖