
Ben menurunkan resleting dress Una, melepasnya dan tampak tubuh Una yang terlihat sangat seksi dan menggoda dengan perut buncitnya.
"Wow, so sexy," bisik Ben sambil tersenyum penuh arti.
"Kemarilah," Ben menuntun Una berbaring di ranjang seakan Una adalah pesakitan yang harus dipapah.
Una berbaring miring dengan tubuh hanya mengenakan pakaian dalam, menarik selimut untuk menutupi bentuk tubuh yang terekspos. Ben yang berada disisinya menatap dengan senyum.
"Enggak usah ditutupi," Ben menyibakkan selimut. "Dinginlah Bang."
"Kamu sering mengeluh gerah, AC enggak berasa sekarang mau selimutan. Alasan," ucap Ben.
Pasangan itu berbaring berhadapan sambil menatap, Ben menyelipkan rambut yang jatuh ke dahi Una ke telinga. "Aku enggak sanggup kalau harus drama seperti dua hari ini."
"Kenapa ? Idenya siapa sih?"
"Enggak bisa kalau harus cuekin kamu sayang, tidur tanpa meluk kamu. Cukup kemarin saja. Aku lupa ide siapa, yang jelas hasil rapat." Ben berbicara tanpa mengalihkan pandangannya pada Una.
"Rapat? Ide hari ini hasil rapat?"
"Hmm."
"Tapi Bang, kalau aku sudah melahirkan pasti enggak bisa barengan begini."
"Hahhh, itu kita pikirkan nanti. Sekarang ada yang lebih penting." Ben merengkuh tubuh Una dan mendekapnya. Perlahan salah satu tangan menelusuri punggung halus milik Una dan melelas kaitan tali bra. "Ehhh." Setelah terlepas, Ben asyik bermain di kedua bukit yang saat ini bentuknya lebih besar dari biasanya.
Una memejamkan mata dan mulutnya mendesis merasakan sesapan dan ******* yang dilakukan oleh Ben. Sedangkan tangannya sudah berusaha untuk memegang kepala Ben dan meremas rambutnya.
Ben melepaskan pakaiannya juga menurunkan penutup segita Una dan mendekatinya, berbaring di belakang tubuh Una serta memeluk tubuh yang saat ini terlihat lebih menggoda. Dengan posisi tersebut Ben menyatukan tubuhnya, bergerak perlahan agar mereka mendapatkan sensasi nikmat. Erangan keluar dari mulut mereka, tangan kanan Ben terus bergerilya di dada Una.
Sampai akhirnya Una mencapai puncak dan melepaskannya, Ben kembali bergerak pelan dan dalam sampai ia mengejang karena tiba pada tujuannya.
Dengan terengah ia melepaskan tubuhnya dari tubuh Una. Memeluk wanita itu dari belakang, tubuh Una sedikit basah karena berkeringat. Menempelkan dahi pada pundak Una. "I love you, really really love you." Una hanya diam tanpa menjawab karena masih mengatur nafasnya.
Menarik selimut dan menutupi tubuh keduanya yang masih polos. "Istirahatlah, kita lanjut besok pagi. Kamu perlu jeda untuk istirahat."
Una hanya mengangguk lalu ia masuk ke alam mimpi. Semenjak hamil ia lebih mudah terlelap, apalagi saat ini dengan posisi Ben dibelakangnya dan memeluk Una membuatnya merasa sangat nyaman.
Sesuai ucapan Ben, ia akan melanjutkan esok. Saat terbangun dengan tubuh yang masih polos kini Ben sudah mengukung Una, menggerayanginya hingga pemikik tubuh itu membuka matanya. Lenguuhan keluar dari mulut Una karena Ben menyentuh area-area senaitif Una, "Bangun sayang, kita ganti posisi."
Menuntun Una agar berada di atasnya, dengan posisi woman on top. Ben berusaha untuk tidak memberikan tekanan pada perut Una.
Menyatukan tubuh mereka perlahan, ternyata dengan posisi itu keduanya merasakan sensasi luar biasa. Entah berapa lama Una bergerak dengan tangan Ben bergantian mere mas bukit kembar Una kiri dan kanan. Sampai pada keduanya mengerang karena mencapai puncak kenikmatan.
Una kembali rebah di sisi Ben, "Ayah dan Ibu setelah sarapan mau cek out," ucap Ben sambil mengatur nafasnya.
