Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Emosi Arabela



"Perempuan itu siapa Kak ?"


"Calon istri aku," jawab Ben kembali fokus pada berkas di mejanya.


"Kak Ben bercanda kan ?"


"Kapan aku pernah bercanda sama kamu? Ara sebaiknya kamu kembali ke Singapur temui Ibu!"


"Tidak, jangan ikut campur urusan aku dengan Ibu."


"Begitu pun denganku, jangan ikut campur urusan pribadiku, berhenti datang ke sini dan bersikap manja."


Ara menghentakkan kakinya karena kesal lalu meninggalkan ruangan Ben. Saat berjalan di lobby ia melihat Aruna duduk di salah satu sofa.


"Kamu Aruna ?"


Aruna mendongak, lalu berdiri saat melihat wanita yang tadi masuk ke ruangan Ben berbicara dengannya. "Iya mbak."


"Jangan kepedean ya kamu, kamu enggak pantas untuk kak Ben."


Aruna yang memang sudah lelah ingin segera pulang namun masih menunggu Leo yang menemui Bian, akhirnya menunggu di Lobby dan bertemu Ara. Apalagi kalimat yang dikeluarkan gadis itu membuat Una tersulut emosi.


"Kalau hanya mendekati Ben untuk materi sebaiknya kamu hentikan dan cari sugar daddy lainnya."


Una menghela nafas, "Masalah pantas dan tidak pantas bukan berdasarkan penilaian anda dan maaf aku bukan sugar baby nya Om Ben tapi calon istrinya. Sepertinya anda harus cari tau bagaimana perjuangan Om Ben mencari dan mendapatkan aku." Una melipat kedua tangannya sambil mengeluarkan kalimat-kalimat dengan nada sombong.


Ara mengepalkan kedua tangannya, lalu tangan kanannya terangkat ingin menampar Una. Tapi saat akan mengenai pipi Una, tangan itu dicekal oleh seseorang.


"Jangan sembarangan menggunakan anggota tubuh anda untuk melakukan kekerasan sebaiknya hentikan niat buruk yang ada di otak anda," ucap Leo sambil menghempaskan tangan Ara lalu mempersilahkan Una berjalan menuju basement.


Bukan tanpa alasan Leo mengatakan hal tersebut, pembicaraannya dengan Bian juga Ilham barusan adalah mengenai gadis yang tadi berseteru dengan Aruna.


"Bang Leo, kenal dengan perempuan tadi ?"


Leo hanya menggeleng, sambil perlahan mengemudikan mobil karena jalanan mulai padat.


Una menikmati makan malam yang ia pesan lewat online di kamarnya. Harapan ingin menyampaikan kehamilannya pada Ben gagal karena Ara.


Ponsel Una bergetar.


"Halo."


"Kamu di mana sayang?"


"Di kamar."


"Ck, kenapa tidak tunggu aku."


"Om Ben kelihatannya sibuk. Aku enggak mau ganggu."


"Tapi aku rindu Na, aku jemput ya."


"Aku lelah om, sudah ngantuk."


Ben menghela nafas.


"Tidurlah!"


Lalu Ben mengakhiri panggilan.


Sikap Ben membuat Una semakin ragu, ia yang berharap Ben akan mengerti bahwa saat ini Una cemburu dan kecewa pada Ben.


Aruna hanya menggulung-gulung spagethi menggunakan garpu di hadapannya. Ia yang sedang makan siang bersama Ben di salah satu resto.


"Aruna!" panggil Ben, yang sudah meletakan alat makannya.


Aruna menoleh dengan wajah datar.


"Habiskan makanmu!"


"Aku mual om," jawab Aruna.


Ben menghela nafas, "Aruna, aku segera ingin kembali ke Jakarta, salah satu alasannya adalah kamu. Tapi dari kemarin sikap kamu ini seperti anak ABG sedang merajuk."


"Emang kenapa kalau aku merajuk sama Om, dari pada ke laki-laki lain."


Ben menghampiri Una, duduk di sebelahnya. Berada di VIP room jadi hanya mereka berdua yang ada di ruang itu.


"Kamu tau Na ?"


"Enggak."


"Ck, dari kemarin aku menahan."


"Menahan apa ?" tanya Una dengan wajah cemberut.


Merangkul bahu Una dan berbisik, "Manahan untuk tidak makan kamu, tapi kamu menggoda terus."


Una berusaha menggeser tubuh Ben, namun tubuh itu bergeming. "Apaan sih, siapa juga yang menggoda."


