Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Mom's wanna be



"Kak Ben, aku bosan begini terus. Bisa berikan aku pekerjaan? sekretaris atau asistenmu juga tidak apa."


Una tersedak mendengar permintaan Arabela pada Ben, kini ia menoleh kesal pada Ben. "Pelan-pelan makannya," ucap Ben sambil menyodorkan gelas berisi air ke hadapan Una.


Una meneguk isi gelas, bahkan hampir habis. "Abang sudah punya sekretaris dan asistennya sudah banyak, jadi dia enggak butuh kamu," jawab Una.


Ben menyuapkan makanannya, dalam hati ia bersorak karena Una bereaksi karena cemburu atas tingkah Arabela.


"Enggak masalah dong, cuma nambah aku sebagai asistennya. Pastinya, perusahaan itu masih sanggup kok menggaji aku," sahut Arabela.


"Kalau begitu kenapa harus jadi asisten Suamiku, kamu bisa cari posisi lain," ucap Una.


"Terserah aku dong, itu perusahaan Kakakku," pekik Arabela. Dean menatap kedua wanita yang sedang berdebat.


Sedangkan Ben, ia menggenggam tangan Una yang sedang menggenggam sendok, sorot mata pria itu seakan mengatakan, "Cukup Aruna."


Dean berdehem, "Yang Aruna katakan itu benar, kalau kamu memang bosan dan ingin bekerja kenapa harus di perusahaan milik Ben, atau memang kamu ada niat lain ya" ucapnya.


"Diam, enggak usah ikut campur. Ini urusan ku, urusan hidupku. Kamu siapa ? Berani mengatur hidupku. Suami bukan, pacar juga bukan," teriak Arabela.


Ben memijat dahinya melihat Arabela dan Dean berdebat. Sedang Una bertopang dagu dengan tangan kanannya.


"Wajar dong aku ikut campur, kita kan sudah ....." Dean tidak melanjutkan kalimatnya, dia meraih gelas dihadapannya menenggak seluruh isinya.


"Kak Ben, boleh aku tinggal disini, rumahmu besar. Ada orang selalu menggangguku sampai datang ke apartement," rengek Arabela.


Sungguh selera Una untuk makan hilang kemana, dengan kehadiran dan Arabela dan rengekannya pada Ben.


"Boleh saja, semua yang tinggal di sini punya fungsi masing-masing. Contoh Leo dan Firda jelas tugas mereka melindungi aku, asisten rumah tangga, dan security semua jelas keberadaannya. Kalau kamu nanti sebagai apa?" tanya Una.


"Yah sebagai adiknya Kak Ben."


"Disini tidak ada posisi adiknya Ben, tidak jelas tugasnya," ucap Una dengan menatap Arabela.


"Kamu sendiri, apa tugasmu di rumah ini?"


"Yah banyaklah, sebagai istri dari Ben banyak sekali tugasku. Seperti sekarang aku mengandung anak-anak Ben, menyemangati agar tetap semangat cari cuan, melayaninya termasuk memuaskannya diranjang. Cuma aku yang bisa lakukan itu, jadi kamu jangan coba-coba mendekat," tutur Una.


Firda dan Leo yang berada tidak jauh dari meja makan terbahak mendengar penuturan Aruna, Ben hanya menggelengkan kepalanya.


"Astaga," ucap Dean, "sebenarnya cukup mengatakan tidak boleh, ini malah berdebat tidak jelas."


"Kalau itu sih aku juga bisa," celetuk Arabela.


"Kamu __"


"Aruna, sudahlah," ujar Ben.


Una menghela nafasnya lalu perlahan berdiri, "Aku sudah kenyang."


Dean menatap kepergian Una dari ruangan tersebut lalu menoleh pada Arabela.


"Masih ada yang ingin kalian sampaikan?" tanya Ben sambil melipat kedua tangannya di dada."


"Tidak ada," jawab Arabela.


"Maka berhentilah, aku tau maksudmu. Aruna istriku dan aku mencintainya," ucap Ben.


"Dan kamu Dean, apa tujuan mu ke Jakarta?" Dean hanya mengedikkan bahu. "Kalau bukan karena kita bersaudara, sudah pasti aku minta orang culik kamu terus tinggalkan kamu di Timbuktu."


"Kalian itu bukan cuma bikin masalah di perusahaan, tapi juga di rumah tangga saya dan Aruna," ucap Ben.


"Jadi, kita diusir nih?" tanya Dean.


Dean menatap pada Arabela, "Apa? Enggak usah melotot begitu, aku emang udah cantik. Cantik dari lahir," tutur Arabela sambil beranjak pergi. Dean mengekor pada Arabela, saat melewati Leo, "Hoho, jangan galak-galak bos, saya bakal sering kesini."


