Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Arini I'm In Love



Blurb


Arini Septha (22 tahun) mahasiswa psikologi tingkat akhir yang sedang magang di sebuah sekolah, harus menangani siswa berkarakter khusus. Salah satu siswa tersebut adalah Cakra Kananta Candra. Siswa yang sering mendapat konsultasi dari Guru BK karena ulah dan kenakalannya.


Bukan hanya kenakalan di sekolah, tapi Cakra juga terlibat dengan Geng Motor. Kondisi keluarga yang membuat Cakra berulah seakan tidak memikirkan masa depan. Namun, pertemuannya dengan Arini membuka pandanganya dalam menjalani hidup.


Kembali harus kecewa karena Arini pergi di saat hatinya mulai tertata dan ada campur tangan Ayahnya dalam kepergian Arini.


Bagaimana kisah Arini dan Cakra selanjutnya? Apakah mereka akan berakhir bahagia?



Penggalan Bab


“Ayo cepat, kalian ini kerjanya berulah saja. Mau jadi apa hah?” tanya Yusron


“Pahlawan super, pak,” gumam Iqbal tapi masih bisa didengar oleh Yusron dan Arini.


“Diam, menjawab saja,” hardik Pak Yusron.


“Lah gimana ceritanya, tadi nanya dijawab salah,” ujar Ucup. Arini bahkan tersenyum mendengar perdebatan Yusron dan siswa. “Eh, ada guru baru nih.”


“Sudahlah, ayo kita mulai.” Pak Yusron duduk di meja depan diikuti oleh Arini. “Kalian sudah tahu ya, tujuan kalian dipanggil dan dikumpulkan. Yang mana lagi-lagi saya harus melakukan bimbingan karena ulah kenakalan kalian. Hati-hati, karena diantara kalian ada poin yang semakin menipis dan konsekuensi ketika poin sudah habis atau minus karena berulah maka kalian bisa dikeluarkan dari sekolah ini.”


“Boleh top up poin nggak pak?” tanya Kama.


Tentu saja pertanyaan tersebut membuat teman-temannya bersorak bahkan mendukung usulan tersebut.


“Diam, ini sekolah bukan pasar.”


“Yang bilang pasar ‘kan Bapak, bukan kita,” sahut Ucup.


Arini hanya menggelengkan kepala, melihat interaksi antara siswa-siswa tersebut dengan ketua BK yaitu Pak Yusron. Padahal Pak Yusron terlihat sudah cukup berumur dengan penampilan cukup tegas tapi ternyata tidak membuat takut para siswa, artinya dia harus memikirkan ide lain untuk membuat para siswa itu serius dan mendengarkan.


“Tunggu dulu, sepertinya ada yang kurang.” Pak Yusron membaca daftar nama dan memperhatikan satu persatu wajah siswa yang sudah hadir. “Lah, Cakra tidak ada. Ke mana si Cakra?”


“Di sini, Pak.”


Semua atensi beralih ke pintu di mana seorang siswa yang santainya memasuki ruangan dan duduk di salah satu kursi.


“Terlambat lagi?”


“Nggaklah Pak, masa tiap hari saya harus terlambat. Malas pula ketemu Bapak terus, saya datang lebih awal tapi ketiduran di kelas.”


“Sama saja Cakra, raga kamu di sekolah tapi jiwa kamu mengembara jadinya ya seperti ini.”


Cakra tidak terlalu fokus pada ocehan Pak Yusron yang mulai membahas mengenai tawuran yang mereka lakukan. Namun, dia menatap perempuan yang duduk di samping Pak Yusron.


Dia bukannya perempuan yang kemarin? Ternyata guru baru, tapi kelihatan masih muda banget. Nggak cocok jadi guru, cocoknya jadi sugar baby, batin Cakra sambil tersenyum sinis.


Belum mengalihkan pandangannya dari Arini yang kemudian tatapan mereka bertemu. Bukannya mengelak pandangan, Cakra malah balas menatap Arini membuat perempuan itu mengernyitkan dahinya.