Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Rahasia antara Ben dan Clara



Sungguh hari ini Una tidak ada semangat untuk melakukan aktifitas, moodnya terjun bebas saat membaca pesan yang ia terima. Bahkan untuk menghubungi Ben pun ia malas.


Seharian Una hanya bermalas-malasan, untuk makan ia pesan online. Namun sebelum tidur hatinya semakin gelisah, mengambil ponsel untuk menghubungi Ben. Beberapa kali memanggil namun tidak aktif.


"Aku kirim pesan ke kak Ilham aja," Una mengirim pesan kepada Ilham.


5 menit


10 menit


15 menit


Una menguap karena kantuk yang menyerang, merebahkan diri di ranjang, "Kenapa sih hari ini pada nyebelin banget." Mengelus perut buncitnya, emosi membuat perutnya tegang, gerakan-gerakan halus terasa di dalam perut.


"Kalian ngantuk ya, kita tidur yuk." Akhirnya, Una tertidur dengan perasaan kecewa. Kecewa karena Ben tidak ada menghubungi juga kecewa karena pesan tidak bertanggung jawab seakan tidak ingin melihat Una bahagia dengan Ben.


Keesokan hari di tempat yang berbeda, Ben bangun dari tidurnya. Dengan kepala yang terasa berat ia membuka perlahan matanya, memindai ruangan tempatnya berada.


Kamar hotel, Ben mengingat bahwa saat ini ia sedang berada di Surabaya. Mengecek kantor cabang dan pertemuan dengan relasi bisnis mengharuskan ia terpisah dengan istrinya.


Memijat dahinya karena rasa pusing dan Ben sangat terkejut mendapati dirinya polos tanpa mengenakan apapun di balik selimut. Biasanya ia terbangun dengan keadaan begini setelah menghabiskan kegiatan ranjangnya dengan Una.


Ben lebih terkejut lagi ketika menyadari ada orang lain yang terlelap disisinya dengan kondisi yang sama yaitu polos dan dia adalah seorang wanita. Walaupun wajah wanita itu tertutup rambut, Ben sangat mengenal sosok itu karena ada kisah di masa lalu dengan wanita itu. Yup, Clara.


Sakit dikepalanya masih terasa saat Ben memaksa mengingat kejadian kemarin. Ia merasa menjadi orang paling brengsek. Aruna yang sedang hamil menunggunya, tapi ia disini terbangun bersama seorang wanita.


Tidak mungkin Ben membayangkan tidak ada yang terjadi dengan mereka berdua, jika saat ini dirinya sudah dalam keadaan naked dan sakit kepala ini apakah karena alkohol.


"God damn it. Ben, apa yang telah kau lakukan." Ben bermonolog dan mengusap kasar wajahnya. Segera ia bangkit dan mencari pakaiannya yang ternyata tercecer di lantai, mengenakannya dengan segera.


"Ponsel, dimana ponsel ku."


Ben mencari ponselnya dengan sedikit kegaduhan dan menyebabkan Clara terbangun.


"Hmm," Clara meregangkan tubuhnya lalu menguap. Ia bangun lalu duduk membenarkan posisi selimut di tubuhnya.


"Ben, ini masih pagi sayang. Kamu cari apa sih ?"


"Can you shut that damn mouth."


"Oh my god, Ben. Mulutmu kasar sekali."


"Aku enggak ngerti Clara, kenapa kita berdua terbangun dengan kondisi seperti ini."


"Kenapa? Kamu tanya kenapa?" Clara menatap tajam pada Ben. "Jangan bilang kalau kamu enggak ingat apa yang terjadi semalam. Kamu memang minum dan mabuk tapi bukan berarti kamu bisa lupa ya."


"Tidak ada yang terjadi dengan kita, semalam kalaupun kita mabuk maka kita hanya tidur."


"Lalu bagaimana dengan tubuh kita, kamu pikir apa tujuan kita menel*njangi diri. Kamu pria dewasa Ben, sudah terbayang kita telah melakukan apa."


Clara melepas selimut yang menutupi tubuhnya lalu berjalan menghampiri Ben. "Kamu memang petualang sejati Ben, tetap luar biasa seperti dulu. Apa yang kita lakukan semalam seakan menjadi pelepas dahagaku akan sentuhanmu." Clara menyentuh dada Ben, mengelusnya sampai ke perut Ben.


Tapi Ben menghentikan tangan Clara yang sedang menelusuri tubuh Ben.