"Terus kamu kenapa ? Cemberut terus," ucap Ben.


"Perempuan kemarin siapa ? Kenapa dia bilang kangen sama Om, mana masuk enggak ketuk pintu dulu."


"Hmm." Ben tidak menjawab malah mengambil piringnya, menyendokan nasi dan kuah sup lalu menyuapkan pada Una.


Ben masih belum menjawab, kembali menyuapkan nasi kepada Una.


"Om!"


"Hm, menurut kamu siapa ?"


"Aku enggak tau, makanya bertanya."


"Namanya Ara, dia adikku."


Una mengerutkan dahi, 'Adik tapi kok __,' batin Una.


"Tidak usah pikir yang aneh-aneh, habiskan dulu." Ben terus menyuapkan makanan di piringnya pada Una. Sedangkan makanan Una dihabiskan oleh Ben.


"Nanti kamu turun di lobby, aku ada janji dengan klien. Pulangnya denganku, tunggu di ruangan." Perintah Ben sambil mengendarai mobil menuju kantor.


"Hmm."


Una melepas seat belt, saat ingin membuka pintu Ben meraih tengkuk Una, ******* bibir yang terasa manis dan menjadi candu bagi Ben.


"Tunggu aku."


"Iya."


Saat melewati pintu lobby, terdengar kegaduhan di meja resepsionis.


"Ara," ucap Una lalu mendekat ke meja resepsionis.


"Iya Mbak, tapi Pak Ben hanya berpesan tidak boleh ada yang ke ruangannya jika tidak ada janji."


"Jangan sembarangan kamu, mana mungkin aku mau ketemu Kak Ben harus buat janji."


"Tapi pesan Pak Ben seperti itu Mbak."


"Kalian lihat ya, aku akan minta Kak Ben pecat kalian, karena sudah mempersulit aku."


"Nona Ara!" panggil Una.


Arabela yang merasa namanya dipanggil menoleh pada Una, begitu pula dua orang resepsionis.


"Pak Ben tidak ada di ruangan, beliau ada janji dengan klien," tutur Una.


"Kamu jangan sok kecantikan, aku tidak perlu info dari kamu, kak Ben ada di ruangannya kalian saja yang sengaja menghalangi aku." Ara menekan telunjuknya di dahi Una.


"Nona Ara, kami berusaha sopan tapi kalau tamunya bersikap kurang ajar seperti anda kami berhak mengusir," sahut Una.


"Berani kamu ya."


Plakk


Ara menampar pipi kiri Una, Vanya salah satu resepsionis mendekat pada Una.


"Mbak Aruna."


"Security!" teriak Rida.


"Hey, apa maksud kalian memanggil security." Ara berteriak.


"Silahkan anda keluar sendiri atau dengan cara kasar," ucap Una. Dua orang security yang mana salah satunya adalah Huda berjalan menuju arah keributan, beberapa karyawan juga terpaku melihat dari kejauhan.


Merasa terdesak Ara berteriak, "Brengsekk, awas kamu ya." Ara meraih vas bunga di meja resepsionis lalu dilemparkan ke arah Una. Terasa benda itu menyentuh dahi Una dengan kencang. Prankkk, vas tersebut terjatuh di lantai bersamaan dengan suara teriakan.


"Aaaa".


"Mbak Aruna."


"Una," panggil Huda.


Terasa seperti ada air mengalir di wajah ku dan sedikit rasa perih.


"Mbak Una, itu __"


Terlihat Kak Huda berjalan mendekat, Una mengusap dahinya. "Darah," ucap Una melihat darah dijemarinya.


Suara-suara makin ramai, antara teriakan Ara, Vanya, Kak Huda dan entah suara siapa. Kepala Una terasa sakit, pandangannya tiba-tiba tidak jelas dan tubuhnya lunglai namun dapat direngkuh Huda yang memang sudah berada di dekat Una.


Huda, Leo dan Vanya menunggu di depan IGD. Setelah menerima tamparan dari Ara dan vas bunga yang mendarat di dahi, Una pun tidak sadarkan diri.


"Keluarga Nona Aruna!" panggil dokter yang baru saja keluar dari IGD.


************


Adegannya Arabela ngamuk, terinspirasi dari pengalaman di tempat kerja author 🤣🤣 (Abaikan, tunggu saja kelanjutannya)


__________


Haiii,, seperti biasa ya, jangan lupa like, vote, hadiah dll


😉


lanjut silaturahmi \=\=>ig : dtyas_dtyas