"Mau langsung ke Bandung, kan masih pagi," ucap Una dengan tubuh miring berhadapan dengan Ben.
"Mau ke rumah Huda, katanya agak siangan baru pulang. Aku minta supir yang temani termasuk antar sampai Bandung."
Una hanya mengangguk, dan mendekatkan dirinya memeluk Ben posesif.
"Sepertinya kita harus sempatkan pulang ke Bandung, memastikan yang urus rumah. Nanti ada mobil standby di sana. Kamu masih bisa perjalanan ke Bandung Kan?"
"Bisalah Bang, kan baru mau masuk 7 bulan. Masih aman,"
"Hmm." Ben turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Terdengar suara gemericik air dari shower, Una malah menarik erat kembali selimutnya.
"Hmm, Abang ih."
Ben hanya terkekeh, "Bangun putri tidur, aku duluan ke bawah ya, enggak enak sama Ayah dan Ibu."
Una hanya mengangguk, "Aku masih ngantuk."
Saat Ben dan orangtua Una menikmati sarapan mereka, Una datang menghampiri. Mengenakan blouse hamil lengan pendek berwarna pink dan legging putih pendek selutut.
Duduk di sebelah Ben, "Ayah sama Ibu pulang sekarang?"
"Nanti siang Na, Ibu mau ke Huda sebelum pulang."
Setelah memastikan kepulangan orangtua Una, Ben kembali ke kamar.
Membereskan barang yang dibawa dan pakaian kotor mereka berdua.
"Abang, kita langsung belanja ya." Ben menghentikan aktifitasnya. "Belanja apa?"
"Belanja kebutuhan baby, sekalian barang-barang untuk kamar bayi." Ben mengiyakan permintaan Una.
Setelah puas berbelanja kebutuhan bayi mereka, Una dan Ben kembali ke apartemen. Barang-barang yang mereka beli diantar ke alamat rumah, rumah yang akan ditempati oleh keluarga kecil Ben Chandra.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Una berbaring diranjang. "Abang," ucapnya manja.
Ben yang sudah mandi lebih dahulu dan kini sedang duduk disofa memangku laptopnya melirik Una, "Kenapa ?"
Una memasang wajah cemberut dan mengusap kakinya, "Kaki aku sakit bang," ucapnya.
Ben menutup laptopnya dan menghampiri Una, duduk disebelah wanita dengan pipi chubby. Memijat pelan kaki Una, "Yang tadi ngeyel mau muter-muter belanja, siapa ? Kan aku bilang pakai katalog saja."
"Oh, jadi ini salah aku. Emang aku hamil anak siapa? Anak nyamuk?"
Ben hanya tersenyum melihat Una yang merajuk, "Ya sudah aku pijat, mana lagi. Ini mau dipijat juga?" Ben menggoda Una dengan menyentuh dadanya.
"Enggak ada ya, badan aku rasanya masih pegel."
Ben terkekeh, "Makanya kamu jangan capek-capek, karena nanti harus sering menjenguk biar cepat lahir," ujar Ben.
Di tempat berbeda, pasangan yang juga sedang berbahagia menyiapkan pernikahan mereka. Setelah mempertemukan kedua keluarga, akhirnya diputuskan tanggal mereka akan meresmikan diri menjadi suami istri.
Alan dan Clara sedang mendata tamu undangan, "Apa Ben dan Aruna akan diundang?" tanya Clara. Alan yang sedang membaca ulang daftar tamu undangan menjawab, "Jelas dong," ucap Alan. 'Ben harus lihat kalau gue akhirnya bisa dapatkan Clara,' batin Alan. "Ya iyalah," ujar Clara. 'Una harus lihat kalau Alan juga bisa jadi suami idaman bukan cuma ganteng doang,' batin Clara.
Pasangan yang unik memang, ada saja yang membuat kedua orang ini berdebat, mulai dari tamu undangan, konsep pernikahan, sampai menu catering.
Suara bel apartemen Alan berbunyi, ia pun bergegas menuju pintu untuk membukanya. Betapa terkejutnya Alan melihat ketiga orang yang berada di depan pintu apartemennya. "Siapa sayang?" tanya Clara lalu menghampiri Alan
"Ayah, Bunda," ucap Alan.
"Papih," ujar Clara.
__________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