"Get the hell outta here!"


"Ben!"


"Aku serius Clara, kenakan pakaianmu dan keluar dari sini." Ben berkata dengan nada tinggi, bahkan selama mengenalnya Clara tidak pernah melihat Ben semarah ini.


'Kau lihat saja Ben, tidak lama lagi kau akan meninggalkan Aruna atau Aruna yang akan meninggalkanmu,' ucap Clara dalam hati sambil senyum sinis.


Setelah kepergian Clara, Ben menghubungi Ilham.


"Halo Bos."


"Siapa yang mengawasi Clara, aku ingin bertemu sekarang."


"Baik Bos."


"Semalam? Maaf bos, tapi setelah makan siang saya kembali ke cabang oleh bos."


"Cari tau apa yang terjadi padaku kemarin. Kroscek semua lewat cctv dan jaringan."


"Baik bos."


Setelah menghubungi Ilham, Ben menghubungi Una namun kontak Una tidak aktif. Ben menyugar rambutnya, membayangkan apa yang ia lakukan dengan Clara, "Arghhh."


Entah kejadian semalam real karena situasi atau jebakan dari Clara, yang pasti Clara akan memanfaatkan kejadian ini untuk mengganggu hubungan Ben dan Aruna.


Ben menatap foto Aruna di ponselnya, "Maafkan aku Aruna."


Tidak jauh beda dengan Ben, Aruna saat ini sedang tidak baik. Kemarin, seharian Ben tidak dapat dihubungi membuat hati Una sangat gelisah, kecewa dan curiga. Memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya karena ingin mendamaikan hatinya, cukup menunggu sampai Ben tiba di Jakarta.


Hari ini Una menemui orangtuanya yang berada di rumah Huda, "Ayah sama Ibu kenapa enggak yang lama gitu tinggal di Jakarta. Aku masih kangen, kita belum pergi bareng udah mau pulang aja."


"Kasihan Devi Na, dia sama suaminya kerja. Anaknya kan biasa sama Ibu."


"Suamimu kapan pulang ke Jakarta?" tanya Syamsul.


"Paling cepat besok, tapi tergantung situasi. Kadang malah lebih lama."


"Asal jangan enggak pulang-pulang ya Na," ujar Rena menggoda Una.


"Hati-hati Na, nanti Ben kepincut cewek di sana loh," ejek Huda.


"Ih apaan sih kak, jangan dong. Ben cuma milik aku."


"Bucin," sahut Huda.


Una sudah kembali ke apartement diantar Leo, ia masih belum mengaktifkan ponselnya. Bahkan Leo sudah mengingatkan bahwa Ben berkali-kali menghubunginya minta Aruna mengaktifkan ponselnya.


"Pesan Pak Ben, besok beliau pulang ke Jakarta," ucap Leo.


"Hmm."


"Apa Nyonya hendak jemput di bandara?"


"Enggak. Kalau bos mu tanya lagi masalah ponsel, jawab aja ponsel aku rusak."


***


Ben dan Ilham sudah tiba di Jakarta, dijemput oleh supir menuju kantor.


Sesungguhnya Ben sangat rindu pada Una, namun ia seakan tidak ada nyali untuk bertemu dengan istrinya karena diliputi rasa bersalah. Merasa telah menyakiti persaan Una karena melanggar kesetiaan.


Menyibukkan diri dengan laporan di mejanya, agar sedikit melupakan rasa bersalah. Laporan dari orang yang mengawasi Clara nihil informasi, karena saat malam kejadian orang yang mengawasi Clara tertinggal jejak setelah makan siang.


"Enggak langsung pulang? Kirain udah kangen istri, eh malah mampir ke kantor."


Ben berdecak mendengar ucapan Bian, "Janji temu dengan Clara gagal ya, orangnya enggak datang," ujar Bian.


"Orangnya datang ke Surabaya."


"Serius," tanya Alan.


"Iya seriuslah."


"Berarti benar dong, kalau masalah kerjasama itu cuma alasan aja."


Una akhirnya mengaktifkan ponsel, banyak panggilan dari Ben juga beberapa pesan masuk. Tapi yang menarik perhatiannya adalah pesan dari nomor tidak dikenal yang mengajaknya bertemu karena ada informasi terkait Ben.


_____________


Hai,,, jangan lupa jejak cintanya ya ☺, bisa like, vote, koment dll.


Tunggu kelanjutannya yak