"Mudah-mudahan aja gue sabar, karena udah gatel pengen nonjok. Tangan gue tuh udah tau mana orang yang rese dan punya niat jahat," tutur Leo.


Dean hanya terbahak dan berlari menyusul Arabela.


"Mau ngapain sih?" tanya Arabela saat Dean ikut masuk ke mobilnya. "Pulanglah masa tidur, kecuali kamu yang ngajakin ya aku sih senang aja," jawab Dean.


"Benar kata Kak Ben, sebenarnya mau kamu apa sih?"


Sementara itu di dalam kamar, Ben yang tidak menemukan Una bertanya pada Firda, "Kemana Aruna?"


"Loh, bukannya ke kamar ya pak. Tadi saya lihat masuk kamar, makanya tidak saya ikuti," jawab Firda.


Ketika Ben masuk kembali ke kamar berbarengan dengan Una yang keluar dari kamar calon bayi mereka lewat connection door yang ada di kamar, ia pun bernafas lega.


"Kirain lagi ngambek," ucap Ben, sambil berlalu ke kamar mandi sedangkan Una menuju walk in closet mengganti pakaian tidurnya.


"Kemari sayang," pinta Ben pada Una yang berbaring berjauhan dengan Ben, sedangkan Una diam saja.


"Aruna___,"


"Pokoknya aku enggak mau Abang jadikan Arabela sekretaris apalagi asisten," ucap Una cepat tanpa merubah posisinya saat ini, "dikasih uang tiap bulan tanpa bekerja pun Abang mampu kan?"


"Aku enggak mau ada bibit-bibit pelakor di rumah tangga kita," tambah Una.


Ben menghela nafasnya, "Iya, enggak akan sayang. Lagipula aku juga punya penilaian sendiri untuk standar orang yang bekerja di sekitar aku," Ben memeluk Una dari belakang.


Beberapa hari berlalu, kandungan Una sudah semakin membuat Una sesak karena semakin berat dan terasa kedua bayi yang menendang ulu hatinya. Serta lebih sering merasakan kontraksi palsu.


Hasil pemeriksaan dokter saat kontrol terakhir, dinyatakan lilitan tali pusar sudah terlepas pada salah satu bayi Una sudah terlepas. Kini tinggal menyiapkan mental Una menghadapi persalinan dan menjadi seorang Ibu.


Seperti saat ini, Ben yang masih terlelap sedangkan Una terbangun karena merasakan tidak nyaman diperutnya.


Una melangkah menuju kamar mandi, setelah duduk cukup lama pada closet namun tidak ada apa pun yang keluar bahkan rasa mulas dan tidak nyaman hilang entah kemana.


Huhhh, menarik nafas perlahan sambil menyandarkan punggungnya pada head board, mengelus perutnya mengajak kedua bayi yang mungkin sudah tidak sabar ingin segera melihat dunia.


"Shhhh," mulut Una mendesis halus menandakan nyeri yang dirasakan tubuhnya. Keringat halus bermunculan dikeningnya. Meraih gelas berisi air minum di atas nakas, menumpahkan semua isinya hingga berpindah pada perut melewati tenggorokan yang terasa kering.


Sampai dengan Ben terbangun, Una belum memejamkan matanya. "Hey, sudah bangun?" tanya Ben masih dengan suara serak khas bangun tidur.


Una hanya menjawab dengan senyum. "Aku mandi dulu, sayang," ucap Ben sambil mencium pipi Una.


Una hanya bisa menonton Ben yang keluar dari walk in closet. belum mengenakan dasi dan jasnya. "It's oke, aku saja yang pakai," ujar Ben sambil tersenyum memandang Una, "kamu pucat sayang, apa yang sakit? Kita ke dokter ya?" pertanyaan Ben beruntun lalu duduk disamping Una.


Una hanya menggelengkan kepalanya pelan, "Aku tidak antar ke depan ya, semalam sulit tidur sekarang malah ngantuk."


"Kenapa tidak bangunkan aku?"


"Abang, Sarapan dulu ya," titah Una sebelum ia berbaring miring dan memejamkan matanya. Ben mencium kening Una sebelum ia berangkat.


"Firda, kamu stand by. Aruna baru saja tertidur, temani dia. Jika ada tanda-tanda akan melahirkan bawa ke Rumah sakit nanti aku menyusul."


Namun yang wanita yang sedang dibicarakan dan dikhawatirkan kondisinya, saat ini sedang terlelap.


_______


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